Uji Nyali Penerbangan Perintis

Berpose di depan Cessna dengan dengkul masih bergetar selepas mendarat (Dok. pribadi)

Akhir tahun 2017 yang lalu saya mendapatkan kesempatan untuk mengunjungi Dataran Tinggi Seko di Kab. Luwu Utara, Sulawesi Selatan. Meski secara administratif berada di Provinsi Sulawesi Selatan, secara geografis Seko berada persis di perbatasan dengan Sulawesi Tengah. Lokasinya nyaris persis berada di tengah pulau Sulawesi. Kontak saya di Palopo, Kota dengan akses terdekat ke Seko, memberi saya dua opsi untuk menuju ke Seko: perjalanan darat dengan menggunakan “ojek” yang sudah dimodifikasi sedemikian rupa untuk melalui jalur offroad yang mendaki menembus hutan dan sungai selama 2-3 hari perjalanan atau menggunakan penerbangan perintis (Susi Air) selama kurang lebih 30 menit dengan kemungkinan tidak bisa mendarat kalau cuaca tidak memungkinkan. Memilih perjalanan antara 2-3 hari atau 30 menit harusnya harusnya bukan hal yang pelik. Namun pengalaman sekali mencoba penerbangan perintis tahun 2014 membuat saya berfikir dua kali untuk memilih opsi penerbangan perintis. Apalagi kontak saya Palopo menegaskan penerbangan ke Seko sangat bergantung dengan kondisi cuaca. Jadinya saya memilih perjalanan darat yang mungkin bakal jadi satu cerita sendiri (Sebagai informasi “ojek” ke Seko dikenal sebagai layanan ojek termahal se-Indonesia. Tarif yang saya bayar pulang pergi Palopo-Seko mencapai total Rp 3 Juta).

Continue reading “Uji Nyali Penerbangan Perintis”

Ampana Pintu Masuk ke Togean

(Dok. Pribadi)

Sekitar bulan Februari 2018 lalu saya melakukan perjalanan (business trip) ke Ampana, sebuah kota pelabuhan yang berada di pesisir teluk Tomini dan merupakan ibu kota kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah. Kota ini lebih dikenal sebagai salah satu area transit terdekat menuju ke Kepulauan Togean, sebuah kawasan taman nasional laut yang belakangan semakin dikenal sebagai tempat yang sangat indah untuk aktivitas diving dan snorkeling. Silahkan google sendiri Kepulauan Togean, karena sayangnya saya tidak melipir ke Togean meski sudah selemparan batu saja dari Ampana. Ya, mau gimana lagi, ini kan business trip yang didanai kantor bukan wisata dimana saya bisa bebas menentukan mau pergi kemana kan hehe.

Continue reading “Ampana Pintu Masuk ke Togean”

Sepotong Arab di Pinggiran Sydney

Terletak di sudut “kampung” Arab-nya Sydney Metro, masjid ‘Ali bin Abi Thalib, atau yang dikenal dengan masjid Lakemba ini kokoh berdiri. Masjid ini memang berdiri di Lakemba, sebuah kawasan sub-urban arah barat daya Sydney CBD yang berjarak sekitar 16 km dari pusat kota, atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kereta jurusan Bankstown (T3). Masjid yang didirikan oleh komunitas Muslim keturunan Lebanon ini merupakan masjid terbesar di Australia. Bisa dibilang masjid ini merupakan pusat aktivitas kegiatan keislaman di kota Sydney. Masjid ini juga memberikan pelayanan seperti pemulasaran dan shalat jenazah, tak pelak masjid ini selalu dirujuk oleh umat muslim yang sedang berada di kota ini setiap mereka membutuhkan pelayanan atau ritual muslim lainnya selain shalat berjamaah.

Masjid Lakemba saat perayaan Idul Adha 2016 (dok. pribadi, 2016)

Interior ruang shalat Masjid Lakemba (dok. pribadi, 2016)

Kawasan Lakemba yang menjadi tempat berdirinya masjid ini memang dikenal sebagai kawasan dengan populasi Muslim terbesar di kota Sydney. Sebagian besar merupakan warga Arab dari Lebanon, Iraq, Syria. Ada pula mereka dari wilayah Asia Selatan khususnya Bangladesh dan Pakistan. Bisa dibilang kawasan ini merupakan tempat tinggal imigran muslim yang memutuskan untuk mengadu nasib di benua ini.

Pawai Hizbut Tahrir di salah satu sudut jalan Lakemba CBD (dok. pribadi, 2016)

Berjalan-jalan di kawasan ini, anda akan menemukan suasana yang berbeda dari kawasan lain di kota Sydney. Saat saya pertama kali pindah ke sini saya merasa seperti meninggalkan Australia menuju salah satu negara Timur Tengah atau kota di pinggiran Karachi. Pria-pria berjenggot menggunakan jubah atau shilwar-khamiz, semacam baju koko dan terusan yang lazim dipakai orang-orang di Pakistan/ Afghanistan, menjadi pemandangan yang hampir tiap hari saya temui. Belum lagi muslimah berjilbab, mulai dari yang biasa aja sampai model burqa’ bercadar. Suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Arab, Farsi, atau Bengali juga jadi santapan sehari-hari. Toko-toko dan restoran di sini juga penuh oleh ragam kebutuhan dan panganan yang khas Timur Tengah atau Asia Selatan. Saya seringkali berkelakar, di Australia ini muslim akan sulit mencari makanan halal, tapi tidak di Lakemba, sebab disini justru amat sulit mencari makanan haram >.<

Dengan demografi seperti ini, tidak mengherankan jika bermunculan masjid sebagai penunjang sarana beribadah warga musim yang cukup banyak di kawasan ini. Sekurang-kurangnya ada 2 masjid besar dan beberapa musholla yang tersebar di Lakemba. Semua tempat ibadah itu didirikan oleh komunitas masing-masing. Ada Musholla yang merangkap jadi semacam Islamic Center yang didirikan orang Indonesia, ada masjid cukup besar di atas blok pertokoan/restoran yang dikelola orang Bangladesh, dan masjid Lakemba, masjid terbesar yang dikelola oleh Asosiasi Muslim Lebanon. Meski bisa dibedakan dari pengelolanya, masjid-masjid ini terbuka untuk semua orang, muslim dan non-muslim, terutama Masjid Lakemba yang memang sudah jadi semacam tourism spot.

Mesjid yang dikelola Komunitas Bangladesh, terletak di lantai 2 komplek pertokoan di seberang Stasiun Lakemba (dok. pribadi, 2016)

Menjadi muslim di negeri ini jelas berbeda dengan di tanah air dimana muslim menjadi kelompok mayoritas. Apalagi di Australia saat ini berkembang pula politik sayap kanan yang memadang kelompok imigran, khususnya yang kebetulan beragama islam, secara peyoratif. Kondisi ini menjadi semakin rumit ketika tahun 2014 lalu terjadi serangan teroris tunggal oleh imigran musim keturunan Arab di Martin Place, salah satu kawasan bisnis di pusat kota Sydney. Sentimen negatif terhadap kelompok muslim menjadi hal yang sulit dihindari.

Untungnya ini Australia. Kenapa begitu?

Meski gerakan politik sayap kanan tumbuh belakangan ini, sepengamatan saya ini tidak mewakili pandangan kebanyakan warga Australia yang berfikiran terbuka, pluralis, dan toleran terhadap perbedaan. Selepas terjadinya serangan teroris tahun 2014 lalu, muncul kekhawatiran serangan balasan atau ujaran dan tindakan kebencian kepada kelompok muslim, khususnya muslimah berhijab yang dapat dengan mudah dikenali identitas religiusnya. Namun kehawatiran ini tidak pernah benar-benar terjadi. Musababnya, ekspresi solidaritas yang ditunjukan oleh warga Australia yang non-muslim, yang menangkap kecemasan saudara-saudara mereka yang muslim akan adanya persekusi pasca serangan teror. sebuah hashtag twitter dengan tajuk #illRideWithYou muncul dan menjadi viral. Sebuah gerakan untuk menawarkan teman-teman muslimah rekan perjalanan pulang di kereta, bus dan sarana transportasi lainnya agar mereka tidak takut terhadap persekusi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pasca serangan teror. sebuah inisiatif kemanusiaan yang bikin mata meleleh.

Billboard layanan jasa pengurusan Zakat di Lakemba CBD (dok. pribadi, 2016)

saya juga percaya kalau Islamophobia tidak hanya dikecam tapi juga dianggap kejahatan serius negeri ini. Hal ini saya lihat misalnya di kampus saya (University of Sydney) ketika terjadi pengrusakan sarana ibadah di musholla kampus oleh pihak yang tidak bertanggung jawab saat kampus sedang libur. Pihak kampus tidak hanya mengecam tapi juga melakukan pengusutan dan meningkatkan keamanan mahasiswa muslim dan sarana ibadah mereka di kampus  dengan menambah kamera pengawas dan akses untuk menghubungi pihak keamanan kampus. Semua itu cukup meyakinkan saya kalau rasisme dan islamophobia bukan bagian dari kultur warga Australia yang pluralis, terbuka, egaliter dan bertoleransi pada perbedaan. Hal yang tidak terlalu mengagetkan buat saya, menilik catatan historis gerakan emansipasi yang diinisiasi oleh generasi pertama bangsa Eropa dibenua ini :anak keturunan para terpidana kerajaan lnggris yang dibuang ke Australia di abad 17. Meski mereka juga masih menyimpan catatan serius soal perlakukan pada masyarakat adat asli Australia yang dijuluki “Aborigin” itu. Persoalan yang masih bagai api dalam sekam bahkan sampai saat ini (soal ini kayaknya harus dibuat di tulisan terpisah)

Australia adalah tempat yang menyenangkan. Negeri ini adalah sebuah melting pot, tempat bertemu dan membaurnya kebudayaan lintas bangsa dan keyakinan. sebuah negara sekuler yang demokratis yang menjamin hak semua orang  untuk mengartikulasikan keyakinannya selama itu tidak merugikan pihak lain. Di negeri ini saya melihat sekilas bagaimana orang-orang dari suatu bangsa yang besar mencoba mengatasi perbedaan-perbedaan, mengenyahkan prasangka, dan maju bersama sebagai bagian dari sebuah negara besar: Australia.

 

-Lakemba, bulan puasa tahun 2016

 

Subak Bukan Cuma di Bali: Terasering di Salu Rante

Lanskap sawah bertingkat yang menghijau di lembah yang dikelilingi gunung dan perbukitan nan megah membuat mata saya seolah seperti mendapatkan detox dari “racun” lanskap perkotaan yang terasa sumpek dijejali oleh ribuan kendaraan yang meraung ditengah kemacetan serta gedung-gedung tinggi yang berhimpitan, menghalangi sudut pandang urban dwellers ke langit luas yang sejatinya membuka pikiran. Itu yang saya rasakan saat melewati Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo, Kab. Luwu Utara minggu lalu ketika menempuh perjalanan darat 2 hari 1 malam ke dataran tinggi Seko. Saat melihat lanskap yang luar biasa ini, saya tidak bisa tidak teringat pada Subak, sistem manajemen dan pengairan persawahan di Bali yang sudah masuk ke dalam daftar situs warisan dunia UNESCO yang dilindungi berdasarkan World Heritage Convention.

Ini bukan di Ubud, Bali 🙂

Jamal, pemuda adat Seko yang mengantar dan membantu pelaksanaan kegiatan selama saya di Seko, mengatakan bahwa modal persawahan bertingkat seperti ini sudah lama dipraktekkan oleh orang Rongkong (Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo memang masuk dalam wilayah adat Rongkong, yang saat ini juga masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Rongkong). Penasaran saya coba googling database dan menemukan dua publikasi di tahun 2006 dan 2011 tentang sistem “Subak” di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan oleh Dik Roth, peneliti dari Wagningen University:

Rinding Allo dalam bahasa lokal berarti “Dinding Matahari”. Melihat ini saya bisa mengerti kenapa disebut demikian

Roth berpendapat bahwa sistem persawahan a la Subak di Luwu dipengaruhi pula oleh migrasi orang-orang Bali ke Sulawesi (sukarela dan dan tidak) sejak zaman kolonial hingga periode transmigrasi era Orde Baru. Apapun itu, saya sih yakin pengetahuan tentang manajemen persawahan yang dibawa oleh para pendatang dari Bali bercampur dengan pengetahuan dan kearifan lokal warga di Luwu dan menghasilkan pengelolaan sawah yang khas Luwu. Yang paling penting: membuka jalan buat terciptanya lanskap yang luar biasa indah di dataran tinggi Luwu. Dan akhirnya saya cuma mau bilang kalau: Subak bukan cuma di Ubud, dan Indonesia bukan cuma Bali 🙂

Nusantara ini memang tanah yang kaya betul.

***

FYI, kemarin saya berkenalan dengan kawan baru yang ternyata asli Rongkong. Dia memberikan kabar kalau di titik saya ambil foto di Salu Rante ini telah terjadi longsor. Semoga bisa segera diatasi. Perjalanan ke Seko ketika tidak ada longsor saja sudah amat sangat berat (buat saya sih). Saya gak bisa bayangkan bagaimana perjalanan kalau ada titik longsor disana.

Mendadak Supermoon di Sydney

Sebetulnya saya gak ada maksud sama sekali untuk ikut-ikut hype “extra-super” supermoon yang jatuh malam tanggal 14 November 2016 ini. Konon malam ini bulan berada di titik yang paling dekat dengan bumi dan baru akan terulang lagi kurang lebih sekitar 70 tahun yang akan datang. Di Sydney, event untuk menikmati bulan penuh dalam ukuran yang konon 20 persen lebih besar ini terpusat di wilayah pantai di sisi timur kota ini: Bondi, Manly, Bronte dan Cronulla. Sore tadi sebetulnya Sydney diguyur hujan dan mendung menggelayut di langit.

Dugaan saya mungkin malam ini bulan akan malu-malu menunjukan dirinya, tertutup pekatnya awan kelabu. Toh saya memang tidak berniat berburu bulan malam ini. Saya tidak suka keramaian. Menikmati langit malam lebih syahdu buat saya jika dinikmati sendiri, bukan bergerombol beramai-ramai dalam kerumunan. Langit malam buat saya semacam kanvas perenungan. Menengadahkan kepala ke langit malam yang pekat, sesekali ditingkahi bintang yang berkelap-kerlip atau saat purnama sepereti ini, diterangi cahaya bulan yang mistis bisa melambungkan angan saya pada banyak hal. Perenungan tentang hidup, tentang diri, tentang betapa tidak berartinya kita dalam kemegahan semesta. Jadi betapapun saya penikmat langit malam, tidak sedikitpun saya terpikir untuk berburu bulan malam ini. Dan lagi saya tidak punya kamera DSLR yang mumpuni untuk mengabadikan terang bulan malam ini.

Tadi sore, selepas seharian berkutat dengan tugas kampus, saya melakukan rutinitas gowes sepeda yang sempat terputus beberapa pekan ini gegara tugas-tugas kampus yang menumpuk. Bersepeda di kota ini adalah sebuah kemewahan kalau saya bandingkan dengan pahitnya bersepeda di kota Jakarta tercinta. Perbedaannya rasanya benar-benar seperti langit dan bumi. Di sini pesepada benar-benar dimanjakan dengan jalur sepeda yang aman, nyaman dan fasilitas penunjang yang sangat lengkap. Lain waktu saya akan bercerita panjang soal ini. Kembali ke tadi sore.

Sepeda commuter hybrid Reid Urban X-2 saya gowes ke arah Sydney Olympic Park. Semacam komplek stadion Senayan di Jakarta. Tapi tujuan utama saya Bicentennial Park di sisi sebelah utara komplek olahraga bekas perhelatan Olimpiade tahun 2000 lalu ini. Bicentennial Park ini semacam taman dan area konservasi mangrove yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan Paramatta River, sungai besar yang membelah kota Sydney. Ada jalur sepeda yang sangat ciamik menembus kawasan konservasi mangrove. Selama nyaris setahun disini, kawasan ini jadi semacam short escape untuk melepas kepenatan dari rutinitas harian. Dari tempat tinggal saya di suburb Lakemba, kawasan ini bisa ditempuh dengan bersepeda selama kurang lebih 45 menit. Tujuan akhir saya adalah Wool-La-Ra, semacam bukit yang dalam bahasa Aborigin berarti tempat untuk mengawasi, look out place. Dari puncak bukit yang landai ini kita memang bisa mendapatkan view 360 derajat dari landscape kota Sydney di kejauhan, kawasan konservasi di sekitar olympic park, sungai Parramata dan jika beruntung kita bisa juga mengintip rangkaian pegunungan Bule Mountain di sisi barat. Dan adalah sebuah keputusan yang tepat datang ke tempat ini sore ini.

Setibanya di bukit ini, yang aksesnya menjadi sangat mudah dengan jalur sepeda yang amat sangat nyaman, saya beristirahat dan menikmati lembayung senja dan pergantian langit jingga menuju gelapnya malam. Dan tanpa saya sadari, saya mendapatkan supermoon disini !!!!! Sayang beribu sayang, saya cuma mengantongi kamera smartphone. 0 Setelah puas memandangi bulan di bukit ini, terfikir oleh saya untuk menikmati bulan penuh yang agak gemuk ini di kapal ferry menuju Circular Quay, kawasan dimana Opera House yang tersohor itu berada. Memang agak riskan menggowes sepeda ke Lakemba dari Olympic Park di malam hari. Jalur sepeda tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai di malam hari. Maka saya putuskan untuk menumpang ferry, yang memang menjadi salah satu moda transportasi kota ini selain bus dan kereta, dan menyambung dengan kereta ke Lakemba Station dari Circular Quay. Ini juga merupakan kemewahan lain buat pesepada di kota ini. Jika lelah menggowes pulang, kita bisa dengan mudah menenteng sepeda ke dalam kereta atau ferry. Tak perlu repot. tinggal duduk dan simpan sepeda di tempat yang disediakan.

Ferry Wharf terdekat dari Woo-La-Ra berjarak sekitar 500 meter. Saya tiba disana sekitar jam 20.15. Setelah menunggu selama 15 menit, ferry yang ditunggu datang. Hanya ada sekitar 10 orang yang menumpang ferry tadi malam. Sepeda saya simpan di buritan ferry di bagian belakang dan segera saya mengambil tempat duduk di lantai 2 yang sengaja dibuat tanpa atap. Dari tempat ini saya bisa menikmati langit malam yang syahdu dan tentunya kengggunan bulan yang malam ini tampak lebih terang sinarnnya, makin elok bentuknya. Entahlah, mungkin ini efek dari bulan yang terlihat lebih besar malam. Kamera smartphone saya kemampuannya jelas terbatas untuk mengabadikan kemegahan bulan malam ini. Tapi dari pada sama sekali gak ada kenang-kenangan, saya sibukan diri menjepret bulan yang aduhai ini disela-sela perjalanan ke Circular Quay. Berikut beberapa foto pilihan yang saya ambil. Selamat menikmati supermoon, sebagaimana yang terlihat dari sungai Parramatta tadi malam.

Lakemba, 1.15 am

The Basin: Surga Tersembunyi di Campbelltown

Semester lalu, Prof. Ed Couzen, dosen saya di mata kuliah International Wildlife Law berujar kalau Australia adalah satu dari megabiodiversity countries di dunia. Sebagai seorang Indonesia, yang sejak SD dicekoki tentang kekayaan alam nusantara dan hutan-hutan tropisnya yang (pernah) lebat yang menjadi rumah bagi jutaan species flora dan fauna, saya agak tergeltik juga mendengar itu. Rasa-rasanya gak ada yang bisa ngalahin soal kekayaan keanekaragaman hayati Indonesia deh. Mungkin ini cuma sentimen kebangsaan yang tidak pada tempatnya sih.

Australia memang sebuah negara kontinen yang memiliki kekayaan dan ekosistem yang luar biasa. Dan tidak seperti Indonesia yang (cuma) negara berkembang, Australia adalah negara maju dengan populasi yang bisa dibilang sedikit untuk negara yang mengokupasi seluruh benua selatan ini (data tahun 2013, populasi manusia di benua ini cuma 23,13 juta jiwa). Ini jelas menjadi keuntungan tersendiri untuk upaya konservasi ekosistem Australia yang khas dan unik ini. Masalah pendanaan konservasi tidak akan menjadi masalah dan tekanan kepada lingkungan tentu tidak akan sebesar negara dengan populasi sebesar Indonesia. Dan lagi, Australia yang oleh pelaut-pelaut dan petualang Eropa dikenal dengan Terra Australias Incognitos alias The Unknown Land of The South bisa dibilang nyaris terselamatkan dari keserakahan manusia yang mengeruk alam sebagai harga untuk keberlangsungan peradaban mereka. Australia baru “ditemukan” tahun 1770 dan jauh sebelum orang-orang Eropa mengokupasi tanah ini, sebuah peradaban luhur yang menjaga keharmonisan alam dengan manusia telah dikembangkan oleh The First Australian, pemilik sah benua ini, mereka yang oleh bangsa pendatang kemudian disebut Aborigin. Bisa dibilang ketika nyaris setengah bagian dunia memasuki era Revolusi Industri, masa dimana cerobong-cerobong asap pabrik dengan pongah mengotori langit dan menimbun emisi karbon dalam jumlah raksasa di angkasa -yang celakanya dampaknya terus kita rasakan sampai sekarang berupa perubahan iklim, peradaban bangsa Aborigin yang nir-kerakusan menjaga kelestarian benua Australia yang indah ini. Dan agaknya hal ini turut mempengaruhi paradigma dan pendekatan bangsa pendatang dalam mengolah alam Australia sejak abad ke 18 hingga sekarang.

Buat saya, kemewahan terbesar bisa tinggal di negeri ini bukanlah fasilitas-fasilitas publiknya yang luar biasa nyaman tapi kesempatan untuk menikmati alam yang tetap terjaga sedemikian rupa. Masalah-masalah lingkungan bukannya tidak pernah ada di negeri ini, tapi dari sedikit pengetahuan yang saya dapat dari guru-guru di kampus, kemampuan negeri ini memitigasi kerusakan lingkungan dan mencegah kerusakan berlanjut memang luar biasa.

Yak cukup bahas hal-hal yang agak berat hehe. Tulisan ini sebetulnya gak bermaksud bahas hal-hal serius. Saya cuma mau membagikan pengalaman saya kemarin melakukan trip singkat ke sebuah tempat yang luar biasa indah di Campbelltown, sebuah kota suburban 50 km di selatan Sydney, Australia. Kawasan ini memang dikenal sebagai surganya pencinta hiking, telusur sungai dan hutan khas Australia atau populer disebut bushwalking.

Tempat yang saya kunjungi ini adalah sebuah lembah di salah satu bagian The Georges River atau Tucoerah sebagaimana bangsa Aborigin meneybeutnya. Tempat ini sangat populer di kalangan bushwalkers karena menyuguhkan panorama yang aduhai indahnya. Seperti namanya, The Basin adalah bagian dari sistem sungai The Georges River yang membentuk semacam danau atau kolam yang sangat indah. Anda juga akan menemukan air terjun kecil yang bunyi gemericik airnya menghadirkan ketenangan yang luar biasa. Rimbun pepohonan dan ngarai-ngarai tinggi yang mengelilingi The Basin menambah suasana syahdu dan mistis kawasan ini.

Siang itu saya benar-benar cuma sendiri di situ. Perasaan was-was berada di tengah hutan yang sepi seketika hilang setelah gemericik sungai terdengar di The Basin. Rasa lelah menuruni lereng menuju kawasan ini dijamin akan hilang setelah bunyi gemericik air masuk menembus telinga. Yang menarik dari kawasan ini adalah sisi di seberang The Georges River (sisi berlawanan dari arah saya datang) adalah kawasan militer terlarang. Kawasan ini kerap dijadikan areal latihan militer dan pengujian bom, aktivitas yang dikiritik pegiat lingkungan karena diduga mencemari The Georges River.

Tidak sulit untuk mencapai kawasan ini. Dari pusat kota Sydney anda bisa naik kereta dari Central Station menuju Cambelltown Station dengan jarak tempuh sekitar 1,5 jam perjalanan. Dari Campbelltown station anda bisa naik bus sampai ke ujung jalan Georges River untuk melanjutkan perjalan menembus semak dan hutan khas Australia selama kurang lebih 1 jam. Sayangnya kawasan ini bisa dibilang benar-benar sepi. Bus yang mengantar sampai ujung jalan terakhir yang bisa ditembus dari Cambelltown station bisa dibilang amat sangat jarang. Siang itu, seperti biasa saya naik sepeda. Saya turun di Leumeah Station, satu pemberhentian sebelum Campbelltown Station. Sengaja saya pilih jalur ini agar bisa melewati Kentlyn Longhurst Reserve yang konon kalau beruntung bisa berpapasan dengan koala yang lagi menyebrang jalan hehehe Sulit buat saya menggambarkan lebih jauh keindahan kawasan ini. Cukup sedikit foto-foto alakadarnya ini yang menjelaskan keindahan secuil surga ini.

Salam bushwalking 😀
1-png-582d0c3baf7a61f4074bd6bb 15-png-582d0cbc92fdfd6a1019db89 9-png-582d0d22e5afbd9611b81c7a 11-png-582d4e40f292735905f038be 6-png-582d0da5cd9273d605a28418 4-png-582d0b7c1e23bd0f056d9f1d

Surga tersembunyi di Campbelltown: The Basin

Semester lalu, Prof. Ed Couzen, dosen saya di mata kuliah International Wildlife Law berujar kalau Australia adalah satu dari megabiodiversity countries di dunia. Sebagai seorang Indonesia, yang sejak SD dicekoki tentang kekayaan alam nusantara dan hutan-hutan tropisnya yang (pernah) lebat yang menjadi rumah bagi jutaan species flora dan fauna, saya agak tergeltik juga mendengar itu. Mungkin ini cuma sentimen kebangsaan yang tidak pada tempatnya sih.

Continue reading “Surga tersembunyi di Campbelltown: The Basin”

Mendadak Supermoon di Sydney

Supermoon di atas Opera House (Dok. Pribadi)


Sebetulnya saya gak ada maksud sama sekali untuk ikut-ikut hype “extra-super” supermoon yang jatuh malam tanggal 14 November 2016 ini. Konon malam ini bulan berada di titik yang paling dekat dengan bumi dan baru akan terulang lagi kurang lebih sekitar 70 tahun yang akan datang. Di Sydney, event untuk menikmati bulan penuh dalam ukuran yang konon 20 persen lebih besar ini terpusat di wilayah pantai di sisi timur kota ini: Bondi, Manly, Bronte dan Cronulla. Sore tadi sebetulnya Sydney diguyur hujan dan mendung menggelayut di langit.

Continue reading “Mendadak Supermoon di Sydney”

Lakemba: Kampung Muslim di Australia

Terletak di sudut “kampung” Arab-nya Sydney Metro, masjid ‘Ali bin Abi Thalib, atau yang dikenal dengan masjid Lakemba ini kokoh berdiri. Masjid ini memang berdiri di Lakemba, sebuah kawasan sub-urban arah barat daya Sydney CBD yang berjarak sekitar 16 km dari pusat kota, atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kereta jurusan Bankstown (T3). Masjid yang didirikan oleh komunitas Muslim keturunan Lebanon ini merupakan masjid terbesar di Australia. Bisa dibilang masjid ini merupakan pusat aktivitas kegiatan keislaman di kota Sydney. Masjid ini juga memberikan pelayanan seperti pemulasaran dan shalat jenazah, tak pelak masjid ini selalu dirujuk oleh umat muslim yang sedang berada di kota ini setiap mereka membutuhkan pelayanan atau ritual muslim lainnya selain shalat berjamaah.

Continue reading “Lakemba: Kampung Muslim di Australia”