Pop Culture, Screen

Victoria: Menyaksikan Lahirnya Dunia Modern Dari Lensa Ratu Belia

As a Foreign Secretary, I have congratulated the new French republic on their liberation from an odious tyrant… the autocrats of Europe will lie uneasy in their beds tonight. Knowing that the French people have risen up against an unjust king

Pernyataan ini diucapkan oleh Lord Palmerston, Menteri Luar Negeri pada pemerintahan Perdana Menteri Lord John Russell, dalam sebuah perdebatan sengit di parlemen Inggris (House of Commons) di masa berkuasanya Ratu Victoria. Peristiwa ini didramatisasi dengan sangat apik dalam Victoria (2017), sebuah miniseri yang sampai season ke-3 penayangannya mengangkat kisah di masa awal berkuasanya Ratu Victoria, Monarki Kerajaan Inggris Raya di penghujung abad ke-19. Berbeda dengan The Crown (2018), miniseri yang juga mendramatisasi kisah keluarga Kerajaan Inggris di masa berkuasanya Ratu Elizabeth II, Victoria lebih terasa sebagai sebuah dokudrama atas sebuah masa di mana perkembangan politik, sosial, dan teknologi yang membentuk abad ke-20 bermula. Sementara di sisi lain, The Crown memberikan kita dramatisasi visual atas peristiwa yang lebih sering kita dengar kabarnya di media-media gosip dan entertainment.

Pernyataan ini diucapkan oleh Lord Palmerston, Menteri Luar Negeri pada pemerintahan Perdana Menteri Lord John Russell, dalam sebuah perdebatan sengit di parlemen Inggris (House of Commons) di masa berkuasanya Ratu Victoria. Peristiwa ini didramatisasi dengan sangat apik dalam Victoria (2017), sebuah miniseri yang sampai season ke-3 penayangannya mengangkat kisah di masa awal berkuasanya Ratu Victoria, Monarki Kerajaan Inggris Raya di penghujung abad ke-19. Berbeda dengan The Crown (2018), miniseri yang juga mendramatisasi kisah keluarga Kerajaan Inggris di masa berkuasanya Ratu Elizabeth II, Victoria lebih terasa sebagai sebuah dokudrama atas sebuah masa di mana perkembangan politik, sosial, dan teknologi yang membentuk abad ke-20 bermula. Sementara di sisi lain, The Crown memberikan kita dramatisasi visual atas peristiwa yang lebih sering kita dengar kabarnya di media-media gosip dan entertainment.

Tentu tanpa bermaksud membandingkan bagaimana dua Ratu Inggris ini berkuasa dengan signifikansinya masing-masing bagi Inggris dan dunia, buat saya Victoria terasa lebih menarik baik dari sisi visual maupun penceritaan. Dari sisi visual, upaya menghidupkan kembali fashion, arsitektur, dan desain akhir abad ke-19 dalam miniseri ini amat layak diapresiasi. Keautentikan estetika visual pada masa itu yang coba dihidupkan kembali benar-benar memberikan kepuasan, terlebih jika Anda penggemar period piece. Namun yang paling membuat miniseri ini menarik tentunya adalah bagaimana narasi cerita dibangun. Signifikansi berbagai peristiwa yang terjadi pada era Queen Victoria dikaitkan dengan perkembangan karakter Victoria sebagai seorang Ratu belia, istri, dan ibu. Bagaimana ia menavigasi perubahan-perubahan yang terjadi begitu cepat ketika itu, yang sedikit banyak menjadi fondasi dunia modern yang kita kenal sekarang, memberikan kita insight mengenai bagaimana tatanan lama, yang direpresentasikan olehnya sebagai sovereign, menyesuaikan diri agar tetap relevan.

Perubahan-perubahan yang dengan apik disajikan dalam beberapa episode serial ini seperti hendak juxtaposing, menyandingkan dua hal secara diametral dan bertolak belakang: monarki yang kolot dan konservatif dengan abad modern yang mengedepankan kebebasan dan rasionalitas. Dalam “The Engine of Change” (season 1, episode 7) misalnya, diperlihatkan dilema Queen Victoria untuk menerima dan menyetujui perluasan penggunaan teknologi baru: kereta api. Para penasihat Ratu tidak hanya mempertanyakan faktor keselamatan moda transportasi baru ini, namun juga meyakinkan Ratu agar tidak menggunakannya karena akan menjatuhkan wibawa seorang sovereign ketika menaiki moda transportasi yang tidak se-regal kereta kuda milik kerajaan bersama-sama dengan rakyat kebanyakan.

Lalu dalam episode “The Green-Eyed Monster” (Season 2, episode 2), dikisahkan bagaimana Queen Victoria takjub dengan kecanggihan Analytical Engine, mesin komputasi pertama, yang dikembangkan oleh Charles Babbage. Mesin yang sangat penting, karena untuk pertama kalinya manusia mengembangkan sebuah alat yang dapat diprogram untuk berbagai kebutuhan selain melakukan penghitungan. Dengan bobot nyaris 15 ton dan ukuran nyaris sebesar lokomotif kereta api, mesin ini memang tidak praktis dari kacamata kita sekarang. Namun, dari mesin raksasa inilah logika komputasi abad 21 mendapatkan pijakan awalnya. Queen Victoria tidak hanya takjub dengan kecanggihan mesin ini, namun juga cukup kaget ketika Ada Lovelace, seorang matematikawan perempuan, memainkan peran yang sama pentingnya dengan Babbage dalam pengembangannya. Sedikit banyak hal ini meningkatkan kepercayaan diri Victoria, seorang ratu belia, bahwa perempuan juga dapat memberikan kontribusi serta peran signifikan dalam masyarakat.

Dinamika peran dan posisi perempuan dalam tatanan masyarakat monarkis Inggris yang patriarkis agaknya tidak banyak berubah sampai beberapa dekade setelah era Victoria. Yang menarik, baik Victoria maupun The Crown sama-sama menunjukkan pergeseran paradigma mengenai reposisi peran perempuan ini melalui penggambaran konflik batin yang dialami Prince Albert (suami Queen Victoria) dan Prince Philip (suami Queen Elizabeth II) sebagai prince consort masing-masing ratu. Dua miniseri ini sama-sama menampilkan keengganan, pada awalnya, dari Albert dan Philip untuk menerima fakta bahwa istri mereka adalah sovereign yang harus mereka patuhi. Keduanya menjadi simbol watak patriarkis yang enggan menerima ada seorang perempuan yang dalam tatanan sosial-politik berada di atas mereka.

Di kedua miniseri ini, masing-masing Ratu mencari cara agar ego suami mereka tetap terjaga dengan memberikan kewenangan, dalam taraf tertentu, untuk menjalankan proyek atau kegiatan yang menjadi minat mereka. Di Victoria, hal itu ditunjukkan saat Victoria memberikan persetujuan kepada Albert untuk menyiapkan sebuah pameran besar yang menampilkan inovasi industri dan perkembangan teknologi pada masa itu (“The White Elephant”, season 3, episode 8). Albert kemudian secara sukses menyelenggarakan The Great Exhibition pada 1851 yang secara tidak langsung juga memberikan bukti bahwa monarki Inggris dapat beradaptasi dan justru menjadi pendukung modernitas dan perkembangan teknologi. Posisi masing-masing prince consort dalam Victoria dan The Crown memang digambarkan dengan sangat menarik sebagai penyeimbang masing-masing Ratu, yang secara natural akan lebih berhati-hati dalam menerima modernitas karena ada tatanan yang harus mereka jaga sebagai sovereign. Dalam The Crown, digambarkan bagaimana Philip meyakinkan Elizabeth untuk menerima idenya menyiarkan prosesi sakral penobatannya di televisi. Sementara dalam Victoria, kita akan melihat bagaimana Albert meyakinkan Victoria untuk menerima keberadaan kereta api dan membuatnya mendukung The Great Exhibition.

Selain perubahan-perubahan yang didorong oleh kemajuan teknologi, yang membuat Victoria menarik dalam kacamata saya adalah dramatisasi dalam menyikapi perubahan-perubahan yang dipicu oleh perkembangan sosial-politik pada masa itu. Pernyataan Palmerston di awal tulisan ini menceritakan pengaruh Revolusi Sosial di Eropa. Pernyataan tersebut muncul sebagai perkenalan karakter Palmerston pada episode pembuka season ke-3, “Uneasy Lies the Head that Wears the Crown”. Berlatar tahun 1848, ketika gelombang demokratisasi menyapu daratan Eropa, Ratu Victoria dan Pangeran Albert dilanda ketakutan yang amat beralasan atas runtuhnya monarki-monarki Eropa yang sebagian besar adalah kerabat mereka. Namun, alih-alih bersimpati atau menjaga wibawa sesama penguasa monarki, Palmerston justru mengambil langkah sepihak. Di tengah kepanikan Istana atas tergulingnya Raja Louis Philippe dari Prancis, Palmerston berdiri di hadapan House of Commons dan secara terang-terangan membenarkan revolusi tersebut. Ia menyadari betul bahwa publik Inggris saat itu bersimpati pada gerakan pro-demokrasi, dan ia menggunakan sentimen tersebut sebagai senjata politiknya.

Momen tersebut dengan brilian mengukuhkan posisi Palmerston sebagai politisi populis yang menarik kekuatannya dari simpati rakyat, menjadikannya antitesis yang sempurna bagi Ratu yang secara alamiah mengambil posisi konservatif. Palmerston seolah memposisikan dirinya sebagai representasi dari aspirasi publik dan modernitas, sebuah posisi yang memastikan dirinya didengar di tengah rigidnya tradisi monarki dan keangkuhan kaum bangsawan. Dinamika inilah yang membuat serial ini melampaui sekadar drama selebritas istana a la The Crown. Serial ini secara meyakinkan menjadi studi karakter mendalam tentang bagaimana figur-figur yang merepresentasikan tatanan lama (monarki) merespons gejolak revolusi sosial dan pergeseran aspirasi publik yang menuntut lebih banyak rasionalitas dalam kehidupan sosial dan bernegara, hal yang tidak dapat dihindari seiring dengan maraknya inovasi dan perkembangan teknologi. Akumulasi kapital yang cenderung lebih mudah seiring dengan modernitas melahirkan kelompok baru dalam masyarakat yang bisa sekuat kelompok bangsawan meski tidak memiliki setetes pun darah biru dalam nadinya.

Pada akhirnya, Victoria berhasil menyajikan potret yang memikat tentang pergulatan Sang Ratu dalam menyeimbangkan perannya. Ia harus menjadi ibu bagi banyak anak (9 orang), seorang istri yang harus menavigasi ego suaminya, dan pada saat yang bersamaan, seorang kepala negara dari imperium global yang sedang gencar berekspansi. Konflik yang disajikan dalam Victoria selalu berkelindan dengan peristiwa sejarah yang substansial. Tidaklah berlebihan menyebut Victoria sebagai sebuah refleksi atas lahirnya tata dunia modern yang kita lihat dari kacamata seorang ratu belia: Victoria yang dalam usia 18 tahun harus mengembang beban berat sebagai sovereign dari Kerajaan Inggris.

You may also like...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *