Kebon Benteng Cikalong Kulon

Saya punya cita-cita jadi petani. Awalnya saya cuma membayangkan bertani, tinggal di kaki gunung yang sejuk, hening, dan jauh dari hingar bingar kota adalah kemewahan paripurna. Lalu motivasi bertambah setelah lamat-lamat mengeja bioregionalisme. Memakan apa yang kita tanam dan menanam tidak lebih dari apa yang kita butuhkan adalah bagian dari kearifan pola hidup leluhur, dan penghormatan terhadap pola hidup berkelanjutan yang pernah ada dan diterapkan di sebuah wilayah adalah bagian dari penghayatan bioregionalisme. Saya belum bisa sampai pada level itu. Tapi merasakan pengalaman memakan apa yang terhampar di pekarangan rumah pernah saya rasakan saat tinggal di “Benteng” Pegadaian Cikalong Kulon, Cianjur tahun 1990-1995.

Continue reading “Kebon Benteng Cikalong Kulon”

Rasa Aman Semu Cikalong Kulon

Pagi hari di tahun 1994. Cikalong Kulon, Jawa Barat… Di kota kecamatan kecil ini, pagi tak hanya ditingkahi oleh kokok ayam jantan yang dengan pongah memecah kesunyian. Ada suara lain di sana yang membuat pagi terasa lebih khas. Kelelawar.

Suara berderit ribuan kelelawar yang bergerombol kembali ke sarang mereka di gedung tua bekas peninggalan Belanda yang kini beralih fungsi menjadi gudang penyimpan barang gadaian yang dikelola oleh Pegadaian, perusahaan jawatan milik negara. Jangan bayangkan gudang ini berisi emas atau barang elektronik mahal layaknya gudang-gudang rumah gadai di kota-kota besar. Lebih dari setengah ruangan gudang besar ini diisi oleh tumpukan kain yang digadaikan oleh warga. Agak tidak tega rasanya kalau aku sebut itu tumpukan kain rombeng. Tapi begitulah adanya. Dalam kondisi normal, kain butut yang warnanya sudah pudar ini harusnya bukan barang yang bisa diagunkan ke rumah gadai untuk memperoleh sedikit rupiah.

Continue reading “Rasa Aman Semu Cikalong Kulon”

Memoar Cikalong Kulon: Tentang Kebersamaan di Kebon Benteng

Tentang kebun dan pekarangan yang luas,subur, dan rimbun di rumah saat tinggal di Cikalong Kulon 1990-1995

Saya punya cita-cita jadi petani. Awalnya saya cuma membayangkan bertani, tinggal di kaki gunung yang sejuk, hening, dan jauh dari hingar bingar kota adalah kemewahan paripurna. Lalu motivasi bertambah setelah lamat-lamat mengeja bioregionalisme. Memakan apa yang kita tanam dan menanam tidak lebih dari apa yang kita butuhkan adalah bagian dari kearifan pola hidup leluhur, dan penghormatan terhadap pola hidup berkelanjutan yang pernah ada dan diterapkan di sebuah wilayah adalah bagian dari penghayatan bioregionalisme. Saya belum bisa sampai pada level itu. Tapi merasakan pengalaman memakan apa yang terhampar di pekarangan rumah pernah saya rasakan saat tinggal di “Benteng” Pegadaian Cikalong Kulon, Cianjur tahun 1990-1995.

Seperti yang sebelumnya sudah saya ceritakan disini, saat bermukim di Cikalong Kulon, Cianjur, saya menempati rumah yang berada dalam lingkungan kantor Pegadaian Cabang Cikalong Kulon. Saya dan kedua adik saya menyebut tempat tinggal kami ini sebagai “benteng” karena posisinya yang terisolir dari dunia luar dengan tembok yang tinggi dan pagar besi di sisi depan dan belakang. Dalam “benteng” ini terdapat dua bangunan utama yang konon sudah berdiri sejak jaman Belanda dulu: rumah tua yang menjadi rumah dinas papah selaku kepala cabang Pegadaian; dan gedung kantor Pegadaian yang menempel dengan gudang besar tempat menyimpan barang gadaian, yang atap plafonnya ditinggali ribuan kelelawar. Ribuan kelelawar ini menghasilkan suara berderit sepanjang hari yang bagi kami penghuni benteng ini sudah seperti ambient noise yang tidak menggangu dan tanpanya malah ada yang aneh.

Denah Sederhana Benteng Pegadaian

Selain dua bangunan ini, benteng juga dipenuhi oleh pohon-pohon besar dan semak-semak yang tumbuh subur mengelilingi bangunan utama. Kami menyebutnya “kebon”.Di kebon tumbuh beragam pohon buah dan sayuran. Ada pohon singkong, pohon pisang, pohon jambu air dan jambu biji, pohon nangka, pohon pepaya, pohon mangga, dan favorit saya: pohon Pete! Ada juga tanaman merambat yang belakangan saya tau daunnya merupakan bahan dasar pembuatan cincau. Hampir tiap Minggu tukang cincau datang ke kebon kami meminta izin memetik daun cincau untuk usahanya. Papah tidak pernah melarang mereka masuk kedalam komplek benteng dan mempersilahkan tukang cincau mengambil daun cincau sepuasnya. Toh mereka benar-benar hanya mengambil seperlunya. Tidak kemaruk mengambil semaunya. Biasanya tukang cincau itu selalu datang dengan membawakan kami sekantong besar cincau dengan gula manis cair yang kental.

Kebon juga kerap jadi tempat main saya dan teman-teman sepulang sekolah. Ada satu teman kami namanya Entis. Diantara kami dia yang paling jago memanjat pohon. Biasanya kami meminta Entis untuk naik ke atas pohon pepaya yang tinggi, mengambil pepaya muda dari situ untuk kemudian ngarujak alias bikin rujak petis pedas khas Sunda dengan pepaya muda sebagai sajian utamanya. Pepaya muda kami potong kecil-kecil lalu dicelupkan ke bumbu petis yang aduhai nikmatnya. Untuk urusan pembuatan sambal petis, si Entis ini juga jagonya. Kesamaan fonem petis dengan Entis kadang jadi bahan olok-olokan kami buat si Entis: Si entis tukang petis. Si Entis beuki petis (si Entis suka petis) 😀

Selain ngabotram petis kami juga kerap ngabotram nasi liwet/ngaliwet (ini apa ya, pokoknya nasi yang dimasak overcooked tapi gak sampai jadi bubur) di kebon benteng yang subur ini. Oya, “ngabotram” atau “botram” adalah bahasa Sunda yang artinya kira-kira makan bersama-sama di ruang terbuka dengan tujuan untuk mempererat kekeluargaan dan persahabatan. Oleh karena itu suasana saat ngabotram selalu seru, banyak canda, santai dan penuh kehangatan. Nah untuk urusan ngabotram nasi liwet ini biasanya dilakukan oleh Mamah. Bahan-bahan yang dibeli cuma nasi dan ikan teri. Selebihnya, baik bumbu maupun sayuran pelengkap diambil dari kebon. Termasuk daun pisang lebar yang menjadi alas makan bersama saat ngabotram. Kalau ngarujak dilakukan dengan ngabotram menggunakan ulekan, maka ngaliwet dilakukan dengan menggunakan daun pisang. Kami duduk melingkari daun pisang lalu mamah menunangkan nasi liwet yang sudah matang ke daun pisang untuk dimakan beramai-ramai. Saya harus akui yang bikin nasi liwet bertambah nikmatnya berkali-kali lipat adalah campuran peteuy alias pete yang dipetik dari kebon. Biasanya setelah ngaliwet kami petik buah yang sudah matang di kebon: nangka, jambu atau mangga ketika musimnya. Sungguh beruntung saya pernah tinggal di rumah yang pekarangannya luar biasa subur seperti ini.

Saya benar-benar rindu suasana akrab penuh kehangatan di kebon yang hijau, rimbun, dan subur seperti di Cikalong Kulon dulu. Bisa jadi obsesi saya menjadi petani ada pengaruh juga dari pengalaman masa lalu yang indah ini.

Memoar Cikalong Kulon: Tentang Jawa di tengah Sunda 

Cerita tentang Pak Subagiyana, guru SDN Inpres 2 Cikalong Kulon tahun 1990an

Namanya Subagiyana, kami memanggilnya Pak Bagi. Dari namanya jelas dia bukan orang Sunda seperti kebanyakan orang Cikalong Kulon di awal tahun. 1990an.Pak Bagi adalah salah satu guru di SDN Inpres 2 Cikalong Kulon. Jaman SD dulu, guru wali kelas merangkap sebagai guru semua mata pelajaran kecuali pelajaran agama dan olahraga. Kalau saya tak salah ingat Pak Bagi adalah guru wali kelas saat saya duduk di kelas 4.

Sebagai satu dari sedikit orang Jawa di kampung Sunda, Pak Bagi ini sangat mudah dikenali. Meski beliau bisa berbahasa Sunda, logat medok khas orang Jawa Tengah gak bisa hilang begitu. Itu saja sudah cukup menjadikan Pak Bagi sosok yang jenaka bagi kami.

Ada satu kenangan saya dengan Pak Bagi yang mungkin akan saya kenang seumur hidup. Setidaknya sampai dua lagu sederhana yang beliau ajarkan bisa benar-benar hilang dari kepala saya. Saya gak ingat judulnya, tapi lirik dari dua lagu ini benar-benar seperti diinjeksikan kedalam ingatan saya, sampai sudah hampir 20 tahun lirik dua lagu ini gak pernah bisa hilang dari ingatan.

Lagu pertama tentang 8 penjuru mata angin. Liriknya? Cuma 8 penjuru mata angin: “Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utaraaaaaaaa (dibagian ini memang sengaja dipanjangkan saat menyenandungkannya), Timur Laut”. Oleh Pak Bagi, lagu ini hanya boleh dinyanyikan sambil berdiri dengan posisi pembuka menghadap ke arah Timur, kemudian berputar ke 8 arah penjuru mata angin saat lagu mulai disenandungkan. Karena saat itu kami sekolah dari jam 7-10 pagi, Pak Bagi memberi kami petunjuk bagaimana menentukan arah Timur: cari dimana arah matahari pagi terbit. Ini lebih dari sekedar lagu buat saya, tapi semacam basic life skill yang masih berguna sampai sekarang. Setidaknya saya bisa menentukan arah mata angin hehe.

Lagu kedua buat saya sungguh amat sangat unik. Liriknya tentang kejayaan Majapahit. See! aneh kan? Ada orang Jawa ngajarin anak-anak Sunda lagu tentang kejayaan Majapahit! Sungguh terlalu hehehe. Pak Bagi kayaknya antara lupa, cuek, atau mungkin sama sekali gak tau sejarah pahit antara bangsa Sunda dengan bangsa Jawa gara-gara insiden Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran dulu. “Dendam kesumat” orang Sunda soal ini masih terlihat sampai sekarang. Coba saja lihat jalan-jalan besar di kota-kota di Jawa Barat. Jangan harap bisa menemukan Jalan Gajah Mada atau Jalan Majapahit disana, padahal itu dua nama jalan yang lazim ditemukan di kota-kota besar Indonesia.

Oke lupakan soal perang Bubat. Berikut lirik lagu Majapahit yang diajarkan Pak Bagi:

Majapahit santosa jaya
meliputi seluruh nusantara
Hayam Wuruk ratu yang sakti
Gajah mada patih yang teguh hati

Lagu ini dinyanyikan dengan nada sendu macam penyanyi sinden. Memang lagu yang njawani banget, dan ini yang bikin lagu ini jadi makin lucu sebab dinyanyikan oleh anak-anak Sunda yang juga medok banget Sundanya 😀

Saya menebak-nebak, lagu ini mungkin secara turun temurun diajarkan di kampungnya Pak Bagi  di Jawa dulu. Berkat beliau saya mengenal sosok Gajah Mada dan Hayam Wuruk, meski sekarang saya menolak untuk sepakat dengan dua lirik pertama lagu itu. Majapahit meliputi seluruh nusantara itu sepertinya klaim sejarah yang masih harus digali lebih dalam. Lagipula cerita tentang Majapahit ini konon banyak rekayasa untuk kepentingan nation building di awal pendirian Republik Indonesia. Bahkan sosok Gajah Mada yang wajahnya kita kenal sekarang konon merupakan reka ulang yang ngasal yang dilakukan oleh Prof. Mr. Mohammad Yamin, sejarawan dan ahli hukum tata negara asal Sawahlunto yang “njawani banget”. Malah kabarnya “wajah” gajah mada yang direka ulang itu tak lain wajah Yamin sendiri. Saya juga kok ya merasa klaim “Majapahit meliputi seluruh nusantara” ini agaknya jadi semacam pembenar dominasi Jawa atas nusantara….hehe.

Keterangan gambar: 

Patung kepala Gajah Mada di Museum Trowulan
(sumber: https://www.britannica.com/biography/Gajah-Mada)

Tentang si Dodo dan awal perjumpaan dengan environmentalisme

Sependek ingatan saya, sudah sejak SMP saya punya keyakinan kalau di usia dewasa akan bergiat di seputaran isu lingkungan hidup. Pada masa itu, term sophisticated macam “sustainable development“, “climate change” atau “environmental law” jelas masih amat asing buat saya. Term yang kini (setidaknya sampai saat ini) menjadi santapan sehari-hari saya.

Momen pertama saat saya punya feeling akan berkutat dalam isu-isu lingkungan hidup adalah saat libur panjang kenaikan kelas (dari kelas 1 ke kelas 2 SMP) tahun 1997. Waktu itu TPI (sebelum berubah jadi stasiun televisi dangdut dan sinteron yang gak mutu) menayangkan program acara anak yang cukup banyak dalam rangka liburan sekolah. Salah satunya kartun semi dokumenter berjudul “Dodo Comeback“, kisah tentang seekor burung Dodo (Raphus cucullatus) yang sudah punah. Dodo, tokoh utama kartun ini, bercerita tentang persoalan lingkungan hidup seperti pencemaran air, polusi udara, hingga deforestasi yang merugikan bumi, menyebabkan keberlangsungan kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan yang hidup didalamnya terancam. Dodo adalah burung yang sudah merasakan akibat dari kerusakan lingkungan itu. Dia punah dan “hidup” kembali untuk memperingatkan anak-anak agar kisah pilu dia tidak terulang. “Dodo comeback” begitu kata si Dodo sambil bernyayi riang. Agak ironis memang, tapi dengan begitu pesan “hijau”-nya bisa dengan mudah dipahami anak-anak.

[youtube https://www.youtube.com/watch?v=imIjqwEfv9g&w=560&h=315]

FIlm Dodo ini punya pengaruh sangat besar buat saya. Gara-gara film ini saya jadi amat gandrung dengan pelajaran biologi. Pikir saya waktu itu saya akan jadi ilmuwan biologi kelak saat dewasa. Bekerja dengan alam dan makhluk hidup didalamnya dan melindungi mereka dari ancaman kepunahan. Bisa dibilang sejak SMP sampai masuk ke kelas IPA di SMA saya adalah seorang nerd dalam pelajaran biologi. Saking nerdy-nya, rasa-rasanya saya adalah anak kesayangan semua guru biologi sejak SMP sampai SMA hehehe. Seperti yang saya ceritakan disini, saya juga membawa semua buku teks pelajaran biologi saat kelas berlangsung. Tas saya sangat penuh dengan buku-buku. Seorang teman mengolok-olok saya seperti orang yang mau kemping gara-gara itu. Saat SMP saya adalah satu-satunya anak yang berhasil mendapatkan nilai sempurna 100 untuk ujian biologi. Saya juga selalu mewakili sekolah saat SMP dan SMA untuk mengikuti perlombaan-perlombaan pengetahuan biologi. Tapi efek film kartun Dodo jauh lebih besar dari itu buat kehidupan saya.

Film kartun Dodo memvisualisasikan kerusakan lingkungan kepada anak-anak dengan bahasa sederhana dan cara yang unik. Cuplikan video kerusakan lingkungan digabung dengan animasi si Burung Dodo yang cukup apik untuk ukuran tahun 90an. Tanpa bermaksud melebihkan, sejak menonton kartun si Dodo sense of justice atas persoalan lingkungan agaknya mulai tumbuh dalam diri saya. Meski tidak berakhir menjadi ilmuwan biologi, saya bersyukur mendapat kesempatan mendalami ilmu hukum dengan pendalaman minat pada hukum lingkungan dan kini mencoba meniti jalan menjadi juris yang punya kepekaan dan keberpihakan pada keberlanjutan lingkungan. Dan kalau boleh saya menuduh. Semua jadi begini gara-gara si Dodo. Dodo comeback !!!!! 🙂

PS:

Salam Hormat dan takzim buat semua guru biologi saya sejak SMP: Bu Dian, Bu Nesta, Bu Sudarminingsih, Bu Bulan

Memoar Cikalong Kulon: Tentang (Kehidupan) Beragama yang Asyik

Selepas Magrib di Masjid Agung Cikalong Kulon, sekitar tahun 1994….

 

Namanya juga bocah. Peringatan pengurus masjid untuk tidak menimbulkan gaduh saat salat magrib berjamaah dilangsungkan rasanya cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tapi itu yang bikin masjid tampak hidup. Masjid selalu ramai oleh anak-anak yang berlarian di halaman Masjid Agung yang luas, mereka yang menguji nyali mereka dengan bermain petak umpet di komplek pekuburan disisi kiri masjid atau mereka yang iseng main nininjaan (pura-pura jadi ninja) menggunakan sarung lusuh yang entah kapan terakhir kali di cuci. Tapi gerombolan bocah ini akan serempak duduk manis saat Mang Rohadi, lewat speaker TOA  masjid yang nyaringnya minta ampun, meminta anak-anak untuk duduk manis dan mulai tadarusan, mengaji Al-Qur’an bersama-sama dipandu Mang Rohadi sebagai guru.

 

Mang Rohadi ini unik. Karena dia satu dari sedikit orang Jawa yang tinggal di Cikalong Kulon, kota kecamatan kecil di Cianjur yang terisolir pegunungan, waduk Cirata dan perkebunan PTPN . Sebagai seoarang Jawa yang agaknya sudah cukup lama tinggal di Cikalong Kulon yang nyaris 90 persen-nya Sunda, logat medok Mang Rohadi nyaris sudah hilang. Kalau beliau gak bercerita tentang asal-usulnya mungkin kami-kami ini akan menganggap Mang Rohadi urang Sunda selayaknya kami semua. Umur Mang Rohadi sekitar 25 tahunan. Warna kulitnya agak gelap dengan badan tegap seperti serdadu dan otot yang terbentuk karena aktivitas fisik sehari-hari Beliau di masjid yang juga merangkap sebagai pengurus dan marbot masjid agung.

 

Gaya belajar membaca Al-Qur’an Mang Rohadi ini buat saya unik. Kami tidak diminta untuk membaca berlembar-lembar halaman Qur’an, tapi cukup membaca satu dua ayat yang diulang-ulang sampai tajwid (hukum membaca qur’an) dan makhraj (pelafalan bunyi huruf-huruf Arab) mendekati sempuran menurut taste Mang Rohadi, anggaplah begitu. Jadi dalam waktu mengaji dari jeda magrib sampi Isya yang nyaris sejam itu kadang kami cuma membaca maksimal 3 ayat Al-Qur’an. Buat orang luar mungkin kelihatannya membosankan, tapi sesungguhnya buat kami sungguh amat sangat menarik karena pada kenyataannya kami lebih banyak bernyanyi/bersenandung ketimbang mengaji. Loh kok bisa ???

 

Gaya belajar mengaji ini sepertinya model cara belajar mengaji di pondok-pondok pesantren (saya cuma menebak saja sih, belum pernah mondok di pesantren). Kami duduk dalam lingkaran besar dengan Mang Rohadi menjadi center of attention. Setiap satu ayat dibaca, Mang Rohadi membongkar semua hukum tajwid-nya, lalu mengajarkan kami dalam bentuk senandung. Satu yang saya ingat senandung tentang hukum Qolqolah (huruf arab yang dibaca medok) : “Qolqolatun yajma’uhaaa qutbijadin…la la la” (lupa sisanya hehe). Maka jadilah kamu lebih seperti kelompok koor paduan suara ketimbaang anak-anak yang mengaji Qur’an. Tapi semua terasa amat sangat menyenangkan. Sungguh, beberapa kali saya belajar ngaji dengan guru yang berbeda-beda setelah pindah ke Jakarta, cuma Mang Rohadi yang belajar Quran tanpa tekanan harus benar dan salah dan tanpa target harus tamat berapa lembar perhari. Bahkan disela-sela senandung hukum tajwid itupun kami masih sempat guyon satu sama lain, dan Mang Rohadi kadang ikut dalam candaan bocah yang berisik ini.

 

Tapi soal taste Mang Rohadi sama hukum Tajwid dan pelafalan huruf-huruf Arab yang perfeksionis ini kadang jadi momok juga buat kami, khususnya ketika Solat berjamaah dan Mang Rohadi satu-satunya orang dewasa yang layak jadi imam shalat di Masjid. Shalat jamaah yang diimami Mang Rohadi bisa berlangsung lebih dari dari 30 menit !!!! yang mana normalnya paling lama cuma 5 sampai 10 menit saja !!!! Mang Rohadi akan mengulang-ulang pelafalan huruf arab yang dirasanya kurang pas menurut taste dia yang super perfeksionis ini. Kadang kami pura-pura melengos kalau tau imam solat jamaah adalah Mang Rohadi. Sebisa mungkin ngumpet dan ambil langkah seribu keluar masjid sampai salat jamaah dipimpin Mang Rohadi selesai. Bandel betul memang murid-murid Mang Rohadi ini.

 

Selain mengaji tadarusan sehabis Magrib, Mang Rohadi juga memberikan tambahan pelajaran mengaji buat mereka yang tertarik mendalami ilmu keislaman lainnya selepas shalat Subuh dan Ashar setiap harinya. Yang diajarkan bukan Al-Qur’an, tapi fiqih (hukum Islam seputar ibadah dan ritual-ritual keagamaan) dan pelajaran nahwu shorof (semacam grammar untuk Bahasa Arab). Ada dua kitab (buku) yang dipakai untuk pengajian extra ini. Dari Mang Rohadi saya akhirnya tau kalau judul kitab Fiqh adalah Safinah dan untuk pelajaran Nahwu-Shorof saya lupa, cuma ingat sampulnya warna ungu. Belakangan saya mengetahui kalau dua buku ini masuk kategori Kitab Kuning, kitab klasik yang diajarkan di pondok-pondok pesantren. Dan literally warna kertas kitab kuning ini memang beneran kuning. Yang unik dari dua kitab ini adalah hurufnya yang “arab gundul”, maksudnya tanpa tanda baca seperti huruf Arab Al-Qur’an. Kenapa saya tau semua ini? Karena saya adalah salah satu murid Mang Rohadi di pengajian extra ini, dan bisa dibilang saya adalah salah satu murid paling junior diantara peserta pengajian extra yang rerata berusia remaja. Peserta pengajian ini maksimal cuma 10 orang setiap harinya. Kalau dipikir-pikir sekarang, agak aneh memang kok bisa-bisanya saya bisa ikut pengajian model begini. Yang saya ingat suasana akrab dan penuh canda serta pertemanan jadi daya tarik yang luar biasa buat saya. Bisa dibilang saya ngaji bukan karena pengen ngaji, tapi sesederhana pengen ketemu teman main. Rutinitas di masjid, ikut pengajian selepas magrib dan pengajian extra selepas ashar saya lakukan selama hampir 3 tahun, dari kelas 2 sampai kelas 5 SD tahun 1992-1995.

 

***

 

Cikalong Kulon, dan Kabupaten Cianjur secara umum, memang sangat kental nuansa keislamannya. Dulu saya belum paham betul bedanya NU dan Muhammadiyah, sekarang saya yakin betul kalau kultur keislaman dimana saya tumbuh dulu adalah kultur NU, Islam tradisional. Betapapun kuatnya nuansa keislaman di Cikalong Kulon, rasa-rasanya saya tidak pernah menemukan konflik antara ajengan (kyai/ustad dalam bahasa Sunda)   dengan kolot-kolot (sesepuh) Sunda. Malah kelihatannya ada semacam pencampuran antara tradisi lokal sunda dengan islam yang diajarkan Mang  Rohadi dan ajengan-ajengan lain di Cikalong Kulon. Bahkan di Cikalong Kulon tumbuh juga kelompok Ahmadiyah, kelompok minoritas yang akhir-akhir ini mengalami persekusi dari kelompok muslim mainstream. Saking banyaknya penghayat Ahmadiyah, di Cikalong Kulon berdiri juga masjid kelompok Ahmadi, dan selama saya tinggal disana di tahun 1992-1995 tidak pernah sekalipun ada konflik antara mayoritas Muslim Sunni dengan minoritas Ahmadi. Lagi pula kenapa harus berkonflik? Mereka yang menjadi penghayat Ahmadi toh tetangga dan bahkan saudara sendiri.

 

Saya punya seorang teman Ahmadi yang juga bersekolah di SDN Inpres 2 Cikalong Kulon.  Dia dan keluarganya, semuanya penganut Ahmadi, tinggal persis di seberang rumah saya di komplek bangunan tua kantor pegadaian cabang Cikalong Kulon. Anaknya berkulit puith, hidungnya agak mancung, dan rambut ikal. Anaknya memiliki pembawaan yang riang. Agaknya ketika itu tidak pernah ada yang mempermasalahkan soal keyakinan masing-masing. Dunia kami hanyalah soal bermain, tertawa riang dan persahabatan yang tulus. Dunia bocah memang jauh dari kedengkian. Tak ada prasangka apapun pada sahabat kami ini, meski kami tau dia seorang Ahmadi karena dia tak pernah ada di kelas saat pelajaran agama Islam. Toh semua tak ada yang mempermasalahkan, dan sahabat kami ini  tetap naik kelas setiap tahunnya bersama-sama dengan kami semua meski nyaris selalu absen saat pelajaran agama Islam. Saya rasa guru-guru ketika itu memberikan perlakuan berbeda (dalam arti positif) atau mungkin ada laporan tentang kegiatan keagamaan yang dilakukan  dari keluarga dan ajengan ahmadiyah di Cikalong Kulon saat itu yang disampaikan ke pihak sekolah yang mengganti penilaian mata pelajaran agama.

 

Sejauh ingatan saya, konflik antara kelompok mayoritas muslim (sunni) dan kelompok Ahmadiyah di Cikalong Kulon nyaris tidak pernah terjadi selama saya tinggal disana tahun 1992-1995. Lagi pula kenapa harus saling bermusuhan, toh persaudaraan Sunda melebihi entitas keagamaan. Dan ajengan-ajengan seperti Mang Rohadi, seingat saya tidak pernah mengajarkan islam yang menebar kebencian pada mereka yang berbeda. Saya berharap sahabat kecil saya ini dan keluarganya tidak mengalami kesulitan dimanapun mereka berada sekarang. Setiap mendengar berita tentang serangan terhadap kelompok Ahmadiyah di televisi beberapa tahun terakhir, seketika muncul ada rasa cemas. Semoga dia dan keluarganya tidak mengalami hal-hal buruk. Sungguh. Saya merindukan suasana kehidupan beragama yang tanpa prasangka, tanpa kebencian, seperti yang dulu saya rasakan di Cikalong Kulon dulu , kehidupan beragama yang buat saya…gimana ya…selow gitu rasanya .

Memoar Cikalong Kulon: Tentang Rasa Aman

Pagi hari di tahun 1994. Cikalong Kulon, Jawa Barat… Di kota kecamatan kecil ini, pagi tak hanya ditingkahi oleh kokok ayam jantan yang dengan pongah memecah kesunyian. Ada suara lain di sana yang membuat pagi terasa lebih khas. Kelelawar.

Suara berderit ribuan kelelawar yang bergerombol kembali ke sarang mereka di gedung tua bekas peninggalan Belanda yang kini beralih fungsi menjadi gudang penyimpan barang gadaian yang dikelola oleh Pegadaian, perusahaan jawatan milik negara. Jangan bayangkan gudang ini berisi emas atau barang elektronik mahal layaknya gudang-gudang rumah gadai di kota-kota besar. Lebih dari setengah ruangan gudang besar ini diisi oleh tumpukan kain yang digadaikan oleh warga. Agak tidak tega rasanya kalau aku sebut itu tumpukan kain rombeng. Tapi begitulah adanya. Dalam kondisi normal, kain butut yang warnanya sudah pudar ini harusnya bukan barang yang bisa diagunkan ke rumah gadai untuk memperoleh sedikit rupiah.

Tapi Papah, yang menjabat kepala cabang rumah gadai ini, memutuskan untuk menerima hampir segala rupa barang yang dibawa oleh penduduk kampung di pinggiran kecamatan. Pikirnya saat itu: “ini cara kantor untuk menolong orang susah”. Masa ketika corporate social responsibility belum jadi slogan, Papah rasanya sudah mempraktikkannya dengan sangat tulus. Tidak jarang di hari ketika barang-barang itu harusnya ditebus oleh pemiliknya, Papah memborong semua kain rombeng itu untuk sedikit menutup kerugian perusahaan. Agaknya itu memang arah kebijakan perusahaan untuk kantor yang beroperasi di daerah macam Cikalong Kulon.

Poster-poster himbauan untuk menghindari rentenir dan memilih pegadaian yang membantu tanpa membuat susah tertempel di dinding kantor yang terletak berhimpitan dengan gudang tua ini, meski aku agak sangsi poster ini bisa dimengerti oleh nasabah yang sebagian besar buta huruf. Gudang tua dan kantor pegadaian Cikalong Kulon adalah sisa bangunan rumah gadai yang dulu dikelola Belanda. Konon ini adalah rumah gadai kedua yang beroperasi di Pulau Jawa setelah Sukabumi. Nilai historis bangunan ini tidak perlu diragukan lagi. Begitu juga umur bangunan ini. Ribuan kelelawar yang bersarang di atap bangunan ini agaknya cukup menjelaskan betapa tuanya bangunan ini.

Sewaktu pertama kali pindah ke kota kecil ini di tahun 1991, sempat terpikir olehku mungkin dari sinilah kota ini memperoleh namanya. “Kalong” adalah bahasa Sunda untuk Kelelawar.Suara berderit gerombolan kalong adalah juga penanda waktu bagiku. Jika derit ribuan kalong ini sudah semakin nyaring di sore hari dan satu persatu koloni kelelawar ini keluar bergerombol dari sarangnya, maka itu waktunya untuk masuk ke rumah. Mamah mewanti-wanti kami soal hal-hal tabu yang pantang dilakukan anak kecil di sore hari menjelang Maghrib. “Pamali” kata mamah. Termasuk diantaranya keluyuran di luar rumah. Suara berisik gerombolan kalong yang kembali ke sarangnya di gudang rumah gadai juga menjadi penanda waktu bagiku untuk segera bersiap pergi ke sekolah di pagi hari.

Rumahku adalah juga rumah peninggalan kolonial. Letaknya ada di seberang gudang tua dan kantor rumah gadai yang semuanya adalah dalam satu komplek yang dibatasi oleh pagar dan tembok tinggi. Entah dahulu rumah ini difungsikan sebagai apa, namun kini rumah ini menjadi rumah dinas Kepala Cabang Pegadaian yang sehari-hari memimpin berjalannya rumah gadai. Sekolahku cuma selemparan batu dari komplek pegadaian. Sekolah inpres. Aku dan teman-temanku menyebutnya. Bisa dibilang ini gedung sekolah yang amat sangat sederhana. Dari enam ruang kelas, saat itu baru 3 ruang kelas yang sudah dialasi ubin. Selebihnya masih beralas tanah.

Kata “Inpres” kala itu memang identik dengan hal-hal berbau perintis yang serba kurang dan terbatas. Belakangan aku baru tahu kalau “Inpres” artinya Instruksi Presiden. Dan sekolahku, sebagaimana ribuan sekolah lain yang dibangun di seantero negeri merupakan bagian dari proyek pembangunan Pak Harto yang menghendaki digalakkannya wajib belajar minimal sampai tingkat sekolah dasar. Mungkin ini bagian dari secuil kue kekayaan negara yang dibagikan ke rakyat kecil sebagai bukti bahwa benar hasil pembangunan ekonomi “menetes ke bawah”.

Biarpun sederhana, sekolah kami jadi pusat kegiatan guru. Setidaknya itu yang kami baca dari papan besar dari gerbang sekolah: SDN Inpres 2 Cikalong Kulon. Pusat Kegiatan Guru (PKG). Pagi itu jalan menuju ke sekolah tampak ramai. Orang-orang berkerumun di depan kantor Koramil yang letaknya persis di depan sekolah kami. Sekolah kecil kami ini memang dihimpit rumah penduduk dan kantor koramil yang berdiri gagah dengan patung singa di depannya. Masa itu, berseragam hijau tua adalah sebentuk kebanggaan dan jaminan untuk segala hal: keamanan dan kemakmuran. Kantor koramil ada di sisi jalan raya, yang dipisahkan oleh sungai yang cukup lebar meski tidak terlalu dalam dan arusnya tidak begitu deras. Orang-orang yang ramai berkerumun ini mengusik rasa ingin tahuku.

Sejak pindah ke kota ini beberapa bulan sebelumnya, rasanya baru kali ini pagi terasa begitu ramai di jalan menuju ke sekolah inpres. Setelah menyusup kerumunan banyak orang akhirnya aku mendapati apa yang terjadi di sekitar kantor Koramil. Pemuda tanggung berusia 20-an tahun jadi pusat perhatian massa. Bukan sedang berpidato atau menggelar pertunjukan. Pemuda malang ini sedang menjalani “hukuman sosial”. Pemuda ini nyaris bugil. Dia hanya mengenakan sempak segitiga yang tampak sudah sangat lusuh. Petugas koramil menelanjangi pemuda ini dan menyuruhnya turun ke sungai yang dingin di depan kantor koramil. “dikeeum” kata orang di sekitarku. Bahasa Sunda yang artinya “direndam”.

Pemuda pesakitan ini diminta jongkok oleh petugas di tengah sungai yang tingginya selutut orang dewasa. Arus tidak begitu deras tapi aku bisa membayangkan betapa dinginnya berada disana. Belum lagi rasa malu ditonton banyak orang dengan kondisi nyaris bugil. Belum cukup sampai disitu, “siksaan” berikutnya sudah menunggu. Sejurus pemuda ini masuk ke tengah sungai, beberapa orang dari kerumunan penonton melempari si pesakitan dengan batu. Bak buk bak buk. Darah mengucur dari pelipis si pemuda yang tampaknya sia-sia saja menghalau lemparan batu dari kerumunan.

Bukannya kasihan orang-orang ini mulai mengumpat dan menghadiahi pemuda ini dengan sumpah serapah bertubi-tubi. Ini pertama kalinya aku melihat modal penghukuman seperti ini. Dan ini cukup membuatku merinding sampai keesokan harinya. Agaknya nyawa si pemuda terselamatkan karena massa tampak segan untuk merajam pemuda ini sampai mati di depan petugas koramil. Si pemuda pasrah menjadi tontonan. Rasa sakit akibat lemparan batu agaknya tidak seberapa dibanding rasa malu ditonton banyak orang di kecamatan kecil yang orang-orangnya saling mengenal satu sama lain. Aku tidak tahu berapa lama si pemuda “dikeeum” di sungai. Lonceng sekolah berbunyi tak lama setelah petugas koramil menghardik mereka yang melempari si pemuda dengan batu.

Menjelang siang, saat berjalan pulang dari sekolah kulihat pemuda itu sedang berdiri dalam sikap hormat di depan kantor koramil. Masih dengan sempak lusuh dan badan kurus kering terjemur matahari yang panas menyengat. Belakangan aku mendengar si pemuda kepergok mencuri barang di rumah tetangganya. Warga melapor ke koramil, dan dijatuhkanlah “hukuman sosial” a la koramil. Entah apakah si pemuda mendapatkan haknya untuk diproses secara hukum di kantor polisi setelah “diproses” di kantor Koramil. Yang jelas ini bukan untuk terakhir kalinya aku melihat warga berkerumun untuk melihat orang “dikeeum”. Ini adalah masa dimana harga-harga belum mencekik leher. Masa dimana warga merasakan keamanan karena “diskresi” serdadu yang menjalankan dwi fungsi ke hampir semua aspek kehidupan masyarakat. Termasuk diantaranya menjadi polisi, jaksa dan hakim sekaligus untuk mengatasi masalah kriminal (kecil) seperti yang (diduga) dilakukan si pemuda malang tadi.

Boleh sepakat boleh tidak. Tapi di masa itu rasa aman terasa nyata. Senyata represi pada mereka yang bersuara berbeda dari narasi negara, yang diperlakukan macam pariah layaknya si pemuda malang dari Cikalongkulon.

Setelah Lima Tahun

Prolog : Lahirnya Kesadaran

“Seorang ilmuwan bisa menjadi turun nilainya jika tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan publik atau hanya menutup diri di dalam laboratorium sebagaimana seekor belatung, melarikan diri dan menjauh dari kehidupan dan hiruk pikuk politik zamannya… Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusiaan…Bekerjalah demi kemanusiaan !”

(Karl Marx Sebagaimana disampaikan pada Paul Lafargue) Continue reading “Setelah Lima Tahun”