Senior dan tutor-tutor hukum lingkungan (di kampus dan luar kampus) selalu bilang begini kira-kira: “Hukum lingkungan itu bergerak sangat dinamis, dan karenanya membuka pengembangan doktrin-doktrin hukum kontemporer yang dipakai gak cuma di disiplin hukum lingkungan saja”. Konsep-konsep macam strict liability sampai pertanggungjawaban korporasi berkembang pada mulanya dalam konteks hukum lingkungan. Maka dari itu menceburkan diri kedalam disiplin ini memang begitu menantang sebetulnya. Gak cuma dituntut buat mengasah kemahiran berhukum untuk menjawab persoalan-persoalan hukum yang nyaris berkembang terus, tapi juga sense of justice, dan to some extent pengetahuan mendasar tentang ilmu lingkungan dan ekologi .
Continue reading “Hari Lingkungan Hidup dan Hal-hal yang Bermula Dari Hari Ini 46 Tahun Lalu”Author: Tyan
Prof Dawam “menyelamatkan” Pasal 33
Prof. Dawam Rahardjo. Saya tidak pernah bertemu langsung dengan beliau. Cuma tau kalau beliau dulu pimpinan LP3ES, organisasi masyarakat sipil yang di masa Orde Baru menerbitkan jurnal berpengaruh “Prisma”, yang tidak cuma jadi tempat orang melakukan diskursus akademik, tapi juga jadi pegangan buat mereka yang bergiat dalam gerakan pro-demokrasi. Ada lagi yang bikin nama Prof Dawam sangat familiar buat saya: skripsi sarjana 10 tahun lalu. Gara-gara mencoba menulis tentang konstitusionalitas sistem pereknomian, saya jadi harus sering membuka risalah sidang pembentukan UUD 1945 dan terutama risalah sidang amandemen UUD 1945 dalam kurun 2001-2002. Dan dari situ lah saya jadi tau, kalau Prof. Dawam Rahardjo ini salah satu ahli yang masuk dalam Panitia Ad Hoc I (PAH I) yang bersama-sama anggota MPR mendiskusikan rumusan penting untuk perubahan konstitusi kita, terutama yang berkenaan dengan soal ekonomi dan kesejahteraan sosial: Pasal 33 dan 34.
Singkat cerita, dari risalah sidang amandemen UUD 1945 dan terutama dari buku karangan Prof. Mubyarto (Amandemen Konstitusi dan Pergulatan Pakar Ekonomi, 2001) yang merekam proses pembahasan dan keresahan beliau atas upaya “mempreteli” Pasal 33, saya juga jadi tau kalau Prof. Mubyarto dan Prof. Dawam Rahardjo ini ada dalam kubu ahli di PAH I yang menghendaki agar Pasal 33 UUD 1945 sesuai dengan rumusan aslinya tetap dipertahankan.Selain Prof. Mubyarto yang jadi ketua tim ini serta Prof. Dawam Rahardjo sebagai anggota, termasuk dalam keanggotaan PAH I adalah ekonom (alm) Dr. Sjahrir, Prof. Didik J. Rachbini, Prof. Bambang Sudibyo dan 2 srikandi ekonom brilian: Dr. Sri Mulyani dan Dr. Sri Adiningsih.
Dua yang terakhir ini, bersama dengan Dr. Boediono yang waktu itu menjabat sebagai Menteri Keuangan, dalam risalah-risalah sidang dan pemberitaan media yang saya temukan, merupakan kelompok ekonom yang gencar mendorong agar Pasal 33 UUD 1945 rumusan asli para pendiri bangsa dihapuskan. Secara ringkas, dalam pandangan kelompok ini “asas kekeluargaan” (Pasal 33 ayat (1)) dan “penguasaan negara” atas apa yang oleh Prof. Jimly Asshiddiqie sebut sebagai “sumber-sumber kemakmuran” yakni “cabang produksi penting bagi negara” serta “bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung didalamnya” (Pasal 33 ayat (2) dan (3)) hendaknya dihapuskan. Dalam pandanga mereka, selain karena Pasal 33 sudah outdated, rumusannya tidak jelas, dan karenanya rentan diselewengkan sebagaimana yang terjadi di masa Orde Baru.
Perbedaan pandangan diantara para pakar yang berpokok pada soal perlu tidaknya meempertahankan Pasal 33 rumusan asli ini oleh Prof. Mubyarto dianggap sudah sangat prinsipil, ideologis, dan tidak mungkin lagi dimediasi. Perbedaan pandangan yang tajam ini berkembang menjadi polemik yang panas dan berujung pada mundurnya Prof.Mubyarto dan Prof. Dawam Rahardjo dari PAH I MPR pada tanggal 23 Mei 2001. Sayangnya sorotan publik saat itu, setidaknya dari penelusuran arsip media yang saya temukan, tidak sebesar sorotan pada perdebatan tentang dasar negara yang sedikit banyak diulas dalam proses amandemen Pasal 29 UUD 1945.
Dari bacaan atas risalah sidang, kesan yang saya tangkap adalah Pak Muby (panggilan Prof. Mubyarto) dan Pak Dawam meninggalkan arena dengan kepala tegak. Mereka tidak ingin kehadiran mereka menjadi legitimasi atas upaya mempreteli demokrasi ekonomi a la Pasal 33 yang dicita-citakan Bapak dan Ibu Pendiri Bangsa. Mereka berdua bertarung habis-habisan memberikan argumen mengenai urgensi mempertahankan Pasal 33 UUD 1945 versi asli, yang oleh Goerge McTurnan Kahin dalam Nationalism and Revolution in Indonesia (1952) dianggap sebagai sintesa dari semangat anti kolonialisme, kolektivisme masyarakat adat/desa, sosialisme, dan Islam.
Dalam pandangan akhirnya Pak Muby berpendapat bahwa tidak tercapainya kesejahteraan rakyat bukan karena tidak memadainya konsep demokrasi ekonomi dalam Pasal 33 UUD 1945, tapi karena penguasa sejak zaman Seokarno dulu belum pernah menerapkannya secara sungguh-sungguh. Beliau mengutip Ketetapan MPR No XVI/MPP/1998 tentang Politik Ekonomi dalam Rangka Demokrasi Ekonomi, yang dalam pandangannya adalah pengakuan kekeliruan penerapan Pasal 33 oleh negara dan komitmen politis untuk memperbaikinya. Pak Muby, agaknya dengan nada sentimentil dan kekecewaan menyatakan begini di sidang PAH I yang terakhir diikutinya:
“…Kesimpulan kita adalah bahwa terjadinya pengurasan kekayaan alam bukanlah [karena] ketentuan Pasal 33 tidak memadai atau karena kesalahan Pasal 33 tetapi karena dasar demokrasi ekonomi benar-benar telah dilanggar atau tidak dilaksanakan. Perubahan dan tertib pembahasan dan perdebatan sengit di antara anggota Tim Ahli Bidang ekonomi, khususnya perlu tidaknya Pasal 33 diamandemen, seakan-akan mengisyaratkan bahwa jika Pasal 33 tidak diamandemen maka krisis ekonomi tidak akan pernah teratasi, KKN akan terus merajalela…” (Naskah Komprehensif Perubahan UUD NRI 1945: Latar Belakang, Proses, dan Hasil Pembahasan 1999-2002, Hal. 377-378)
Sepertinya mundurnya Pak Muby dan Pak Dawam dari tim benar-benar mempengaruhi anggota MPR yang pada akhirnya memutuskan untuk mempertahankan rumusan asli Pasal 33 yang berisi 3 ayat itu dengan penambahan 2 ayat mengenai asas-asas penyelenggaraan perekonomian nasional dan mandat penyusunan undang-undang yang mengaturnya. Bisa jadi ini jalan tengah yang diambil oleh MPR, namun sebagaimana telah diwanti-wanti oleh Prof. Sri Edi Swasono (ekonom UI, menantu Bung Hatta dan tokoh Ekonomi Pancasila lainnya), penambahan dua ayat dalam Pasal 33 itu bisa menjadi “kuda troya” yang melemahkan demokrasi ekonomi a la Pasal 33 terutama dengan pencantuman “asas efisiensi” di ayat (4). Selain itu, menurutnya, restrukturisasi Bab yang memuat Pasal 33 dan Pasal 34 (tentang kesejahteraan sosial) dalam satu Bab menjadi “BAB XIV PEREKONOMIAN DAN KESEJAHTERAAN SOSIAL” dikhawatirkan menjadikan urusan kesejahteraan sosial semata derivat dari aktivitas perekonomian.
Apapun itu, tetap dipertahankannya rumusan asli Pasal 33 saya rasa tetap membuka ruang bagi penerapan demokrasi ekonomi sebagaimana yang dicita-citakan bapak dan ibu pendiri bangsa. Terlebih bagi advokat publik dan pegiat hak-hak masarakat yang tetap bisa menggunakan dalil Pasal 33 (asli) saat mengajukan konstitusionalitas undang-undang ke Mahkamah Konstitusi seperti yang selama ini sudah dilakukan dalam berbagai pengujian undang-undang yang berkaitan dengan sumber daya alam: Kehutanan, Minyak dan Gas Bumi, Pertambangan, Sumber Daya Air dan lainnya. Dan atas semua itu, kita harus berterimakasih pada dua ekonom kerakyatan yang gigih mempertahankan Pasal 33 (asli): Prof. Mubyarto yang telah berpulang pada tahun 2005, dan Prof. Dawam Rahardjo yang baru saja berpulang tadi malam, 30 Mei 2018.
kredit gambar: disini
BEM UI, Kartu Kuning, dan Pengalaman Gw di BEM UI
Gw mau ikutan mbacot soal BEM UI dan “insiden” kartu kuning kemaren, ini bakal panjang banget dan kayaknya lebih kaya refleksi gw waktu sempet aktif di BEM UI.
Yang gak punya kerjaan bisa baca tulisan ini hahahahaha
Pertama2 gw mungkin harus bikin disclaimer: gw pernah aktif di BEM UI, gw bukan KAMMI (gak ada KAMMI di UI waktu itu, gak tau sekarang) tapi tahun2 sebelum ikut BEM UI (sekitar 2006/2007) bisa dibilang itu terakhir kalinya gw punya hubungan dengan kelompok the so-called dakwah kampus (sebagai anak muda yang ketika itu dalam pencarian identitas gw rasa wajar aja pernah berasosiasi dengan berbagai macam kelompok ya. Bahkan kabarnya Munir saja sebelom jadi human rights defender pas mahasiswa pernah gabung grup salafi yang lebih gimanaaa gitu dari anak rohis or dakwah kampus). Jadi bisa dibilang, gw masuk BEM UI ketika itu sebagai seorang “outsider”, bukan orang yang “di-plot” oleh the so-called aktivis dakwah kampus buat ada disana. Waktu kampanye ketua BEM UI waktu itu gw malah bantu2 calon ketua BEM (dari kelompok yang sama) yang gw yakin memang “diskenariokan” buat kalah wkwkwkw…yah gw rasa sekarang mereka juga gak malu2 lagi kok buat akui soal “dominasi” mereka dalam politik kampus dan afiliasi mereka ke PKS, partai politik yang pendirinya sebagian adalah senior2 mereka dalam gerakan yang sama. Anekdot “botol kecap saja kalau ditunjuk jadi ketua BEM pas Pemira (pemilu kampus) pasti jadi ketua BEM” memang ada benernya. Ini adalah salah satu hal yang bikin gw (mantan anak rohis SMA yang sudah baca Madilog pas SMA dan somehow diam-diam mengidolakan Che Guevara ketimbang tokoh2 islam wkwkwkw) memutuskan untuk benar2 keluar dari pengaruh kelompok ini. Gw anggap itu masa pencarian jati diri, dan untuk bisa sampai di titik gw sekarang (a proud secular, liberal en leftist wkwkwkw), gw merasa itu tahapan yang gw harus lewati sih. Tidak ada penyesalan dan tidak (perlu) harus merasa malu dengan itu. Taun2 sebelum kurun 2006-2007 itu bener2 terakhir kalinya gw bersentuhan dengan ide2 dakwah kampus dan kelompok dibelakangnya BEM UI ini. Waktu itu gw malah lebih sering main ke Jalan Tegal Parang en beberapa bulan sebelom lulus sempet mondok belajar bantuan hukum struktural di Jalan Diponegoro 74, secara teknis dan idologis bersebrangan dengan kelompok akhi dan ukhti ini hehe.
Oya waktu itu gw masuk BEM UI (seinget gw sih) karena diminta. Awalnya diminta jadi staff ahli ketua BEM UI, yang dalam keyakinan gw adalah posisi yang sangat gak berguna hahahaha…makanya gw minta agar ada restrukturisasi. Posisi staff ahli dihapus, diganti dengan badan baru dalam tubuh badan pengurus harian BEM UI namun dengan kedudukan yang sama dengan staff ahli di kepengurusan BEM sebelumnya (langsung dibawah kendali ketua BEM dan diatas semua kepala departemen/badan lain). Dan gw minta privilege buat milih sendiri staff gw ( to some extent, ini bikin orang2 yang lama “berkarir” di BEM UI agak bagaimana gitu sama gw dan tim yang gw pilih..karena dalam bayangan mereka posisi gw harusnya berperan sebagai staff ahli dan orang2 dalam lingkaran staff ahli ini harus orang2 senior yang mengayomi mereka..sementara gw milih orang berdasarkan kriteria yang gw butuhkan untuk bikin badan baru: Pusat kajian dan studi gerakan alias PUSGERAK yang sering diplesetin jadi PUJASERA alias pusat kajian serba ada (yang mana gw gak keberatan dan gak merasa tersinggung hahahahah). Staff2 “karir” di BEM UI jaman gw yang pernah akif di BEM UI sebelumnya kayaknya agak terganggu ketika “staff ahli” mereka diisi outsider yang milih orang2 yang asing dan berasal dari luar zona nyaman mereka, dua orang diantaranya malah itungannya anak maba, mahasiswa baru yang baru injek tingkat dua waktu itu..yang gw pilih ya karena mereka punya kualitas hahahahaha. ybs ini (Moch Faisal Karim) sekarang kayaknya jadi scholar yang mumpuni di bidangnya. Oya gw waktu itu minta juga kakak Shofwan Al Banna Choiruzzad II yang juga seorang scholar yang kompeten sekarang buat gabung di pusgerak. kadang kalo lagi ngobrol sama mereka gw suka gak mudeng dan belaga sok ngerti aja wkwkwkw..otak mereka terlalu encer kayaknya hahahahaha
Wait, ini disclaimer jadi panjang amat. Gpp deh biar apa yang gw tulis berikut bisa dipahami dalam konteks dan perspektif yang tepat.
Pertama, tentang BEM UI dan aksi massa (demo maksudnya)
Niat gw masuk BEM UI waktu itu sebetulnya didasari oleh rasa dongkol sama the so-called aktivis dakwah kampus yang technically mengendalikan BEM UI dari sejak pertama kali berdiri sekitar tahun2 98-99an. Kadang mereka melakukan hal yang benar dan memang harus dilakukan dengan mengarahkan BEM UI pada jalur yang seharusnya macam periode-periode setelah reformasi (ketika Senat Mahasiswa UI akhirnya bergaanti jadi BEM UI). Pada kasus tertentu mereka juga “menggerakan” BEM UI ke arah yang tepat dalam penyikapan2 kebijakan publik yang berdampak luas bagi masyarakat. Namun kebanyakannya, seenggaknya dalam pandangan gw, arahan dari mereka memiliki tendensi untuk menopang agenda politik dari partai yang secara kultural dan ideologis berafiliasi sama mereka: PKS. Ini makin kentara ketika demokrasi kita pasca reformasi mulai berkespresimen dengan otonomi daerah, pemilu legislatif, dan pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung. Makanya gw jengah betul ketika BEM UI digerakan untuk memelototi pilkada depok tahun 2005an dimana calon PKS waktu itu maju. Atau waktu pilkada Jakarta taun 2008an ketika adang darojatun didorong oleh PKS buat jadi DKI 1..duh amit2 deh. Agenda (politik) BEM UI meski secara subtle emang kentara betul ketika itu jadi bagian dari perpanjangan agenda politik diluar kampus . Kalaupun mereka tidak directly dukung kontestan yang disokong PKS, dalam pandangan gw BEM UI harusnya gak jadi macam volunter pemantau pemilu, ada hal lain yang lebih substantif ketimbang itu dan jauh lebih penting dari pada jadi bagian dari sekrup proses politik elektoral, yang oleh Wiji Tukul secara satir diledek:“Akankah menjadi bertambah berasmu setelah suara dihitung…pemilu o pilu pilu pilu” hehehe.
Jadi balik ke awal, gw masuk ke BEM UI dengan menawarkan agenda yang kemudian dikenal pada masa itu sebage platform gerakan. Intinya adalah: menggerakan BEM UI untuk fokus pada perjuangan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. BEM UI gak perlu memelototi agenda2 pemilu yang lebih ke hak-hak sipil-politik (well, pada masa itu gw harus akui kalau gw merasa HAM sipol itu kanan banget dan HAM Ekosob yang kiri itu yang sebenar2nya HAM. Seiring berjalan waktu dan pendidikan yang gw dapat ini jelas pandangan yang super keliru. HAM itu saling terkait sipol maupun ekosob). Pernah ada kawan Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang HTI itu menyindir platform gerakan Hak Ekosob gw itu sebagai gerakan dengan ontologi perut. Gw sih gak keberatan dengan itu. Memang menurut gw (waktu itu) lebih penting berjuang untuk bikin orang gak laper, bikin orang bisa akses pendidikan, bikin orang bisa dapat layanan kesehatan yang terjangkau berkualitas ketimbang berjuang buat memastikan pemilu berjalan dengan jurdil hahahahaha. Dalam keyakinan gw, kepala orang bisa dan pasti berbeda2. Tapi soal perut, semua pasti sama: soal lapar pasti sama antara perut orang islam sama orang atheis, sederhananya begitu wkkwkwkwkw (iyes ini jelas pandangan yang keliru dan terlalu simplisistik, gw anggap ini bagian dari pembelajaran dan pendewasaan)
Jadi bagaimana perjuangan hak ekosob itu? Praksisnya gw menawarkan agar BEM UI harus jeli soal ekonomi politik dan melek anggaran. Fase-fase penting dalam proses penyusunan APBN itu menjadi fokus utama yang harus disoroti oleh BEM UI. Isu2 penting soal perdagangan internasional dan negosiasi-negosiasinya harus jadi santapan utama aktivis BEM UI. Dengan pola pendekatan begini, dalam keyakinan gw BEM UI gak perlu lagi bersikap reaktif ketika, sebut misalnya pemerintah menaikkan harga BBM. Dalam pandangan gw, kalo BEM UI bisa baca nota keuangan dan RAPBN, semua hal yang disebelin mahasiswa: kenaikan TDL, BBM bisa diantisipasi sejak pertama kali direncanakan sama pemerintah dan DPR selaku otorisator anggaran.
Langkah berikutnya yang paling penting dalam agenda perjuangan Hak Ekosob ini versi gw waktu itu adalah: jangan melulu mengandalkan demontsrasi dan aksi massa. Waktu itu gw ingin “menyadarkan” aktivis BEM UI dan pendukung2nya (yang memang pada kenyataannya adalah aktivis dakwah kampus atau suporternya) kalau perjuangan mengubah kebijakan publik itu gak cuman bawa ratusan orang demo, nyanyi-nyanyi dan orasi depan istana atau komplek DPR. Long Macrh dan pretending kalo kita mau ribut sama polisi. Cara begitu mungkin relevan sekali dua kali, cuman jadi basi kalo itu melulu yang dikerjakan. Gw bener2 kaget dan shock ketika sudah hampir sebulan di BEM UI, salah seorang anggota BPH BEM UI (kepala departemen) nyindir gw, kira2 begini: “Ayo dong kapan ini kita demo, udah lama ini gak olahraga” (dengan senyum2 dan ambil posisi stretching kaya mau olahraga)…..ebuset dalam pikiran orang ini demonstrasi dikiranya olahraga yang bisa dilakukan seenak jidat wkwkwkwkw. Pas diawal itu kadang gw mikir: kalo mau demo kita mau demo apa? Agendanya apa? Terus kenapa harus milih demo (yang bawa massa)? Apa gak ada pilihan lain emangnya? Gw sepakat kalau gerakan mahasiswa gak boleh tergantung momentum, cuman yang jangan keliatan bego juga kaya tiba2 bikin heboh dengan aksi massa yang gak jelas juntrungannya.
Berbekal buku panduan advokasi kebijakan publik yang ditulis Alm. Mansour Faqih, Pak Roem Topatimasang dkk gw bilang sama temen2 kalo ada buanyak model yang bisa digunakan buwat advokasi kebijakan publik. Dan terlebih kita saat ini gak hidup di era ORBA yang memang membuat gerakan harus berjalan secara klandestin dan konfrontatif. Kita hidup di era dimana demokrasi sudah mulai berjalan dalam relnya. Kita punya Mahkamah Konstitusi dimana kita bisa mengajukan klaim sebuah perundang-undangan melanggar konstitusi, kita punya akses ke parlemen buat nanya2 progress legislasi atau penyikapan parlemen atas kasus2 kontroversial dsb. Menggerakan massa dalam bentuk demonstrasi sekali waktu mungkin perlu dilakukan, cuman dalam pandangan gw ketika itu, hal itu gak lebih dari sekedar penunjang. Gerakan mahasiswa harus kreatif dan memanfaatkan semua peluang. Hal ini membuat BEM UI harus kerja lebih keras. Karena skill yang dibutuhkan buat ini gak Cuma kemampuan mengorganisasi massa tapi kemampuan membaca arah kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah. Artinya? Aktivis2 BEM UI harus lebih pinter, lebih sering baca koran, jurnal, dan buku2 teks yang bisa memperkaya argumen ketika mengkritik kebijakan pemerintah.
Singkatnya selain harus militan, aktivis BEM UI jelas harus lebih pinter (seacara akademik) dibanding mahasiswa kebanyakan. Ya gak mungkin kan lu mau fight di MK cuman modal semangat kalau UU Badan Hukum Pendidikan itu akan bikin sekolah makin mahal…ya lu harus belajar Hak Atas Pendidikan itu apa, lu harus tahu model2 badan hukum kaya bagaimana, komparasi dengan negara lain dsb. Kondisi ini membuat aktivis BEM UI gak Cuma jago bikin flyer2 propaganda tapi juga bikin makalah, yang berbobot ya pastinya !!!!!
Maka pas gw baca berita ketua BEM UI bikin aksi yang menurut gw teatrikal dengan ngacungin kartu kuning ke Jokowi pas dia kasih speech di Balairung, secara metode, gw anggap ini keren. Artinya mereka sudah mempersiapkan ini secara matang, ada isu yang mereka bawa, dan gak perlu makan banyak resources biar aksi mereka diperbincangkan khalayak en dapat sorotan media.
Model-model aksi teatrikal dalam ruangan gini biasanya dilakukan dengan nyelundupin spanduk buat dibentangkan ketika tokoh yang diincar berbicara atau yang paling ekstrim ngelempar pie atau sepatu macam dulu Bush ditimpuk sepatu sama jurnalis Iraq yang datang ke konferensi pers nya hehehe. Entah siapa yang cetuskan ide semprit peluit dan kasih kartu kuning ini, yang jelas ini bentuk aksi teatrikal yang gak cuman menyindir tapi juga unik. Untuk urusan ini gw kasih jempol ke mereka.
Kedua, tentang BEM UI, Papua, dan pengabdian kemasyarakatan…
Ada alasan kenapa nama badan yang gw bikin itu pakai embel2 “Studi Gerakan”, pada masa itu gw lagi gandrung2nya sama buku2 advokasi dan buku2 tentang gerakan petani dan reformasi (revolusi) agraria di Amerika Latin. Buku2 terbitan INSIST (yang akhirnya gw bener2 berinteraksi bahkan bikin program bareng dengan organisasi ini sekarang) jadi santapan sehari2 gw. Dengan semangat menggebu2 dan diobori oleh buku2 itu, gw memperkenalkan kalo “ada loh model lain dalam mendorong perubahan”. Tak bisa dipungkiri, saat itu gw kayaknya terbuai romantisme pejuang2 gerilya macam Che dan Sub-Marcos dengan Zapatista-nya. Gw bilang sama temen2 waktu itu kalau intelektual itu harus kaya Sub-Marcos, gw lupa nama aslinya siapa cuman kabarnya dia profesor filsafat gitu di Mexico, bukan asli masyarakat adat namun menghabiskan waktu berlama2 dengan mereka, mendapat kepercayaan dari mereka, “mendidik” mereka dengan gerakan perlawanan yang mencerahkan, dan akhirnya jadi juru bicara mereka dalam perjuangan bersenjata (kemudian perjuangan politik via komunike2 yang puitis) melawan kediktatoran dan terutama (ketika itu) Neo-Liberalisme yang mengancam kehidupan berbasis adat mereka dan lingkungan hidup/hutan tempat mereka tinggal.
Sub-Marcos ini bener2 menginspirasi gw. Dalam pandangan gw, dalam setiap aksi massa-nya BEM UI selalu mengatasnamakan “rakyat Indonesia”. gw kadang suka bertanya2, apa bener BEM UI itu representasi “rakyat Indonesia”. Gw juga tersentuh sama pemikiran Soe Hok Gie yang intinya kira2 mendidik rasa cinta tanah air itu bukan dengan slogan, tapi dengan mengenal dan tumbuh bersama masyarakat. Teladan Subcomandante Marcos dan petuah Soe Hok Gie ini membuat gw berpikir kalau program2 pengabdian kemasyarakatan (Pengmas) di BEM UI harus diarahkan sejalan dengan agenda politik BEM UI. Well, kegiatan2 Pengmas di BEM UI sebetulnya bukan hal baru. BEM UI ini rajin betul bikin beragam kegiatan sosial mulai dari Bakti Sosial, khitanan dan nikah massal, bantuan bencana (macam waktu Tsunami melanda Aceh dulu, BEM UI kirim grup relawan kesana) dan berbagai kegiatan sosial yang sifatnya insidental.
Nah waktu gw jadi staff ahli alias Pusgerak itu, gw menyarankan agar BEM UI punya semacam kegiatan pengabdian kemasyarakatan yang gak “hit and run”. Yang habis selesai acara gak pernah balik lagi ke lokasi kegiatan. Tapi tinggal dan menetap disana dalam kurun waktu tertentu. Belajar bersama masyarakat dan bersama-sama memberdayakan diri secara sosial, politik, dan ekonomi. UI pada waktu itu memang gak punya kemewahan program KKN macam yang dicetuskan Bapak Hukum Lingkungan Indonesia, (alm) Prof. Koesnadi Hardjasoemantri di UGM. Jadi di BEM UI ketika gw ada disana itu, kami bersama-sama merumuskan program Community Development (Comdev) yang mirip2 KKN.
Lokasi program Comdev ini memang bukan di Papua atau di wilayah adat suku Asmat seperti sindiran paduka jang mulja bapak presiden dan hulubalangnya. Ya yang logis aja lah, namanya mahasiswa kan harus kuliah, dan secara teknis anak UI ketika itu gak ada program KKN, jadinya ya gak memungkinkan di deploy ke lokasi yang jauh dari kampus dengan benefit perolehan kredit (SKS). Lagi pula, kalau mau buka mata dan telinga lebar2, gak jauh dari pusat kekuasaan masih banyak kok kantong2 kemiskinan dimana Gini Rasio itu bener2 bisa keliatan gak cuman sekedar dari grafik, data atau angka2 statistik.
Waktu itu lokasi Comdev dilakukan di daerah Leuwinanggung, yang secara administratif berada di perbatasan 3 wilayah: Depok, Jakarta, dan Bekasi. Program ini secara teknis di selenggarakan oleh Departemen Pengmas dengan supervisi langsung oleh staff ahli a.k.a Pusgerak: Kawan gw om Gianto Gie (yang sekarang masih konsisten dengan program pendidikan kritis buat anak2 di sekitaran tempat tinggalnya) dan om Muhamad Sowwam (yang sekolah tinggi2 sampai Paris dan balik ke Indonesia inisiasi gerakan mulia yang memastikan akses air bersih buat rakyat tjilik..agen SDGs banget deh wkwkwkw). Dalam program ini pun gw belajar banyak tentang masalah2 kelompok miskin kota. Belajar banyak dari Om Gianto dan Om Sowwam tentang model2 pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kerakyatan (Waktu itu kita lagi gandrung juga sama model Grameen Bank-nya Moh. Yunus si Nobel Peace Prize Laureate itu).
Pas gw keluar dari BEM UI dan (akhirnya) lulus dari UI, gw denger program ini masih sempat berjalan beberapa tahun. Bisa dibilang ini memang eksperimentasi pada awalnya. Menjadikan kelompok yang kami damping waktu itu sebagai salah satu basis dukungan untuk gerakan politik BEM UI. Gak bisa dipungkiri model begini macam gerakan sosial sih, macam pendampingan kelompok buruh dsb. Meski gak seperti yang gw pikirkan pada awalnya, seenggaknya program pengabdian kemasyarakatan model gini jadi pembelajaran kami semua waktu itu. Hal ini dan pendekatan dalam aksi yang gw jelaskan sebelumnya diatas mensyaratkan aktivis BEM UI buat lebih banyak menghabiskan waktu di perpus dan kampung, kalau lagi gak sibuk kuliah di kampus.
Jadi, ketika Pak Pres dan suporter-nya nyindir2 soal BEM UI dikirim ke Papua, menurut gw ini salah alamat. Mending pada silaturahmi dulu ke Pusgiwa, tanya2 pada apa saja sih anak BEM UI ini. datengin mereka di markasnya BEM UI, lokasinya di sebrang stadion UI yang suka dipake om Andhika Bagol Akbar latihan lari (dari kenyataan?)
Ketiga, tentang BEM UI antek partai politik tertentu
Nah ini yang terakhir. Gw gak tahu afiliasi politik ketua BEM UI saat ini, gak kenal juga sama orangnya. Sudah luama banget gw gak main ke kampus. Jadi gak fair kalau asosiasi BEM UI dengan gerakan dakwah kampus (dan PKS yang jadi pelabuhan politik aktivis2 dakwah kampus) yang gw sampaikan di awal tulisan ini diberlakukan buat BEM UI zaman now. Jadi soal ini gw no comment.
Tapi apapun itu, mau si ketua BEM UI ini bagian dari aktivis dakwah kampus atau bukan (ini mungkin saja, karena gw denger pernah ada kejadian setelah gw lulus ketua BEM UI beberapa kali dipegang bukan oleh orang yang di plot oleh gerakan dakwah kampus), menurut gw orang yang mempermasalahkan afiliasi politik BEM UI dan ketua BEM UI ini adalah orang yang gimana ya….kampungan, kurang baca, en kurang wawasan. Hahahahahahaha
Pandangan kalo kampus harus netral dari politik (praktis) itu warisan pola pengekangan kebebasan berpikir dan akademik di kampus yang digagas oleh Soeharto dan alm. Prof Daud Jusuf (yang somehow gw merasa ini ironis banget, kok bisa2nya belio gagas ini yak dulu). Pandangan ini memang dibuat biar kampus gak banyak ngerecokin pemerintah macam era 1965-1974. Semua anasir2 yang punya potensi ngerecokin kekuasaan pemerintahan harus dijinakan, ini sejalan dengan dongen trilogi pembangunan: pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh stabilitas politik dan keamanan.
Orang2 yang masih merasa bahwa punya afiliasi politik itu tabu buat mahasiswa dan civitas academica menurut gw tergolong orang yang belom bisa move on dari NKK/BKK jaman orba. Coba lah itu gadgetnya dipake buat googling gerakan mahasiswa di berbagai negara. The very famous gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968 itu gak bisa lepas dari asosiasi gerakan mahasiswa sama kekuatan2 oposisi termasuk diantaranya Partai Komunis Perancis dan partai2 Sosdem. Atau kalau lupa sejarah, itu Soekarno bisa digulingkan karena ada aliansi taktis antara mahasiswa dengan TNI AD selaku salah satu elemen dari Sekber Golkar (yang ironisnya dibuat sama Soekarno). Bahkan the famous Soe Hok Gie yang dicitrakan anti kekuatan politik ekstra kampus di filmnya Riri-Mirleas aja pada hakikatnya anak Gemsos, organisasi mahasiswa yang berafiliasi sama Partai Sosialis Indonesia-nya Sjahrir. Di era 65-an itu, Gie bergerak dibawah supervisi Soedjatmoko, salah satu kader PSI.
Gw juga mau cerita pengalaman gw waktu kuliah di kampus kedua gw: Univ. Of Sydney. Ini kampus ampun deh anak2nya. Tiap minggu (biasanya hari Rabu) ada saja demo-nya. Mulai dari demo soal kebijakan2 kampus yang bikin biaya kuliah makin mahal, sampai rencana kampus buat menghapus beberapa program studi demi meningkatkan ratting dan ranking (kampus gw ini tertua di ostrali tapi sayangnya Cuma ada di ranking ke-3 dibawah ANU dan UniMelb, konon penyebabnya ada prodi2 yang gak menyumbang naiknya ranking ini). Pernah ada kejadian gw lagi di perpus jam 6 sore, tau2 rame banget di pintu masuk. Rupanya ada penghadangan salah satu tokoh partai liberal (partai berkuasa) yang ada acara di kampus.
Univ of Sydney Union di kampus gw (semacam BEM-nya) memang “dipegang” sama anak-anak kiri, baik yang di level undergrad maupun yang post-grad. Agenda politik mereka progressif-liberal. Mereka mendorong isu2 kesetaraan LGBTQ (pas gw masuk USYD, Union ini mengirimkan wakilnya buat partisipasi dalam parade Mardi Gras, pawai perayaan kesetaraan LGBTQ. Ini jadi pertama kalinya dan satu2nya kampus yang mengirim wakilnya secara formal dalam event tahunan ini) , memperjuangkan hak2 masyarakat adat (aborigin en torres islander), menolak rasisme dan islamophobia dan semua agenda2 yang masuk spekturm kiri lah kalo di oz. Sebagian besar dari mereka tergabung dengan kelompok socialist alternative yang terafiliasi dengan partai kiri di ostrali. Dinamika politik kampusnya juga seru banget. Pernah ada kejadian heboh ketika Union mengeluarkan organisasi semacam Rohkris (Kerohanian Kristen) kalo di Indo dari asosiasi. Musababnya karena kelompok Rohkris ini menysaratkan membership dengan meminta ikrar setia calon anggotanya ke Yesus, yang oleh anak2 Union ini dianggap membuat organisasi itu jadi eksklusif dan tidak sejalan dengan misi mendorong inklusivisme dan multikulturalisme di kalangan anak kampus wkwkwkw.
Macam di Indonesia, afiliasi politik dari aktivis2 kampus ini juga sering dinyinyirin oleh sebagian orang yang anggap kampus jadi terlalu politis. Tapi ya di negara demokratis dan terbuka semua orang bebas buat berpendapat dan yang kaya begitu Cuma sebagian kecil orang saja.
Selain kelompok yang terafiliasi dengan partai2 kiri diluar kampus, di dalam kampus juga ada organisasi resmi kemahasiswaan yang paltformnya bahkan namanya sama dengan major political parties di luar kampus macam liberal club dan labor club.
Bahkan ada cerita soal kontestasi ideologis aktivis2 mahasiwa di USYD yang sudah berlangsung sejak lama. Yang paling seru menurut gw adalah ketika terjadi perdebatan soal perlu tidaknya USYD bikin program studi Ekonomi Politik di tahun 1970-1980an. Prodi ini berangkat dari berkembangnya pandangan kritis di kampus dari civitas (mahasiswa en dosen2) soal pendekatan pendidikan ekonomi (konvensional) yang seolah lepas dari realiats politik dan pemikiran kritis. Nuansanya memang “kiri” banget. Ide soal pembentukan prodi baru ini sampai berujung pada rangkaian demonstrasi baik yang pro maupun yang kontra. Yang seru adalah, pihak2 yang bertikai pada masa itu merepresentasikan kekuatan politik dominan di Australia dan aktivis2 mahasiswa yang perdebatan tentang perlu tidaknya prodi ini dibentuk pada saat itu sekarang jadi tokoh2 penting politik Australia:
1. Tonny Abbot, mantan PM dan tokoh Partai Liberal Oz, ketika itu menjabat sebage presiden perwakilan mahasiswa (semacam MPM) yang dengan tegas menolak ide pembentukan Prodi Ekonomi Politik
2. Anthony Albanese, mantan deputi PM dan tokoh Partai Buruh Oz, ketika itu jadi pemimpin kelompok mahasiswa yang bikin seri demo dan mendukung pendirian Prodi Ekonomi Politik
3. Malcolm Turnbull, PM Oz sekarang dan tokoh partai Partai Liberal, yang ketika itu memediasi mahasiswa yang pro dan kontra dalam pembentukan prodi Ekonomi-Politik ini.
Keseluruhan cerita soal ini bisa diliat di artikel di majalah kampus USYD: http://honisoit.com/2016/03/political-economy-at-risk-from-restructure/
Inti dari semua ini apa? Bullshit itu yang mengatakan mahasiswa harus “netral” dari politik. Afiliasi politik itu harusnya gak jadi hal yang tabu buat mahasiswa. Dan mahasiswa di kampus juga gak usah malu2 menunjukkan afiliasi politiknya saat berpolitik di dalam kampus. Ini yang gw gak suka dari kalangan aktivis dakwah kampus ketika gw kuliah dulu, malu2 kucing buat ngakuin kalau mereka part of PKS or bigger ideological group. Jadi kalau ada yang bilang ketua BEM UI ini orang PKS? Terus kalau iya kenapa? Apa itu mengurangi nilai kritik dia? Kan nggak. Kalian2 yang mengnggap mahasiswa harus “netral” dari politik, mahasiswa harusnya kaya zuckerberg or gates yang jadi inventor jelas gak cuman kurang piknik, tapi kurang wawasan hahahahahaha (sory jadi super sarkas begini wkwkwkw).
udah gitu aja…jadi puanjang banget kan hahahahaha
Komedi Berdiri Yang Gak Komedi Banget
gw mau buang2 waktu nulis panjang tentang the so-called comic en stand up comedy ala pesohor2 tanah air hahahaha
gw bukan penggemar the so called stand up comedy ala comic2 lokal. gimana ya, sebagian dari mereka berusaaha banget kayaknya jadi satirist, cumang ya jatohnya selain garing ya keliatan bego juga sih. Akhirnya cuma mancing ketawa lewat nyela-nyela gak mutu, yang gw gak ngerti lucunya dimana. nyela macam “eh dasar tetelan daging lu, dasar buntelan kain lu…anu anu anu dan lain2 misalnya” gak mutu banget lah.
pernah satu waktu gak sengaja liat tayangan stand up comedy yang comic nya seneng
banget menghina ras nya sendiri. awalnya sih bagus juga tapi lama2 jadi pattern yang udah gak lucu lagi sih…ya kalo udah pernah denger sebelumnya kan jadi biasa aja toh pas kita denger lagi. jadi indikator dia gak kreatif juga akhirnya. makanya malah sibuk maen film dia hahahaha. nah kali itu dia nyela soal safety regulation di pesawat. gw kira bakal ada kritik satir soal keselamatan penerbangan gitu, eh dia cuma ngeledek pramugari dan nganjurin penontonnya buat “gak usah dengerin arahan pramugari tiap take off pesawat orang kalau jatoh semuanya mati” lalu nyela soal adanya sempritan yang ada di life vest.. terus. udah gitu aja. bit nya nanggung, gak ada kaitan antara satu dengan yang lain. gw kira dia mau kasih satir soal panduan keselamatan penerbangan eh ternyata cuman gitu doang. kosong. lompat ke bit lain yang gak nyambung.
Pernah juga pas lagi mukim di sydney, gara2 diajak2 ikut nonton comic endonesa yang kebetulan lg tour en mentas di sydney… karena penasaran gw akhirnya liat yutub orang yang katanya pelopor stand up comedy indonesia ini, yang katanya “pertama kali dan satu2nya di dunia yang lakukan pementasan stand up comedy di lima benua”. bombastis banget lah. bawa2 pertama kali, satu2nya, dan pake klaim record-breaking karena lima benua itu. pas gw liat2 di yutub (rekaman tur dia sebelumnya) kek nya ini mah cuman pementasan stand up comedy di hadapan orang indonesia yang kebetulan ada di negara2 lima benua itu aja. ya tau diri lah kalau mau klaim “satu2nya”, “memecahkan rekor” dll dsb, kalau situ mentas pake lingua franca sekarang, dan audiens nya gak cuman orang indonesia, baru deh itu mecahin rekor dan semua embel2 yang dia klaim itu. Lagian IMHO nih ya, pas jauh dari kampung halaman, orang indonesia punya tendesi buat dateng ke acara kumpul2 sesama orang indonesia lainnya. melepas kangen sama indonesia, karena bisa bebas bacot gw elu disitu, kira2 gitu lah. Jadi ya mau acara kaya gimana juga pasti pada dateng en ngumpul lah itu orang2 indonesia di perantauan. Lha gw aja pernah kok ikutan ngantri cuman buat liat SBY pas dia bikin event di sydney hahahahahah. dan ruame banget itu orang indonesia yang dateng kesitu pas sby dateng dan dengan suka rela kita serahkan kuping kita buat disuguhi lagu2 khidmat nan patriotik karya bapak presiden: “ku yakin sampai disana” hahahahahahahaha . Jadi ya intinya, tour the so-called satu2nya di dunia, dan memecahkan rekor mentas stand up comedy di lima benua itu sih menurut gw biasa aja. itu cuman pebisnis yang liat celah pasar en arrange event dengan gandeng PPI dan konjen setempat sebagai EO wkwkwkwkw, asli biasa aja. dan setelah gw akhirnya nonton beberapa lawakan dia di yutub en tipi…gw berkesimpulan ini orang cuman sok asik sok keren aja. lawakannya juga sama kaya yang tadi pertama buat gw: garing, sok tau, dan gak mutu.
Tapi ada juga kok comic lokal yang menurut gw genuine lucunya dan berbakat main satir. tapi kayaknya comic satu ini udah lama gak dikasih panggung di tv, entah karena terlalu nakal atau sikap politik dia yang kebetulan gak kaya comic2 lainnya. gak perlu sebut nama lah, yang jelas badannya tambun en doi alumni ITB en mantan aktivis mahasiswa 98. Jadi gw liat dia mentas langsung pas kebeneran ada acara gw dateng dan dia jadi salah satu pengisi acaranya. Jadi dia mengkritik hipokrisi masyarakat kita yang permisif sama korupsi tapi antipati sama gay yang lakukan anal sex. padaha kata dia korupsi dan anal sex itu mirip: “pake jalur belakang dan harus dikasih pelicin yang banyak” hahahahahaha. menurut gw ini asli lucu.
nah pas rame2 comic yang nyela agama…menurut gw. gak ada masalah asal lucu (jelas itu kalau gak lucu bukan lawak dong wkwkwkw) dan kalau itu kritik, maka itu harus satir yang cerdas. Gw penikmat humor2 gelap seth macfarlane di family guy yang dengan enteng nyela2..well, hampir semua agama. nyela yesus, nyela muhammad, nyela yahudi wkwkwkw. tapi ya point nya jelas. terutama soal kritik atas stereotyping seseorang karena identitas religiusnya. toh menurut gw mem-profan-kan sosok2 kudus itu kan gak membuat mereka2 yang suci itu beserta ajarannya jadi kehilangan pengikut kan? kalau emang lawakannya udah lah gak lucu dan keterlaluan (menurut ukuran temen2 yang merasa ada panggilan jiwa untuk membela sosok2 kudus itu dan ajarannya) ya jangan malah di viralkan. diemin aja. charlie hebdo di prancis itu terkenal (dan akhirnya jadi martir) ya karena ada bigot2 yang atas nama membela sososk2 kudus itu lakukan tindakan bodoh terorisme. kalo gak ada aksi teror itu, kartun2 charlie hebdo itu ya paling dibaca en diliat sama orang prancis aja toh?
nah jadi begitu
Kenyang Tanpa Nasi: Kapurung Lesehan Lela
Makanan khas dari Luwu, terbuat dari sagu dengan kuah ikan yang kaya rempah dan aromanya bikin ngiler
Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Palopo, Sulawesi Selatan, salah satu kota yang ada di pesisir Teluk Bone. Sebetulnya saya cuma mampir bermalam aja disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari dataran tinggi Seko di Kabupaten Luwu Utara. Berhubung gak punya banyak waktu disana, saya gunakan kesempatan yang ada buat icip-icip kuliner khas di kota yang konon dalam epos La Galigo disebut dengan sebutan Ware.
Berhubung saya baru pertama kali injakkan kaki di kota itu, dan kolega saya di Palopo juga sudah ambruk kecapekan menempuh perjalanan darat nyaris satu hari satu malam dari Seko, jadilah saya coba ngebolang sendirian disana. Dari hotel (losmen kali ya lebih tepatnya hehe) saya menginap, di dekat Masjid Tua kota Palopo yang berhadapan dengan komplek istana Kedatuan Luwu, saya coba iseng jalan kaki mencari panganan khas kota ini. Berbekal google yang maha tau dan kadang sok tau hehe, saya coba peruntungan buat jalan-jalan disana. Sayangnya rekomendasi google gak sesuai dengan ekspektasi saya. Ya masa di Palopo disarankan mampir ke resto en kafe. Rasanya kaya begitu mah gak akan ada yang khas deh. Jadilah saya putuskan menyetop abang ojek di depan istana Kedatuan. Kolega saya bilang kalau abang ojek di Palopo pada pakai rompi buat bedakan dengan pengendara motor lainnya.

Dapat lah saya abang ojek, namanya pak Fauzi, umur sekitar 50an tahun kayaknya. Pas naik saya langsung bilang, “pak anter saya ke tempat makan khas Palopo ya!”. Si bapak agak bingung awalnya, habis itu dia coba pastikan ke saya “kalau jauh gak apa-apa ya”. Mantap, yang kaya gini berarti dia mau rekomendasiin tempat yang gak mainstream nih. Karena udah nembak soal tempat makan dan berhubung sendiri, akhirnya saya ajak si bapak ikutan makan, meski sempet nolak awalnya.
Nah si bapak ini ngajak saya ke tempat makan di Jalan A. Mappanyompa, Salekoe, Wara Timur, tepatnya dekat dengan SMP 3 Kota Palopo. Rumah makannya model lesehan dan kata pak Fauzi selalu ramai setiap jam makan siang. Pas saya datang kali itu kebetulan lagi gak terlalu ramai. Restoran ini modelnya lesehan, jadi gak ada tempat duduk, cuma meja yang dijejer rapi dalam dua baris. Menu yang disajikan didominasi oleh ikan dan hasil laut lainnya. Mungkin karena Palopo kota pesisir kali ya.
Pas disodorin menu dengan sotoy saya langsung pesan makanan yang gak pernah saya denger sebelumnya: Pacco’ dan Lawa. Abang ojek yang saya ajak makan langsung nanya: “biasa makan ikan mentah?”. Ternyata ini menu yang kayaknya gak cocok buat saya hehe. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pramusaji yang sabar ladenin saya akhirnya saya pesan Kapurung. Dan ternyata gak salah pesan ini. Rasanya luar biasa enak.
Kapurung ini semacam sop dengan kuah ikan dan bumbu rempah yang pasti banyak banget. Kalau pernah makan bubur manado yang penuh dengan sayur-sayuran, kira-kira isinya kapurung mirip-mirip lah: Jagung, tomat, terong, dan banyak sayur dan dedaunan yang dimasukan kedalamnya selain ikan sebagai lauknya. Dan yang bikin makanan ini makin unik adalah bola-bola kenyal yang dibuat dari tepung sagu. Pak Fauzi bilang kalau Kapurung ini makanan khas orang Luwu.
Berhubung sudah pakai sagu saya agak sangsi juga ketika ditawarkan mau pakai nasi atau nggak sama pramusaji. Dan benar saja. Satu porsi Kapurung cukup bikin perut saya menggembung kekenyangan. Selain Kapurng saya pesan juga 3 tusuk sate udang bakar yang ukurannya jumbo dan peyek mairo. Yang terakhir ini semacam gorengan ikan teri yang mantep banget rasanya. Bener-bener puas makan disini.
Yang bikin hati bertambah senang tentunya soal harga hehe. Kami memesan dua porsi kapurung, 3 tusuk sate udang, dan seporsi (isi 3) peyek mairo plus 2 gelas es jeruk cuma keluar uang Rp. 60 ribuan sahaja. Kalau ada kesempatan ke Palopo, cobalah melipir ke Lesehan Lela..gak nyesel pasti !
[googlemaps https://www.google.com/maps/embed?pb=!1m14!1m8!1m3!1d498.0390474810279!2d120.20558750005989!3d-3.0104178699996518!3m2!1i1024!2i768!4f13.1!3m3!1m2!1s0x0%3A0x439404227d6598ad!2sLesehan+Lela!5e0!3m2!1sen!2sid!4v1514880404227&w=800&h=600]
Pengetahuan dalam genggaman: Perpustakaan dan membaca zaman now
Tidak ada tempat yang lebih menyenangkan selain perpustakaan yang hening dengan deretan buku yang tersusun rapi di rak-rak yang tinggi menjulang. Aroma kertas tua yang menguar ke udara menambah suasana magis perpustakaan, seolah mengundang pengunjungnya untuk bertualang menembus waktu dan lintasan sejarah. Menceburkan diri ke dalam kolam pengetahuan, meresapi herorisme para pendahulu, atau sekedar berasyik masyuk membaca romansa para pencinta.
Saya pernah mampir ke perpustakaan yang diyakini sebagai perpustakaan, di era modern, yang punya koleksi terbanyak di dunia: The Library of Congress di Washington, DC. Sempat juga “mondok” di perpustakaan kampus the University of Sydney yang buka 24 jam dan sangat memanjakan kami, para mahasiswa-nya, dengan berbagai fasilitas yang membuat kami senyaman di rumah, selain tentunya koleksi buku yang melimpah. Saya juga pengunjung rutin perpustakaan nasional dan perpustakaan daerah Jakarta. Pernah juga saya terdaftar sebagai member dari perpustakaan sekolah filsafat dan teologi di bilangan Rawasari yang penuh dengan calon-calon imam yang rendah hati dan membaca dengan kekhidmatan melebihi orang kebanyakan. Semua perpustakaan itu meninggalkan kesan mendalam pada diri saya, tapi tak ada yang bisa mengalahkan Perpustakaan Pusat UI lama.
Continue reading “Pengetahuan dalam genggaman: Perpustakaan dan membaca zaman now”Subak Bukan Cuma di Bali: Terasering di Salu Rante
Lanskap sawah bertingkat yang menghijau di lembah yang dikelilingi gunung dan perbukitan nan megah membuat mata saya seolah seperti mendapatkan detox dari “racun” lanskap perkotaan yang terasa sumpek dijejali oleh ribuan kendaraan yang meraung ditengah kemacetan serta gedung-gedung tinggi yang berhimpitan, menghalangi sudut pandang urban dwellers ke langit luas yang sejatinya membuka pikiran. Itu yang saya rasakan saat melewati Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo, Kab. Luwu Utara minggu lalu ketika menempuh perjalanan darat 2 hari 1 malam ke dataran tinggi Seko. Saat melihat lanskap yang luar biasa ini, saya tidak bisa tidak teringat pada Subak, sistem manajemen dan pengairan persawahan di Bali yang sudah masuk ke dalam daftar situs warisan dunia UNESCO yang dilindungi berdasarkan World Heritage Convention.

Jamal, pemuda adat Seko yang mengantar dan membantu pelaksanaan kegiatan selama saya di Seko, mengatakan bahwa modal persawahan bertingkat seperti ini sudah lama dipraktekkan oleh orang Rongkong (Dusun Salu Rante di Desa Rinding Allo memang masuk dalam wilayah adat Rongkong, yang saat ini juga masuk dalam wilayah administratif Kecamatan Rongkong). Penasaran saya coba googling database dan menemukan dua publikasi di tahun 2006 dan 2011 tentang sistem “Subak” di wilayah Luwu, Sulawesi Selatan oleh Dik Roth, peneliti dari Wagningen University:
- Which Order? Whose Order? Balinese Irrigation Management in Sulawesi, Indonesia
- The Subak in Diaspora: Balinese Farmers and the Subak in South Sulawesi

Roth berpendapat bahwa sistem persawahan a la Subak di Luwu dipengaruhi pula oleh migrasi orang-orang Bali ke Sulawesi (sukarela dan dan tidak) sejak zaman kolonial hingga periode transmigrasi era Orde Baru. Apapun itu, saya sih yakin pengetahuan tentang manajemen persawahan yang dibawa oleh para pendatang dari Bali bercampur dengan pengetahuan dan kearifan lokal warga di Luwu dan menghasilkan pengelolaan sawah yang khas Luwu. Yang paling penting: membuka jalan buat terciptanya lanskap yang luar biasa indah di dataran tinggi Luwu. Dan akhirnya saya cuma mau bilang kalau: Subak bukan cuma di Ubud, dan Indonesia bukan cuma Bali 🙂
Nusantara ini memang tanah yang kaya betul.
***
FYI, kemarin saya berkenalan dengan kawan baru yang ternyata asli Rongkong. Dia memberikan kabar kalau di titik saya ambil foto di Salu Rante ini telah terjadi longsor. Semoga bisa segera diatasi. Perjalanan ke Seko ketika tidak ada longsor saja sudah amat sangat berat (buat saya sih). Saya gak bisa bayangkan bagaimana perjalanan kalau ada titik longsor disana.
Memoar Cikalong Kulon: Tentang Kebersamaan di Kebon Benteng
Tentang kebun dan pekarangan yang luas,subur, dan rimbun di rumah saat tinggal di Cikalong Kulon 1990-1995
Saya punya cita-cita jadi petani. Awalnya saya cuma membayangkan bertani, tinggal di kaki gunung yang sejuk, hening, dan jauh dari hingar bingar kota adalah kemewahan paripurna. Lalu motivasi bertambah setelah lamat-lamat mengeja bioregionalisme. Memakan apa yang kita tanam dan menanam tidak lebih dari apa yang kita butuhkan adalah bagian dari kearifan pola hidup leluhur, dan penghormatan terhadap pola hidup berkelanjutan yang pernah ada dan diterapkan di sebuah wilayah adalah bagian dari penghayatan bioregionalisme. Saya belum bisa sampai pada level itu. Tapi merasakan pengalaman memakan apa yang terhampar di pekarangan rumah pernah saya rasakan saat tinggal di “Benteng” Pegadaian Cikalong Kulon, Cianjur tahun 1990-1995.
Seperti yang sebelumnya sudah saya ceritakan disini, saat bermukim di Cikalong Kulon, Cianjur, saya menempati rumah yang berada dalam lingkungan kantor Pegadaian Cabang Cikalong Kulon. Saya dan kedua adik saya menyebut tempat tinggal kami ini sebagai “benteng” karena posisinya yang terisolir dari dunia luar dengan tembok yang tinggi dan pagar besi di sisi depan dan belakang. Dalam “benteng” ini terdapat dua bangunan utama yang konon sudah berdiri sejak jaman Belanda dulu: rumah tua yang menjadi rumah dinas papah selaku kepala cabang Pegadaian; dan gedung kantor Pegadaian yang menempel dengan gudang besar tempat menyimpan barang gadaian, yang atap plafonnya ditinggali ribuan kelelawar. Ribuan kelelawar ini menghasilkan suara berderit sepanjang hari yang bagi kami penghuni benteng ini sudah seperti ambient noise yang tidak menggangu dan tanpanya malah ada yang aneh.

Selain dua bangunan ini, benteng juga dipenuhi oleh pohon-pohon besar dan semak-semak yang tumbuh subur mengelilingi bangunan utama. Kami menyebutnya “kebon”.Di kebon tumbuh beragam pohon buah dan sayuran. Ada pohon singkong, pohon pisang, pohon jambu air dan jambu biji, pohon nangka, pohon pepaya, pohon mangga, dan favorit saya: pohon Pete! Ada juga tanaman merambat yang belakangan saya tau daunnya merupakan bahan dasar pembuatan cincau. Hampir tiap Minggu tukang cincau datang ke kebon kami meminta izin memetik daun cincau untuk usahanya. Papah tidak pernah melarang mereka masuk kedalam komplek benteng dan mempersilahkan tukang cincau mengambil daun cincau sepuasnya. Toh mereka benar-benar hanya mengambil seperlunya. Tidak kemaruk mengambil semaunya. Biasanya tukang cincau itu selalu datang dengan membawakan kami sekantong besar cincau dengan gula manis cair yang kental.
Kebon juga kerap jadi tempat main saya dan teman-teman sepulang sekolah. Ada satu teman kami namanya Entis. Diantara kami dia yang paling jago memanjat pohon. Biasanya kami meminta Entis untuk naik ke atas pohon pepaya yang tinggi, mengambil pepaya muda dari situ untuk kemudian ngarujak alias bikin rujak petis pedas khas Sunda dengan pepaya muda sebagai sajian utamanya. Pepaya muda kami potong kecil-kecil lalu dicelupkan ke bumbu petis yang aduhai nikmatnya. Untuk urusan pembuatan sambal petis, si Entis ini juga jagonya. Kesamaan fonem petis dengan Entis kadang jadi bahan olok-olokan kami buat si Entis: Si entis tukang petis. Si Entis beuki petis (si Entis suka petis) 😀
Selain ngabotram petis kami juga kerap ngabotram nasi liwet/ngaliwet (ini apa ya, pokoknya nasi yang dimasak overcooked tapi gak sampai jadi bubur) di kebon benteng yang subur ini. Oya, “ngabotram” atau “botram” adalah bahasa Sunda yang artinya kira-kira makan bersama-sama di ruang terbuka dengan tujuan untuk mempererat kekeluargaan dan persahabatan. Oleh karena itu suasana saat ngabotram selalu seru, banyak canda, santai dan penuh kehangatan. Nah untuk urusan ngabotram nasi liwet ini biasanya dilakukan oleh Mamah. Bahan-bahan yang dibeli cuma nasi dan ikan teri. Selebihnya, baik bumbu maupun sayuran pelengkap diambil dari kebon. Termasuk daun pisang lebar yang menjadi alas makan bersama saat ngabotram. Kalau ngarujak dilakukan dengan ngabotram menggunakan ulekan, maka ngaliwet dilakukan dengan menggunakan daun pisang. Kami duduk melingkari daun pisang lalu mamah menunangkan nasi liwet yang sudah matang ke daun pisang untuk dimakan beramai-ramai. Saya harus akui yang bikin nasi liwet bertambah nikmatnya berkali-kali lipat adalah campuran peteuy alias pete yang dipetik dari kebon. Biasanya setelah ngaliwet kami petik buah yang sudah matang di kebon: nangka, jambu atau mangga ketika musimnya. Sungguh beruntung saya pernah tinggal di rumah yang pekarangannya luar biasa subur seperti ini.
Saya benar-benar rindu suasana akrab penuh kehangatan di kebon yang hijau, rimbun, dan subur seperti di Cikalong Kulon dulu. Bisa jadi obsesi saya menjadi petani ada pengaruh juga dari pengalaman masa lalu yang indah ini.
Memoar Cikalong Kulon: Tentang Jawa di tengah Sunda
Cerita tentang Pak Subagiyana, guru SDN Inpres 2 Cikalong Kulon tahun 1990an
Namanya Subagiyana, kami memanggilnya Pak Bagi. Dari namanya jelas dia bukan orang Sunda seperti kebanyakan orang Cikalong Kulon di awal tahun. 1990an.Pak Bagi adalah salah satu guru di SDN Inpres 2 Cikalong Kulon. Jaman SD dulu, guru wali kelas merangkap sebagai guru semua mata pelajaran kecuali pelajaran agama dan olahraga. Kalau saya tak salah ingat Pak Bagi adalah guru wali kelas saat saya duduk di kelas 4.
Sebagai satu dari sedikit orang Jawa di kampung Sunda, Pak Bagi ini sangat mudah dikenali. Meski beliau bisa berbahasa Sunda, logat medok khas orang Jawa Tengah gak bisa hilang begitu. Itu saja sudah cukup menjadikan Pak Bagi sosok yang jenaka bagi kami.
Ada satu kenangan saya dengan Pak Bagi yang mungkin akan saya kenang seumur hidup. Setidaknya sampai dua lagu sederhana yang beliau ajarkan bisa benar-benar hilang dari kepala saya. Saya gak ingat judulnya, tapi lirik dari dua lagu ini benar-benar seperti diinjeksikan kedalam ingatan saya, sampai sudah hampir 20 tahun lirik dua lagu ini gak pernah bisa hilang dari ingatan.
Lagu pertama tentang 8 penjuru mata angin. Liriknya? Cuma 8 penjuru mata angin: “Timur, Tenggara, Selatan, Barat Daya, Barat, Barat Laut, Utaraaaaaaaa (dibagian ini memang sengaja dipanjangkan saat menyenandungkannya), Timur Laut”. Oleh Pak Bagi, lagu ini hanya boleh dinyanyikan sambil berdiri dengan posisi pembuka menghadap ke arah Timur, kemudian berputar ke 8 arah penjuru mata angin saat lagu mulai disenandungkan. Karena saat itu kami sekolah dari jam 7-10 pagi, Pak Bagi memberi kami petunjuk bagaimana menentukan arah Timur: cari dimana arah matahari pagi terbit. Ini lebih dari sekedar lagu buat saya, tapi semacam basic life skill yang masih berguna sampai sekarang. Setidaknya saya bisa menentukan arah mata angin hehe.
Lagu kedua buat saya sungguh amat sangat unik. Liriknya tentang kejayaan Majapahit. See! aneh kan? Ada orang Jawa ngajarin anak-anak Sunda lagu tentang kejayaan Majapahit! Sungguh terlalu hehehe. Pak Bagi kayaknya antara lupa, cuek, atau mungkin sama sekali gak tau sejarah pahit antara bangsa Sunda dengan bangsa Jawa gara-gara insiden Perang Bubat antara Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Pajajaran dulu. “Dendam kesumat” orang Sunda soal ini masih terlihat sampai sekarang. Coba saja lihat jalan-jalan besar di kota-kota di Jawa Barat. Jangan harap bisa menemukan Jalan Gajah Mada atau Jalan Majapahit disana, padahal itu dua nama jalan yang lazim ditemukan di kota-kota besar Indonesia.
Oke lupakan soal perang Bubat. Berikut lirik lagu Majapahit yang diajarkan Pak Bagi:
Majapahit santosa jaya
meliputi seluruh nusantara
Hayam Wuruk ratu yang sakti
Gajah mada patih yang teguh hati
Lagu ini dinyanyikan dengan nada sendu macam penyanyi sinden. Memang lagu yang njawani banget, dan ini yang bikin lagu ini jadi makin lucu sebab dinyanyikan oleh anak-anak Sunda yang juga medok banget Sundanya 😀
Saya menebak-nebak, lagu ini mungkin secara turun temurun diajarkan di kampungnya Pak Bagi di Jawa dulu. Berkat beliau saya mengenal sosok Gajah Mada dan Hayam Wuruk, meski sekarang saya menolak untuk sepakat dengan dua lirik pertama lagu itu. Majapahit meliputi seluruh nusantara itu sepertinya klaim sejarah yang masih harus digali lebih dalam. Lagipula cerita tentang Majapahit ini konon banyak rekayasa untuk kepentingan nation building di awal pendirian Republik Indonesia. Bahkan sosok Gajah Mada yang wajahnya kita kenal sekarang konon merupakan reka ulang yang ngasal yang dilakukan oleh Prof. Mr. Mohammad Yamin, sejarawan dan ahli hukum tata negara asal Sawahlunto yang “njawani banget”. Malah kabarnya “wajah” gajah mada yang direka ulang itu tak lain wajah Yamin sendiri. Saya juga kok ya merasa klaim “Majapahit meliputi seluruh nusantara” ini agaknya jadi semacam pembenar dominasi Jawa atas nusantara….hehe.
Keterangan gambar:
Patung kepala Gajah Mada di Museum Trowulan
(sumber: https://www.britannica.com/biography/Gajah-Mada)
Suram EPA Di Tangan Scott Pruitt
Tidak ada berita yang cukup bikin perut mual dan rasa was-was memuncak sepanjang pekan kemarin kecuali berita tentang sesumbar Scott Pruitt, pimpinan Environmental Protection Agency (EPA) pilihan Trump, saat pertemuan kelompok konservatif Amerika Serikat akhir pekan kemarin.
Penunjukan Scott Pruitt, mantan Jaksa Agung negara Bagian Oaklahoma, memang menuai kontroversi. Pruitt, sebagai jaksa negara bagian, telah menggugat institusi yang sekarang dipimpinnya tak kurang dari 14 kali. Semua gugatannya memiliki kepentingan dengan bisnis “kotor” dan “padat karbon” dari sektor industri minyak dan gas yang memang secara ketat diawasi oleh EPA. Belakangan malah terkuak email yang menunjukan keterkaitan erat Pruitt dengan berbagai perusahaan minyak saat ia menjalankan tugasnya sebagai Jaksa Agung Oaklahoma.
Continue reading “Suram EPA Di Tangan Scott Pruitt”





