Sepotong Arab di Pinggiran Sydney

Terletak di sudut “kampung” Arab-nya Sydney Metro, masjid ‘Ali bin Abi Thalib, atau yang dikenal dengan masjid Lakemba ini kokoh berdiri. Masjid ini memang berdiri di Lakemba, sebuah kawasan sub-urban arah barat daya Sydney CBD yang berjarak sekitar 16 km dari pusat kota, atau sekitar 30 menit perjalanan menggunakan kereta jurusan Bankstown (T3). Masjid yang didirikan oleh komunitas Muslim keturunan Lebanon ini merupakan masjid terbesar di Australia. Bisa dibilang masjid ini merupakan pusat aktivitas kegiatan keislaman di kota Sydney. Masjid ini juga memberikan pelayanan seperti pemulasaran dan shalat jenazah, tak pelak masjid ini selalu dirujuk oleh umat muslim yang sedang berada di kota ini setiap mereka membutuhkan pelayanan atau ritual muslim lainnya selain shalat berjamaah.

Masjid Lakemba saat perayaan Idul Adha 2016 (dok. pribadi, 2016)
Interior ruang shalat Masjid Lakemba (dok. pribadi, 2016)

Kawasan Lakemba yang menjadi tempat berdirinya masjid ini memang dikenal sebagai kawasan dengan populasi Muslim terbesar di kota Sydney. Sebagian besar merupakan warga Arab dari Lebanon, Iraq, Syria. Ada pula mereka dari wilayah Asia Selatan khususnya Bangladesh dan Pakistan. Bisa dibilang kawasan ini merupakan tempat tinggal imigran muslim yang memutuskan untuk mengadu nasib di benua ini.

Pawai Hizbut Tahrir di salah satu sudut jalan Lakemba CBD (dok. pribadi, 2016)

Berjalan-jalan di kawasan ini, anda akan menemukan suasana yang berbeda dari kawasan lain di kota Sydney. Saat saya pertama kali pindah ke sini saya merasa seperti meninggalkan Australia menuju salah satu negara Timur Tengah atau kota di pinggiran Karachi. Pria-pria berjenggot menggunakan jubah atau shilwar-khamiz, semacam baju koko dan terusan yang lazim dipakai orang-orang di Pakistan/ Afghanistan, menjadi pemandangan yang hampir tiap hari saya temui. Belum lagi muslimah berjilbab, mulai dari yang biasa aja sampai model burqa’ bercadar. Suara orang bercakap-cakap dalam bahasa Arab, Farsi, atau Bengali juga jadi santapan sehari-hari. Toko-toko dan restoran di sini juga penuh oleh ragam kebutuhan dan panganan yang khas Timur Tengah atau Asia Selatan. Saya seringkali berkelakar, di Australia ini muslim akan sulit mencari makanan halal, tapi tidak di Lakemba, sebab disini justru amat sulit mencari makanan haram >.<

Dengan demografi seperti ini, tidak mengherankan jika bermunculan masjid sebagai penunjang sarana beribadah warga musim yang cukup banyak di kawasan ini. Sekurang-kurangnya ada 2 masjid besar dan beberapa musholla yang tersebar di Lakemba. Semua tempat ibadah itu didirikan oleh komunitas masing-masing. Ada Musholla yang merangkap jadi semacam Islamic Center yang didirikan orang Indonesia, ada masjid cukup besar di atas blok pertokoan/restoran yang dikelola orang Bangladesh, dan masjid Lakemba, masjid terbesar yang dikelola oleh Asosiasi Muslim Lebanon. Meski bisa dibedakan dari pengelolanya, masjid-masjid ini terbuka untuk semua orang, muslim dan non-muslim, terutama Masjid Lakemba yang memang sudah jadi semacam tourism spot.

Mesjid yang dikelola Komunitas Bangladesh, terletak di lantai 2 komplek pertokoan di seberang Stasiun Lakemba (dok. pribadi, 2016)

Menjadi muslim di negeri ini jelas berbeda dengan di tanah air dimana muslim menjadi kelompok mayoritas. Apalagi di Australia saat ini berkembang pula politik sayap kanan yang memadang kelompok imigran, khususnya yang kebetulan beragama islam, secara peyoratif. Kondisi ini menjadi semakin rumit ketika tahun 2014 lalu terjadi serangan teroris tunggal oleh imigran musim keturunan Arab di Martin Place, salah satu kawasan bisnis di pusat kota Sydney. Sentimen negatif terhadap kelompok muslim menjadi hal yang sulit dihindari.

Untungnya ini Australia. Kenapa begitu?

Meski gerakan politik sayap kanan tumbuh belakangan ini, sepengamatan saya ini tidak mewakili pandangan kebanyakan warga Australia yang berfikiran terbuka, pluralis, dan toleran terhadap perbedaan. Selepas terjadinya serangan teroris tahun 2014 lalu, muncul kekhawatiran serangan balasan atau ujaran dan tindakan kebencian kepada kelompok muslim, khususnya muslimah berhijab yang dapat dengan mudah dikenali identitas religiusnya. Namun kehawatiran ini tidak pernah benar-benar terjadi. Musababnya, ekspresi solidaritas yang ditunjukan oleh warga Australia yang non-muslim, yang menangkap kecemasan saudara-saudara mereka yang muslim akan adanya persekusi pasca serangan teror. sebuah hashtag twitter dengan tajuk #illRideWithYou muncul dan menjadi viral. Sebuah gerakan untuk menawarkan teman-teman muslimah rekan perjalanan pulang di kereta, bus dan sarana transportasi lainnya agar mereka tidak takut terhadap persekusi yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab pasca serangan teror. sebuah inisiatif kemanusiaan yang bikin mata meleleh.

Billboard layanan jasa pengurusan Zakat di Lakemba CBD (dok. pribadi, 2016)

saya juga percaya kalau Islamophobia tidak hanya dikecam tapi juga dianggap kejahatan serius negeri ini. Hal ini saya lihat misalnya di kampus saya (University of Sydney) ketika terjadi pengrusakan sarana ibadah di musholla kampus oleh pihak yang tidak bertanggung jawab saat kampus sedang libur. Pihak kampus tidak hanya mengecam tapi juga melakukan pengusutan dan meningkatkan keamanan mahasiswa muslim dan sarana ibadah mereka di kampus  dengan menambah kamera pengawas dan akses untuk menghubungi pihak keamanan kampus. Semua itu cukup meyakinkan saya kalau rasisme dan islamophobia bukan bagian dari kultur warga Australia yang pluralis, terbuka, egaliter dan bertoleransi pada perbedaan. Hal yang tidak terlalu mengagetkan buat saya, menilik catatan historis gerakan emansipasi yang diinisiasi oleh generasi pertama bangsa Eropa dibenua ini :anak keturunan para terpidana kerajaan lnggris yang dibuang ke Australia di abad 17. Meski mereka juga masih menyimpan catatan serius soal perlakukan pada masyarakat adat asli Australia yang dijuluki “Aborigin” itu. Persoalan yang masih bagai api dalam sekam bahkan sampai saat ini (soal ini kayaknya harus dibuat di tulisan terpisah)

Australia adalah tempat yang menyenangkan. Negeri ini adalah sebuah melting pot, tempat bertemu dan membaurnya kebudayaan lintas bangsa dan keyakinan. sebuah negara sekuler yang demokratis yang menjamin hak semua orang  untuk mengartikulasikan keyakinannya selama itu tidak merugikan pihak lain. Di negeri ini saya melihat sekilas bagaimana orang-orang dari suatu bangsa yang besar mencoba mengatasi perbedaan-perbedaan, mengenyahkan prasangka, dan maju bersama sebagai bagian dari sebuah negara besar: Australia.

 

-Lakemba, bulan puasa tahun 2016

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.