Books

Dari Lemberg Ke Nuremberg (dan London)

East West Street: On The Origin of “Genocide” and “Crimes Against Humanity” adalah sebuah karya non-fiksi yang tidak biasa. Awalnya ditulis sebagai penelusuran kisah keluarga yang sangat personal, penulisannya berkembang menjadi penelusuran lahirnya dua konsep hukum internasional yang lahir pasca Perang Dunia ke-2: “Genosida” dan “Kejahatan Terhadap Kemanusiaan”. Buku ini juga tidak biasa karena meski secara teknis masuk dalam rumpun non-fiksi, aromanya sangat akademik karena ditulis oleh Philippe Sands, Guru Besar Ilmu Hukum di University College London sekaligus pengacara HAM ternama.

Philippe Sands adalah nama yang tidak asing bagi mereka yang mempelajari hukum internasional. Secara khusus namanya sangat familiar bagi mereka yang pernah kuliah hukum lingkungan internasional. Beliau adalah penulis buku babon Principles of International Environmental Law yang menjadi pengantar memahami kompleksitas hukum lingkungan dalam kerangka hukum internasional. Sebagai pengacara HAM, kiprah Prof. Sands tidak kalah mentereng. Namanya terdaftar sebagai salah satu kuasa hukum Gambia saat mereka membawa Myanmar ke ICJ (International Court of Justice) dengan dugaan pelanggaran Konvensi Internasional Pencegahan dan Penghukuman Kejahatan Genosida atas tindakan mereka terhadap minoritas Rohingya.

Singkatnya, membaca East West Street seakan membawa kita pada dua sisi kehidupan penulis: sisi personal yang diwakili dari penuturan kisah keluarga penulis yang jatuh bangun menavigasi huru-hara Perang Dunia ke-2 di tanah kelahiran mereka di Lemberg; dan sisi profesional penulis sebagai pakar hukum HAM internasional yang dapat dengan renyah menjelaskan konteks dan sejarah hukum lahirnya konsep penting hukum HAM modern. Uniknya, East West Street seperti mengonfirmasi kedua sisi kehidupan penulis itu punya titik temu di Lemberg, kota yang saat Perang Dunia ke-2 pecah berada dalam pengaruh Imperium Austria-Hungaria dan sekarang dikenal dengan Lviv, kota di Ukraina timur yang berbatasan dengan Polandia.

Bisa dibilang Lemberg adalah titik nol Philippe Sands. Meskipun ia lahir di Paris dan kemudian merintis karier cemerlang sebagai seorang akademisi dan pengacara di London, garis hidupnya mungkin akan sangat berbeda andai kakeknya, Leon Buchholz, tidak memutuskan hijrah dari Lemberg ketika bayang-bayang kelam Nazi mulai meluas ke seantero Eropa.

Lemberg nyatanya bukan hanya titik nol bagi keluarga Sands. Di kota inilah, dua tokoh hukum raksasa yang menjadi jantung dari buku ini—Hersch Lauterpacht dan Raphael Lemkin—pernah menempuh pendidikan hukum di universitas yang sama, di bawah bimbingan guru-guru yang sama, meski keduanya tidak pernah benar-benar bekerja sama.

Lauterpacht adalah sosok di balik rumusan konsep Crimes Against Humanity (Kejahatan Terhadap Kemanusiaan), yang menitikberatkan pada perlindungan hak-hak individu. Di sisi lain, Lemkin adalah pencetus istilah Genocide (Genosida), yang berfokus pada penghancuran sebuah kelompok secara sistematis.

Buku ini merajut kisah kakek Sands, Lauterpacht, dan Lemkin, dengan satu benang merah kelam bernama Hans Frank. Frank adalah Gubernur Jenderal Nazi untuk wilayah Polandia (yang wilayahnya mencakup Lemberg) yang bertanggung jawab atas kematian jutaan orang Yahudi, termasuk keluarga besar dari Sands, Lauterpacht, dan Lemkin.

Prof. Sands dengan piawai membawa pembaca menuju klimaks sejarah di Pengadilan Nuremberg (1945-1946). Di sinilah konsep Genosida milik Lemkin dan Kejahatan Terhadap Kemanusiaan milik Lauterpacht diuji untuk pertama kalinya di meja hijau guna mengadili para petinggi Nazi, termasuk Hans Frank. Perdebatan intelektual mengenai apakah hukum internasional harus melindungi individu atau kelompok disajikan layaknya novel thriller ruang sidang yang mendebarkan.

Sebagai sebuah buku, East West Street adalah monumen pengingat yang brilian. Ia menunjukkan bahwa hukum internasional tidak lahir di ruang vakum yang steril; ia dipahat dari penderitaan sejarah yang berdarah, dan dedikasi personal yang luar biasa. Bagi para pembaca, buku ini tidak hanya memberikan perspektif baru tentang fondasi hukum HAM, tetapi juga menyoroti kerapuhan peradaban manusia. Jika Anda mencari bacaan yang menggabungkan sejarah Eropa, memoar keluarga, dan drama pengadilan kelas dunia, East West Street adalah karya yang wajib dibaca.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *