Senior dan tutor-tutor hukum lingkungan (di kampus dan luar kampus) selalu bilang begini kira-kira: “Hukum lingkungan itu bergerak sangat dinamis, dan karenanya membuka pengembangan doktrin-doktrin hukum kontemporer yang dipakai gak cuma di disiplin hukum lingkungan saja”. Konsep-konsep macam strict liability sampai pertanggungjawaban korporasi berkembang pada mulanya dalam konteks hukum lingkungan. Maka dari itu menceburkan diri kedalam disiplin ini memang begitu menantang sebetulnya. Gak cuma dituntut buat mengasah kemahiran berhukum untuk menjawab persoalan-persoalan hukum yang nyaris berkembang terus, tapi juga sense of justice, dan to some extent pengetahuan mendasar tentang ilmu lingkungan dan ekologi .
Continue reading “Hari Lingkungan Hidup dan Hal-hal yang Bermula Dari Hari Ini 46 Tahun Lalu”Tag: lingkungan hidup
Subak Bukan Cuma di Bali: Terasering di Salu Rante
Lanskap sawah bertingkat yang menghijau di lembah yang dikelilingi gunung dan perbukitan nan megah membuat mata saya seolah seperti mendapatkan detox dari “racun” lanskap perkotaan yang terasa sumpek dijejali oleh ribuan kendaraan yang meraung ditengah kemacetan serta gedung-gedung tinggi yang berhimpitan, menghalangi sudut pandang urban dwellers ke langit luas yang sejatinya membuka pikiran. Itu yang saya rasakan saat melewati Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo, Kab. Luwu Utara minggu lalu ketika menempuh perjalanan darat 2 hari 1 malam ke dataran tinggi Seko. Saat melihat lanskap yang luar biasa ini, saya tidak bisa tidak teringat pada Subak, sistem manajemen dan pengairan persawahan di Bali yang sudah masuk ke dalam daftar situs warisan dunia UNESCO yang dilindungi berdasarkan World Heritage Convention.

Jamal, pemuda adat Seko yang mengantar dan membantu pelaksanaan kegiatan selama saya di Seko, mengatakan bahwa modal persawahan bertingkat seperti ini sudah lama dipraktekkan oleh orang Rongkong (Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo memang masuk dalam wilayah adat Rongkong, yang saat ini juga masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Rongkong). Penasaran saya coba googling database dan menemukan dua publikasi di tahun 2006 dan 2011 tentang sistem “Subak” di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan oleh Dik Roth, peneliti dari Wagningen University:
- Which Order? Whose Order? Balinese Irrigation Management in Sulawesi, Indonesia
- The Subak in Diaspora: Balinese Farmers and the Subak in South Sulawesi

Roth berpendapat bahwa sistem persawahan a la Subak di Luwu dipengaruhi pula oleh migrasi orang-orang Bali ke Sulawesi (sukarela dan dan tidak) sejak zaman kolonial hingga periode transmigrasi era Orde Baru. Apapun itu, saya sih yakin pengetahuan tentang manajemen persawahan yang dibawa oleh para pendatang dari Bali bercampur dengan pengetahuan dan kearifan lokal warga di Luwu dan menghasilkan pengelolaan sawah yang khas Luwu. Yang paling penting: membuka jalan buat terciptanya lanskap yang luar biasa indah di dataran tinggi Luwu. Dan akhirnya saya cuma mau bilang kalau: Subak bukan cuma di Ubud, dan Indonesia bukan cuma Bali 🙂
Nusantara ini memang tanah yang kaya betul.
***
FYI, kemarin saya berkenalan dengan kawan baru yang ternyata asli Rongkong. Dia memberikan kabar kalau di titik saya ambil foto di Salu Rante ini telah terjadi longsor. Semoga bisa segera diatasi. Perjalanan ke Seko ketika tidak ada longsor saja sudah amat sangat berat (buat saya sih). Saya gak bisa bayangkan bagaimana perjalanan kalau ada titik longsor disana.
Memoar Cikalong Kulon: Tentang Kebersamaan di Kebon Benteng
Tentang kebun dan pekarangan yang luas,subur, dan rimbun di rumah saat tinggal di Cikalong Kulon 1990-1995
Saya punya cita-cita jadi petani. Awalnya saya cuma membayangkan bertani, tinggal di kaki gunung yang sejuk, hening, dan jauh dari hingar bingar kota adalah kemewahan paripurna. Lalu motivasi bertambah setelah lamat-lamat mengeja bioregionalisme. Memakan apa yang kita tanam dan menanam tidak lebih dari apa yang kita butuhkan adalah bagian dari kearifan pola hidup leluhur, dan penghormatan terhadap pola hidup berkelanjutan yang pernah ada dan diterapkan di sebuah wilayah adalah bagian dari penghayatan bioregionalisme. Saya belum bisa sampai pada level itu. Tapi merasakan pengalaman memakan apa yang terhampar di pekarangan rumah pernah saya rasakan saat tinggal di “Benteng” Pegadaian Cikalong Kulon, Cianjur tahun 1990-1995.
Seperti yang sebelumnya sudah saya ceritakan disini, saat bermukim di Cikalong Kulon, Cianjur, saya menempati rumah yang berada dalam lingkungan kantor Pegadaian Cabang Cikalong Kulon. Saya dan kedua adik saya menyebut tempat tinggal kami ini sebagai “benteng” karena posisinya yang terisolir dari dunia luar dengan tembok yang tinggi dan pagar besi di sisi depan dan belakang. Dalam “benteng” ini terdapat dua bangunan utama yang konon sudah berdiri sejak jaman Belanda dulu: rumah tua yang menjadi rumah dinas papah selaku kepala cabang Pegadaian; dan gedung kantor Pegadaian yang menempel dengan gudang besar tempat menyimpan barang gadaian, yang atap plafonnya ditinggali ribuan kelelawar. Ribuan kelelawar ini menghasilkan suara berderit sepanjang hari yang bagi kami penghuni benteng ini sudah seperti ambient noise yang tidak menggangu dan tanpanya malah ada yang aneh.

Selain dua bangunan ini, benteng juga dipenuhi oleh pohon-pohon besar dan semak-semak yang tumbuh subur mengelilingi bangunan utama. Kami menyebutnya “kebon”.Di kebon tumbuh beragam pohon buah dan sayuran. Ada pohon singkong, pohon pisang, pohon jambu air dan jambu biji, pohon nangka, pohon pepaya, pohon mangga, dan favorit saya: pohon Pete! Ada juga tanaman merambat yang belakangan saya tau daunnya merupakan bahan dasar pembuatan cincau. Hampir tiap Minggu tukang cincau datang ke kebon kami meminta izin memetik daun cincau untuk usahanya. Papah tidak pernah melarang mereka masuk kedalam komplek benteng dan mempersilahkan tukang cincau mengambil daun cincau sepuasnya. Toh mereka benar-benar hanya mengambil seperlunya. Tidak kemaruk mengambil semaunya. Biasanya tukang cincau itu selalu datang dengan membawakan kami sekantong besar cincau dengan gula manis cair yang kental.
Kebon juga kerap jadi tempat main saya dan teman-teman sepulang sekolah. Ada satu teman kami namanya Entis. Diantara kami dia yang paling jago memanjat pohon. Biasanya kami meminta Entis untuk naik ke atas pohon pepaya yang tinggi, mengambil pepaya muda dari situ untuk kemudian ngarujak alias bikin rujak petis pedas khas Sunda dengan pepaya muda sebagai sajian utamanya. Pepaya muda kami potong kecil-kecil lalu dicelupkan ke bumbu petis yang aduhai nikmatnya. Untuk urusan pembuatan sambal petis, si Entis ini juga jagonya. Kesamaan fonem petis dengan Entis kadang jadi bahan olok-olokan kami buat si Entis: Si entis tukang petis. Si Entis beuki petis (si Entis suka petis) 😀
Selain ngabotram petis kami juga kerap ngabotram nasi liwet/ngaliwet (ini apa ya, pokoknya nasi yang dimasak overcooked tapi gak sampai jadi bubur) di kebon benteng yang subur ini. Oya, “ngabotram” atau “botram” adalah bahasa Sunda yang artinya kira-kira makan bersama-sama di ruang terbuka dengan tujuan untuk mempererat kekeluargaan dan persahabatan. Oleh karena itu suasana saat ngabotram selalu seru, banyak canda, santai dan penuh kehangatan. Nah untuk urusan ngabotram nasi liwet ini biasanya dilakukan oleh Mamah. Bahan-bahan yang dibeli cuma nasi dan ikan teri. Selebihnya, baik bumbu maupun sayuran pelengkap diambil dari kebon. Termasuk daun pisang lebar yang menjadi alas makan bersama saat ngabotram. Kalau ngarujak dilakukan dengan ngabotram menggunakan ulekan, maka ngaliwet dilakukan dengan menggunakan daun pisang. Kami duduk melingkari daun pisang lalu mamah menunangkan nasi liwet yang sudah matang ke daun pisang untuk dimakan beramai-ramai. Saya harus akui yang bikin nasi liwet bertambah nikmatnya berkali-kali lipat adalah campuran peteuy alias pete yang dipetik dari kebon. Biasanya setelah ngaliwet kami petik buah yang sudah matang di kebon: nangka, jambu atau mangga ketika musimnya. Sungguh beruntung saya pernah tinggal di rumah yang pekarangannya luar biasa subur seperti ini.
Saya benar-benar rindu suasana akrab penuh kehangatan di kebon yang hijau, rimbun, dan subur seperti di Cikalong Kulon dulu. Bisa jadi obsesi saya menjadi petani ada pengaruh juga dari pengalaman masa lalu yang indah ini.
Suram EPA Di Tangan Scott Pruitt
Tidak ada berita yang cukup bikin perut mual dan rasa was-was memuncak sepanjang pekan kemarin kecuali berita tentang sesumbar Scott Pruitt, pimpinan Environmental Protection Agency (EPA) pilihan Trump, saat pertemuan kelompok konservatif Amerika Serikat akhir pekan kemarin.
Penunjukan Scott Pruitt, mantan Jaksa Agung negara Bagian Oaklahoma, memang menuai kontroversi. Pruitt, sebagai jaksa negara bagian, telah menggugat institusi yang sekarang dipimpinnya tak kurang dari 14 kali. Semua gugatannya memiliki kepentingan dengan bisnis “kotor” dan “padat karbon” dari sektor industri minyak dan gas yang memang secara ketat diawasi oleh EPA. Belakangan malah terkuak email yang menunjukan keterkaitan erat Pruitt dengan berbagai perusahaan minyak saat ia menjalankan tugasnya sebagai Jaksa Agung Oaklahoma.
Continue reading “Suram EPA Di Tangan Scott Pruitt”Kenapa semua harus ikut mencemaskan EPA?
Penunjukan Scott Pruitt sebagai Administrator EPA mengancam keberlanjutan komitmen gobal dalam penurunan emisi gas rumah kaca dan perubahan iklim
Tidak ada berita yang cukup bikin perut mual dan rasa was-was memuncak sepanjang pekan kemarin kecuali berita tentang sesumbar Scott Pruitt, pimpinan Environmental Protection Agency (EPA) pilihan Trump, saat pertemuan kelompok konservatif Amerika Serikat akhir pekan kemarin.
Penunjukan Scott Pruitt, mantan Jaksa Agung negara Bagian Oaklahoma, memang menuai kontroversi. Pruitt, sebagai jaksa negara bagian, telah menggugat institusi yang sekarang dipimpinnya tak kurang dari 14 kali. Semua gugatannya memiliki kepentingan dengan bisnis “kotor” dan “padat karbon” dari sektor industri minyak dan gas yang memang secara ketat diawasi oleh EPA. Belakangan malah terkuak email (entah kenapa sejak pemilu sampai terbentuknya administrasi Trump Januari kemarin, banyak email pribadi politikus penting Amerika yang bocor) yang menunjukan keterkaitan erat Pruitt dengan berbagai perusahaan minyak saat ia menjalankan tugasnya sebagai Jaksa Agung Oaklahoma.
Atas penunjukan Pruitt ini staff, mantan staff dan mantan pimpinan EPA serta kubu Demokrat menyatakan keberatan dan sudah menyuarakan penolakan mereka. Tapi itu toh tak cukup menjegal Pruitt dari nominasi sebagai Administrator EPA, sebagaimana Andrew Puzder yang berhasil dijegal dari nominasinya sebagai labor secretary (menteri tenaga kerja) akibat sorotan atas aktivitas bisnis dan masa lalunya terhadap pekerja di bisnisnya. Maka jadilah kini EPA, lembaga perlndungan lingkungan hidup yang sangat dihormati di dalam dan luar negeri, dipimpin oleh seseoarang yang percaya kalau lembaganya harus dibubarkan atau setidaknya dibatasi ruang geraknya. Ironis.
Kekhawatiran atas EPA di era-nya Pruitt ini agaknya terkonformasi akhir pekan kemarin. Dihadapan kelompok konservatif, yang memang secara tradisional kerap bersebrangan dengan agenda-agenda keberlanjutan lingkungan, Pruit dengan enteng berujar kalau pandangan mengenai perlunya pembubaran EPA dapat dibenarkan. Pruitt menganalogikan desakan pembubaran EPA sama dengan sentimen negatif sebagian rakyat Amerika terhadap Internal Revenue Service (IRS), biro pajak pemerintahan federal Amerika. Tapi bukan cuma itu yang layak bikin kita, yang bukan warga negara Amerika Serikat cemas.
Adalah pernyataan Pruitt yang berjanji untuk sesegera mungkin mengevaluasi regulasi berkaitan dengan pencemaran air, udara dan perubahan iklim yang layak bikin kita merinding. Pruitt memandang regulasi-regulasi perlindungan lingkungan yang dibuat pada era Obama itu telah memberikan ketidakpastian bagi dunia usaha. Dalam pandangannya, Kaum Konservatif tidak perlu bersikap apologetik terhadap lingkungan hidup karena mereka bisa tetap fokus pada pencipataan lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi sambil tetap memperhatikan lingkungan hidup. Pernyataan yang sebetulnya baik tapi jadinya malah terlihat seperti gimmick kalau dikaitkan dengan pernyataan-pernyataan kontroversial Pruitt. Lagipula apa yang ia sampaikan bukan hal baru bagi kalangan environmentalist. Malah gagasan itu sudah berkembang lebih dari sekedar retorika. Pandangan yang menempatkan ekonomi dan ekologi secara diamteral sudah ditinggalkan terutama sejak gagasan ekonomi hijau diperkenalkan.
Kenapa kita semua harus cemas?
Jika Pruitt benar-benar menjadi alat Trump untuk merealisasikan janji-janji kampanyenya soal perlu tidaknya EPA dipertahankan, soal pengembangan industri energi bebasis bahan bakar fosil, dan penyangkalan terhadap perubahan iklim, maka itu merupakan alarm buat umat manusia. Amerika Serikat adalah negara pengemisi gas rumah kaca (sebagai faktor pemicu pemanasan global dan perubahan iklim) terbesar kedua di dunia (sekira 6.343..841 kTon CO2eq) setelah China (sekira 12.454.711 kTon CO2eq) diikuti oleh India (sekira 3.002.895 kTon CO2eq).

Komitmen global untuk menjaga agar rerata suhu permukaan bumi tidak terus naik dan karenanya dampak perubahan iklim tidak semakin buruk, bergantung dari kesungguhan negara-negara pengemisi terbesar ini menjalankan komitmen penuruan emisi GRK mereka sebagaimana yang telah disepakati di Paris tahun 2015 lalu. Pemerintahan Obama memastikan Amerika Serikat untuk ikut serta dalam komitmen ini dengan menyampaikan INDC (Intended Nationally Determined Contribution) yang mencantumkan target ambisus Amerika Serikat untuk menurunkan emisi GRK sebesar 26-28% dari tingkat emisi di tahun 2005.

Untuk mencapai target ambisius inilah keberadaan EPA menjadi sangat signifikan. Jika Pruitt sungguh-sungguh mencabut regulasi yang berkaitan dengan perubahan iklim dan melonggarkan restriksi untuk keberlangsungan aktivitas industri yang padat karbon, maka target ini cuma akan jadi angan-angan. Apalagi sejak masa kampanye hingga sebulan pemerintahan Trump berjalan, retorika mengenai penarikan diri Amerika Serikat dari Paris Agreement dan pencabutan semua insiaitif pemerintahan Obama berkenaan dengan perubahan iklim seakan tak pernah surut.
Lebih dari itu, sebagaimana dengan apik diulas oleh Stewart M. Patrick (Senior Fellow in Global Governance, Council on Foreign Relations) di Foreign Affairs Magazine edisi Maret-April 2017, pemerintahan Trump yang disruptif ini akan terus menimbulkan ketidakpastian bagi banyak negara dalam menyikapi Amerika Serikat sebagai kekuatan super power di tengah bangkitnya China sebagai kekuatan global baru. Negara-negara akan mengambil posisi hedging dengan Amerika Serikat, posisi mengambang yang tidak dengan tegas menunjukan keberpihakan (political leaning) baik ke Amerika Serikat, China atau kekuatan global lain yang muncul. Untuk yang satu ini mungkin Indonesia, dengan “politik bebas-aktif”-nya bisa dibilang paling ngerti lah.
Banyak negara akan mengambil posisi hedging terhadap target penurunan emisi global, jika Trump dan Pruit sungguh-sungguh mencabut komitmen Amerika dalam menyikapi perubahan iklim. Paris Agreement mungkin tidak akan benar-benar ditinggalkan, namun negara-negara akan memformulasikan kembali komitmen mereka dalam bahasa yang ambigu, memperpanjang jangka waktu target penurunan emisi gas rumah kaca, atau malah benar-benar meninggalkan upaya mitigasi peningkatan emisi GRK dan hanya melakukan upaya adaptasi perubahan iklim.
Kalau sudah begini, maka jelas arah kebijakan lingkungan hidup Amerika Serikat yang akan ditunjukan oleh Trump dan Scott Pruitt sebagai Administrator EPA akan sangat menentukan keberlangsung hidup semua manusia di muka bumi ini, terlepas dia warga negara Amerika Serikat atau bukan. Sebab dampak bencana akibat perubahan iklim, sebagaimana ekosistem itu sendiri, tidak mengenal batas wilayah administratif dan politik. Maka jelas: semua orang harus cemas dengan EPA-nya Pruitt.
Keterangan gambar: Scott Pruitt memberikan sambutan pasca pengangkatannya sebagai Administrator EPA di hadapan para staff. Sumber: VOA Africa
Tentang si Dodo dan awal perjumpaan dengan environmentalisme
Sependek ingatan saya, sudah sejak SMP saya punya keyakinan kalau di usia dewasa akan bergiat di seputaran isu lingkungan hidup. Pada masa itu, term sophisticated macam “sustainable development“, “climate change” atau “environmental law” jelas masih amat asing buat saya. Term yang kini (setidaknya sampai saat ini) menjadi santapan sehari-hari saya.
Momen pertama saat saya punya feeling akan berkutat dalam isu-isu lingkungan hidup adalah saat libur panjang kenaikan kelas (dari kelas 1 ke kelas 2 SMP) tahun 1997. Waktu itu TPI (sebelum berubah jadi stasiun televisi dangdut dan sinteron yang gak mutu) menayangkan program acara anak yang cukup banyak dalam rangka liburan sekolah. Salah satunya kartun semi dokumenter berjudul “Dodo Comeback“, kisah tentang seekor burung Dodo (Raphus cucullatus) yang sudah punah. Dodo, tokoh utama kartun ini, bercerita tentang persoalan lingkungan hidup seperti pencemaran air, polusi udara, hingga deforestasi yang merugikan bumi, menyebabkan keberlangsungan kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan yang hidup didalamnya terancam. Dodo adalah burung yang sudah merasakan akibat dari kerusakan lingkungan itu. Dia punah dan “hidup” kembali untuk memperingatkan anak-anak agar kisah pilu dia tidak terulang. “Dodo comeback” begitu kata si Dodo sambil bernyayi riang. Agak ironis memang, tapi dengan begitu pesan “hijau”-nya bisa dengan mudah dipahami anak-anak.
[youtube https://www.youtube.com/watch?v=imIjqwEfv9g&w=560&h=315]
FIlm Dodo ini punya pengaruh sangat besar buat saya. Gara-gara film ini saya jadi amat gandrung dengan pelajaran biologi. Pikir saya waktu itu saya akan jadi ilmuwan biologi kelak saat dewasa. Bekerja dengan alam dan makhluk hidup didalamnya dan melindungi mereka dari ancaman kepunahan. Bisa dibilang sejak SMP sampai masuk ke kelas IPA di SMA saya adalah seorang nerd dalam pelajaran biologi. Saking nerdy-nya, rasa-rasanya saya adalah anak kesayangan semua guru biologi sejak SMP sampai SMA hehehe. Seperti yang saya ceritakan disini, saya juga membawa semua buku teks pelajaran biologi saat kelas berlangsung. Tas saya sangat penuh dengan buku-buku. Seorang teman mengolok-olok saya seperti orang yang mau kemping gara-gara itu. Saat SMP saya adalah satu-satunya anak yang berhasil mendapatkan nilai sempurna 100 untuk ujian biologi. Saya juga selalu mewakili sekolah saat SMP dan SMA untuk mengikuti perlombaan-perlombaan pengetahuan biologi. Tapi efek film kartun Dodo jauh lebih besar dari itu buat kehidupan saya.
Film kartun Dodo memvisualisasikan kerusakan lingkungan kepada anak-anak dengan bahasa sederhana dan cara yang unik. Cuplikan video kerusakan lingkungan digabung dengan animasi si Burung Dodo yang cukup apik untuk ukuran tahun 90an. Tanpa bermaksud melebihkan, sejak menonton kartun si Dodo sense of justice atas persoalan lingkungan agaknya mulai tumbuh dalam diri saya. Meski tidak berakhir menjadi ilmuwan biologi, saya bersyukur mendapat kesempatan mendalami ilmu hukum dengan pendalaman minat pada hukum lingkungan dan kini mencoba meniti jalan menjadi juris yang punya kepekaan dan keberpihakan pada keberlanjutan lingkungan. Dan kalau boleh saya menuduh. Semua jadi begini gara-gara si Dodo. Dodo comeback !!!!! 🙂
PS:
Salam Hormat dan takzim buat semua guru biologi saya sejak SMP: Bu Dian, Bu Nesta, Bu Sudarminingsih, Bu Bulan




