BEM UI, Kartu Kuning, dan Pengalaman Gw di BEM UI

on

Gw mau ikutan mbacot soal BEM UI dan “insiden” kartu kuning kemaren, ini bakal panjang banget dan kayaknya lebih kaya refleksi gw waktu sempet aktif di BEM UI.

Yang gak punya kerjaan bisa baca tulisan ini hahahahaha

Pertama2 gw mungkin harus bikin disclaimer: gw pernah aktif di BEM UI, gw bukan KAMMI (gak ada KAMMI di UI waktu itu, gak tau sekarang) tapi tahun2 sebelum ikut BEM UI (sekitar 2006/2007) bisa dibilang itu terakhir kalinya gw punya hubungan dengan kelompok the so-called dakwah kampus (sebagai anak muda yang ketika itu dalam pencarian identitas gw rasa wajar aja pernah berasosiasi dengan berbagai macam kelompok ya. Bahkan kabarnya Munir saja sebelom jadi human rights defender pas mahasiswa pernah gabung grup salafi yang lebih gimanaaa gitu dari anak rohis or dakwah kampus). Jadi bisa dibilang, gw masuk BEM UI ketika itu sebagai seorang “outsider”, bukan orang yang “di-plot” oleh the so-called aktivis dakwah kampus buat ada disana. Waktu kampanye ketua BEM UI waktu itu gw malah bantu2 calon ketua BEM (dari kelompok yang sama) yang gw yakin memang “diskenariokan” buat kalah wkwkwkw…yah gw rasa sekarang mereka juga gak malu2 lagi kok buat akui soal “dominasi” mereka dalam politik kampus dan afiliasi mereka ke PKS, partai politik yang pendirinya sebagian adalah senior2 mereka dalam gerakan yang sama. Anekdot “botol kecap saja kalau ditunjuk jadi ketua BEM pas Pemira (pemilu kampus) pasti jadi ketua BEM” memang ada benernya. Ini adalah salah satu hal yang bikin gw (mantan anak rohis SMA yang sudah baca Madilog pas SMA dan somehow diam-diam mengidolakan Che Guevara ketimbang tokoh2 islam wkwkwkw) memutuskan untuk benar2 keluar dari pengaruh kelompok ini. Gw anggap itu masa pencarian jati diri, dan untuk bisa sampai di titik gw sekarang (a proud secular, liberal en leftist wkwkwkw), gw merasa itu tahapan yang gw harus lewati sih. Tidak ada penyesalan dan tidak (perlu) harus merasa malu dengan itu. Taun2 sebelum kurun 2006-2007 itu bener2 terakhir kalinya gw bersentuhan dengan ide2 dakwah kampus dan kelompok dibelakangnya BEM UI ini. Waktu itu gw malah lebih sering main ke Jalan Tegal Parang en beberapa bulan sebelom lulus sempet mondok belajar bantuan hukum struktural di Jalan Diponegoro 74, secara teknis dan idologis bersebrangan dengan kelompok akhi dan ukhti ini hehe.

Oya waktu itu gw masuk BEM UI (seinget gw sih) karena diminta. Awalnya diminta jadi staff ahli ketua BEM UI, yang dalam keyakinan gw adalah posisi yang sangat gak berguna hahahaha…makanya gw minta agar ada restrukturisasi. Posisi staff ahli dihapus, diganti dengan badan baru dalam tubuh badan pengurus harian BEM UI namun dengan kedudukan yang sama dengan staff ahli di kepengurusan BEM sebelumnya (langsung dibawah kendali ketua BEM dan diatas semua kepala departemen/badan lain). Dan gw minta privilege buat milih sendiri staff gw ( to some extent, ini bikin orang2 yang lama “berkarir” di BEM UI agak bagaimana gitu sama gw dan tim yang gw pilih..karena dalam bayangan mereka posisi gw harusnya berperan sebagai staff ahli dan orang2 dalam lingkaran staff ahli ini harus orang2 senior yang mengayomi mereka..sementara gw milih orang berdasarkan kriteria yang gw butuhkan untuk bikin badan baru: Pusat kajian dan studi gerakan alias PUSGERAK yang sering diplesetin jadi PUJASERA alias pusat kajian serba ada (yang mana gw gak keberatan dan gak merasa tersinggung hahahahah). Staff2 “karir” di BEM UI jaman gw yang pernah akif di BEM UI sebelumnya kayaknya agak terganggu ketika “staff ahli” mereka diisi outsider yang milih orang2 yang asing dan berasal dari luar zona nyaman mereka, dua orang diantaranya malah itungannya anak maba, mahasiswa baru yang baru injek tingkat dua waktu itu..yang gw pilih ya karena mereka punya kualitas hahahahaha. ybs ini (Moch Faisal Karim) sekarang kayaknya jadi scholar yang mumpuni di bidangnya. Oya gw waktu itu minta juga kakak Shofwan Al Banna Choiruzzad II yang juga seorang scholar yang kompeten sekarang buat gabung di pusgerak. kadang kalo lagi ngobrol sama mereka gw suka gak mudeng dan belaga sok ngerti aja wkwkwkw..otak mereka terlalu encer kayaknya hahahahaha

Wait, ini disclaimer jadi panjang amat. Gpp deh biar apa yang gw tulis berikut bisa dipahami dalam konteks dan perspektif yang tepat.

Pertama, tentang BEM UI dan aksi massa (demo maksudnya)
Niat gw masuk BEM UI waktu itu sebetulnya didasari oleh rasa dongkol sama the so-called aktivis dakwah kampus yang technically mengendalikan BEM UI dari sejak pertama kali berdiri sekitar tahun2 98-99an. Kadang mereka melakukan hal yang benar dan memang harus dilakukan dengan mengarahkan BEM UI pada jalur yang seharusnya macam periode-periode setelah reformasi (ketika Senat Mahasiswa UI akhirnya bergaanti jadi BEM UI). Pada kasus tertentu mereka juga “menggerakan” BEM UI ke arah yang tepat dalam penyikapan2 kebijakan publik yang berdampak luas bagi masyarakat. Namun kebanyakannya, seenggaknya dalam pandangan gw, arahan dari mereka memiliki tendensi untuk menopang agenda politik dari partai yang secara kultural dan ideologis berafiliasi sama mereka: PKS. Ini makin kentara ketika demokrasi kita pasca reformasi mulai berkespresimen dengan otonomi daerah, pemilu legislatif, dan pemilihan presiden dan kepala daerah secara langsung. Makanya gw jengah betul ketika BEM UI digerakan untuk memelototi pilkada depok tahun 2005an dimana calon PKS waktu itu maju. Atau waktu pilkada Jakarta taun 2008an ketika adang darojatun didorong oleh PKS buat jadi DKI 1..duh amit2 deh. Agenda (politik) BEM UI meski secara subtle emang kentara betul ketika itu jadi bagian dari perpanjangan agenda politik diluar kampus . Kalaupun mereka tidak directly dukung kontestan yang disokong PKS, dalam pandangan gw BEM UI harusnya gak jadi macam volunter pemantau pemilu, ada hal lain yang lebih substantif ketimbang itu dan jauh lebih penting dari pada jadi bagian dari sekrup proses politik elektoral, yang oleh Wiji Tukul secara satir diledek:“Akankah menjadi bertambah berasmu setelah suara dihitung…pemilu o pilu pilu pilu” hehehe.

Jadi balik ke awal, gw masuk ke BEM UI dengan menawarkan agenda yang kemudian dikenal pada masa itu sebage platform gerakan. Intinya adalah: menggerakan BEM UI untuk fokus pada perjuangan hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya. BEM UI gak perlu memelototi agenda2 pemilu yang lebih ke hak-hak sipil-politik (well, pada masa itu gw harus akui kalau gw merasa HAM sipol itu kanan banget dan HAM Ekosob yang kiri itu yang sebenar2nya HAM. Seiring berjalan waktu dan pendidikan yang gw dapat ini jelas pandangan yang super keliru. HAM itu saling terkait sipol maupun ekosob). Pernah ada kawan Gerakan Mahasiswa Pembebasan yang HTI itu menyindir platform gerakan Hak Ekosob gw itu sebagai gerakan dengan ontologi perut. Gw sih gak keberatan dengan itu. Memang menurut gw (waktu itu) lebih penting berjuang untuk bikin orang gak laper, bikin orang bisa akses pendidikan, bikin orang bisa dapat layanan kesehatan yang terjangkau berkualitas ketimbang berjuang buat memastikan pemilu berjalan dengan jurdil hahahahaha. Dalam keyakinan gw, kepala orang bisa dan pasti berbeda2. Tapi soal perut, semua pasti sama: soal lapar pasti sama antara perut orang islam sama orang atheis, sederhananya begitu wkkwkwkwkw (iyes ini jelas pandangan yang keliru dan terlalu simplisistik, gw anggap ini bagian dari pembelajaran dan pendewasaan)

Jadi bagaimana perjuangan hak ekosob itu? Praksisnya gw menawarkan agar BEM UI harus jeli soal ekonomi politik dan melek anggaran. Fase-fase penting dalam proses penyusunan APBN itu menjadi fokus utama yang harus disoroti oleh BEM UI. Isu2 penting soal perdagangan internasional dan negosiasi-negosiasinya harus jadi santapan utama aktivis BEM UI. Dengan pola pendekatan begini, dalam keyakinan gw BEM UI gak perlu lagi bersikap reaktif ketika, sebut misalnya pemerintah menaikkan harga BBM. Dalam pandangan gw, kalo BEM UI bisa baca nota keuangan dan RAPBN, semua hal yang disebelin mahasiswa: kenaikan TDL, BBM bisa diantisipasi sejak pertama kali direncanakan sama pemerintah dan DPR selaku otorisator anggaran.

Langkah berikutnya yang paling penting dalam agenda perjuangan Hak Ekosob ini versi gw waktu itu adalah: jangan melulu mengandalkan demontsrasi dan aksi massa. Waktu itu gw ingin “menyadarkan” aktivis BEM UI dan pendukung2nya (yang memang pada kenyataannya adalah aktivis dakwah kampus atau suporternya) kalau perjuangan mengubah kebijakan publik itu gak cuman bawa ratusan orang demo, nyanyi-nyanyi dan orasi depan istana atau komplek DPR. Long Macrh dan pretending kalo kita mau ribut sama polisi. Cara begitu mungkin relevan sekali dua kali, cuman jadi basi kalo itu melulu yang dikerjakan. Gw bener2 kaget dan shock ketika sudah hampir sebulan di BEM UI, salah seorang anggota BPH BEM UI (kepala departemen) nyindir gw, kira2 begini: “Ayo dong kapan ini kita demo, udah lama ini gak olahraga” (dengan senyum2 dan ambil posisi stretching kaya mau olahraga)…..ebuset dalam pikiran orang ini demonstrasi dikiranya olahraga yang bisa dilakukan seenak jidat wkwkwkwkw. Pas diawal itu kadang gw mikir: kalo mau demo kita mau demo apa? Agendanya apa? Terus kenapa harus milih demo (yang bawa massa)? Apa gak ada pilihan lain emangnya? Gw sepakat kalau gerakan mahasiswa gak boleh tergantung momentum, cuman yang jangan keliatan bego juga kaya tiba2 bikin heboh dengan aksi massa yang gak jelas juntrungannya.

Berbekal buku panduan advokasi kebijakan publik yang ditulis Alm. Mansour Faqih, Pak Roem Topatimasang dkk gw bilang sama temen2 kalo ada buanyak model yang bisa digunakan buwat advokasi kebijakan publik. Dan terlebih kita saat ini gak hidup di era ORBA yang memang membuat gerakan harus berjalan secara klandestin dan konfrontatif. Kita hidup di era dimana demokrasi sudah mulai berjalan dalam relnya. Kita punya Mahkamah Konstitusi dimana kita bisa mengajukan klaim sebuah perundang-undangan melanggar konstitusi, kita punya akses ke parlemen buat nanya2 progress legislasi atau penyikapan parlemen atas kasus2 kontroversial dsb. Menggerakan massa dalam bentuk demonstrasi sekali waktu mungkin perlu dilakukan, cuman dalam pandangan gw ketika itu, hal itu gak lebih dari sekedar penunjang. Gerakan mahasiswa harus kreatif dan memanfaatkan semua peluang. Hal ini membuat BEM UI harus kerja lebih keras. Karena skill yang dibutuhkan buat ini gak Cuma kemampuan mengorganisasi massa tapi kemampuan membaca arah kebijakan publik yang dibuat oleh pemerintah. Artinya? Aktivis2 BEM UI harus lebih pinter, lebih sering baca koran, jurnal, dan buku2 teks yang bisa memperkaya argumen ketika mengkritik kebijakan pemerintah.

Singkatnya selain harus militan, aktivis BEM UI jelas harus lebih pinter (seacara akademik) dibanding mahasiswa kebanyakan. Ya gak mungkin kan lu mau fight di MK cuman modal semangat kalau UU Badan Hukum Pendidikan itu akan bikin sekolah makin mahal…ya lu harus belajar Hak Atas Pendidikan itu apa, lu harus tahu model2 badan hukum kaya bagaimana, komparasi dengan negara lain dsb. Kondisi ini membuat aktivis BEM UI gak Cuma jago bikin flyer2 propaganda tapi juga bikin makalah, yang berbobot ya pastinya !!!!!

Maka pas gw baca berita ketua BEM UI bikin aksi yang menurut gw teatrikal dengan ngacungin kartu kuning ke Jokowi pas dia kasih speech di Balairung, secara metode, gw anggap ini keren. Artinya mereka sudah mempersiapkan ini secara matang, ada isu yang mereka bawa, dan gak perlu makan banyak resources biar aksi mereka diperbincangkan khalayak en dapat sorotan media.

Model-model aksi teatrikal dalam ruangan gini biasanya dilakukan dengan nyelundupin spanduk buat dibentangkan ketika tokoh yang diincar berbicara atau yang paling ekstrim ngelempar pie atau sepatu macam dulu Bush ditimpuk sepatu sama jurnalis Iraq yang datang ke konferensi pers nya hehehe. Entah siapa yang cetuskan ide semprit peluit dan kasih kartu kuning ini, yang jelas ini bentuk aksi teatrikal yang gak cuman menyindir tapi juga unik. Untuk urusan ini gw kasih jempol ke mereka.

Kedua, tentang BEM UI, Papua, dan pengabdian kemasyarakatan…

Ada alasan kenapa nama badan yang gw bikin itu pakai embel2 “Studi Gerakan”, pada masa itu gw lagi gandrung2nya sama buku2 advokasi dan buku2 tentang gerakan petani dan reformasi (revolusi) agraria di Amerika Latin. Buku2 terbitan INSIST (yang akhirnya gw bener2 berinteraksi bahkan bikin program bareng dengan organisasi ini sekarang) jadi santapan sehari2 gw. Dengan semangat menggebu2 dan diobori oleh buku2 itu, gw memperkenalkan kalo “ada loh model lain dalam mendorong perubahan”. Tak bisa dipungkiri, saat itu gw kayaknya terbuai romantisme pejuang2 gerilya macam Che dan Sub-Marcos dengan Zapatista-nya. Gw bilang sama temen2 waktu itu kalau intelektual itu harus kaya Sub-Marcos, gw lupa nama aslinya siapa cuman kabarnya dia profesor filsafat gitu di Mexico, bukan asli masyarakat adat namun menghabiskan waktu berlama2 dengan mereka, mendapat kepercayaan dari mereka, “mendidik” mereka dengan gerakan perlawanan yang mencerahkan, dan akhirnya jadi juru bicara mereka dalam perjuangan bersenjata (kemudian perjuangan politik via komunike2 yang puitis) melawan kediktatoran dan terutama (ketika itu) Neo-Liberalisme yang mengancam kehidupan berbasis adat mereka dan lingkungan hidup/hutan tempat mereka tinggal.

Sub-Marcos ini bener2 menginspirasi gw. Dalam pandangan gw, dalam setiap aksi massa-nya BEM UI selalu mengatasnamakan “rakyat Indonesia”. gw kadang suka bertanya2, apa bener BEM UI itu representasi “rakyat Indonesia”. Gw juga tersentuh sama pemikiran Soe Hok Gie yang intinya kira2 mendidik rasa cinta tanah air itu bukan dengan slogan, tapi dengan mengenal dan tumbuh bersama masyarakat. Teladan Subcomandante Marcos dan petuah Soe Hok Gie ini membuat gw berpikir kalau program2 pengabdian kemasyarakatan (Pengmas) di BEM UI harus diarahkan sejalan dengan agenda politik BEM UI. Well, kegiatan2 Pengmas di BEM UI sebetulnya bukan hal baru. BEM UI ini rajin betul bikin beragam kegiatan sosial mulai dari Bakti Sosial, khitanan dan nikah massal, bantuan bencana (macam waktu Tsunami melanda Aceh dulu, BEM UI kirim grup relawan kesana) dan berbagai kegiatan sosial yang sifatnya insidental.

Nah waktu gw jadi staff ahli alias Pusgerak itu, gw menyarankan agar BEM UI punya semacam kegiatan pengabdian kemasyarakatan yang gak “hit and run”. Yang habis selesai acara gak pernah balik lagi ke lokasi kegiatan. Tapi tinggal dan menetap disana dalam kurun waktu tertentu. Belajar bersama masyarakat dan bersama-sama memberdayakan diri secara sosial, politik, dan ekonomi. UI pada waktu itu memang gak punya kemewahan program KKN macam yang dicetuskan Bapak Hukum Lingkungan Indonesia, (alm) Prof. Koesnadi Hardjasoemantri di UGM. Jadi di BEM UI ketika gw ada disana itu, kami bersama-sama merumuskan program Community Development (Comdev) yang mirip2 KKN.

Lokasi program Comdev ini memang bukan di Papua atau di wilayah adat suku Asmat seperti sindiran paduka jang mulja bapak presiden dan hulubalangnya. Ya yang logis aja lah, namanya mahasiswa kan harus kuliah, dan secara teknis anak UI ketika itu gak ada program KKN, jadinya ya gak memungkinkan di deploy ke lokasi yang jauh dari kampus dengan benefit perolehan kredit (SKS). Lagi pula, kalau mau buka mata dan telinga lebar2, gak jauh dari pusat kekuasaan masih banyak kok kantong2 kemiskinan dimana Gini Rasio itu bener2 bisa keliatan gak cuman sekedar dari grafik, data atau angka2 statistik.

Waktu itu lokasi Comdev dilakukan di daerah Leuwinanggung, yang secara administratif berada di perbatasan 3 wilayah: Depok, Jakarta, dan Bekasi. Program ini secara teknis di selenggarakan oleh Departemen Pengmas dengan supervisi langsung oleh staff ahli a.k.a Pusgerak: Kawan gw om Gianto Gie (yang sekarang masih konsisten dengan program pendidikan kritis buat anak2 di sekitaran tempat tinggalnya) dan om Muhamad Sowwam (yang sekolah tinggi2 sampai Paris dan balik ke Indonesia inisiasi gerakan mulia yang memastikan akses air bersih buat rakyat tjilik..agen SDGs banget deh wkwkwkw). Dalam program ini pun gw belajar banyak tentang masalah2 kelompok miskin kota. Belajar banyak dari Om Gianto dan Om Sowwam tentang model2 pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi kerakyatan (Waktu itu kita lagi gandrung juga sama model Grameen Bank-nya Moh. Yunus si Nobel Peace Prize Laureate itu).

Pas gw keluar dari BEM UI dan (akhirnya) lulus dari UI, gw denger program ini masih sempat berjalan beberapa tahun. Bisa dibilang ini memang eksperimentasi pada awalnya. Menjadikan kelompok yang kami damping waktu itu sebagai salah satu basis dukungan untuk gerakan politik BEM UI. Gak bisa dipungkiri model begini macam gerakan sosial sih, macam pendampingan kelompok buruh dsb. Meski gak seperti yang gw pikirkan pada awalnya, seenggaknya program pengabdian kemasyarakatan model gini jadi pembelajaran kami semua waktu itu. Hal ini dan pendekatan dalam aksi yang gw jelaskan sebelumnya diatas mensyaratkan aktivis BEM UI buat lebih banyak menghabiskan waktu di perpus dan kampung, kalau lagi gak sibuk kuliah di kampus.

Jadi, ketika Pak Pres dan suporter-nya nyindir2 soal BEM UI dikirim ke Papua, menurut gw ini salah alamat. Mending pada silaturahmi dulu ke Pusgiwa, tanya2 pada apa saja sih anak BEM UI ini. datengin mereka di markasnya BEM UI, lokasinya di sebrang stadion UI yang suka dipake om Andhika Bagol Akbar latihan lari (dari kenyataan?)

Ketiga, tentang BEM UI antek partai politik tertentu

Nah ini yang terakhir. Gw gak tahu afiliasi politik ketua BEM UI saat ini, gak kenal juga sama orangnya. Sudah luama banget gw gak main ke kampus. Jadi gak fair kalau asosiasi BEM UI dengan gerakan dakwah kampus (dan PKS yang jadi pelabuhan politik aktivis2 dakwah kampus) yang gw sampaikan di awal tulisan ini diberlakukan buat BEM UI zaman now. Jadi soal ini gw no comment.

Tapi apapun itu, mau si ketua BEM UI ini bagian dari aktivis dakwah kampus atau bukan (ini mungkin saja, karena gw denger pernah ada kejadian setelah gw lulus ketua BEM UI beberapa kali dipegang bukan oleh orang yang di plot oleh gerakan dakwah kampus), menurut gw orang yang mempermasalahkan afiliasi politik BEM UI dan ketua BEM UI ini adalah orang yang gimana ya….kampungan, kurang baca, en kurang wawasan. Hahahahahahaha

Pandangan kalo kampus harus netral dari politik (praktis) itu warisan pola pengekangan kebebasan berpikir dan akademik di kampus yang digagas oleh Soeharto dan alm. Prof Daud Jusuf (yang somehow gw merasa ini ironis banget, kok bisa2nya belio gagas ini yak dulu). Pandangan ini memang dibuat biar kampus gak banyak ngerecokin pemerintah macam era 1965-1974. Semua anasir2 yang punya potensi ngerecokin kekuasaan pemerintahan harus dijinakan, ini sejalan dengan dongen trilogi pembangunan: pertumbuhan ekonomi yang ditopang oleh stabilitas politik dan keamanan.
Orang2 yang masih merasa bahwa punya afiliasi politik itu tabu buat mahasiswa dan civitas academica menurut gw tergolong orang yang belom bisa move on dari NKK/BKK jaman orba. Coba lah itu gadgetnya dipake buat googling gerakan mahasiswa di berbagai negara. The very famous gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968 itu gak bisa lepas dari asosiasi gerakan mahasiswa sama kekuatan2 oposisi termasuk diantaranya Partai Komunis Perancis dan partai2 Sosdem. Atau kalau lupa sejarah, itu Soekarno bisa digulingkan karena ada aliansi taktis antara mahasiswa dengan TNI AD selaku salah satu elemen dari Sekber Golkar (yang ironisnya dibuat sama Soekarno). Bahkan the famous Soe Hok Gie yang dicitrakan anti kekuatan politik ekstra kampus di filmnya Riri-Mirleas aja pada hakikatnya anak Gemsos, organisasi mahasiswa yang berafiliasi sama Partai Sosialis Indonesia-nya Sjahrir. Di era 65-an itu, Gie bergerak dibawah supervisi Soedjatmoko, salah satu kader PSI.

Gw juga mau cerita pengalaman gw waktu kuliah di kampus kedua gw: Univ. Of Sydney. Ini kampus ampun deh anak2nya. Tiap minggu (biasanya hari Rabu) ada saja demo-nya. Mulai dari demo soal kebijakan2 kampus yang bikin biaya kuliah makin mahal, sampai rencana kampus buat menghapus beberapa program studi demi meningkatkan ratting dan ranking (kampus gw ini tertua di ostrali tapi sayangnya Cuma ada di ranking ke-3 dibawah ANU dan UniMelb, konon penyebabnya ada prodi2 yang gak menyumbang naiknya ranking ini). Pernah ada kejadian gw lagi di perpus jam 6 sore, tau2 rame banget di pintu masuk. Rupanya ada penghadangan salah satu tokoh partai liberal (partai berkuasa) yang ada acara di kampus.

Univ of Sydney Union di kampus gw (semacam BEM-nya) memang “dipegang” sama anak-anak kiri, baik yang di level undergrad maupun yang post-grad. Agenda politik mereka progressif-liberal. Mereka mendorong isu2 kesetaraan LGBTQ (pas gw masuk USYD, Union ini mengirimkan wakilnya buat partisipasi dalam parade Mardi Gras, pawai perayaan kesetaraan LGBTQ. Ini jadi pertama kalinya dan satu2nya kampus yang mengirim wakilnya secara formal dalam event tahunan ini) , memperjuangkan hak2 masyarakat adat (aborigin en torres islander), menolak rasisme dan islamophobia dan semua agenda2 yang masuk spekturm kiri lah kalo di oz. Sebagian besar dari mereka tergabung dengan kelompok socialist alternative yang terafiliasi dengan partai kiri di ostrali. Dinamika politik kampusnya juga seru banget. Pernah ada kejadian heboh ketika Union mengeluarkan organisasi semacam Rohkris (Kerohanian Kristen) kalo di Indo dari asosiasi. Musababnya karena kelompok Rohkris ini menysaratkan membership dengan meminta ikrar setia calon anggotanya ke Yesus, yang oleh anak2 Union ini dianggap membuat organisasi itu jadi eksklusif dan tidak sejalan dengan misi mendorong inklusivisme dan multikulturalisme di kalangan anak kampus wkwkwkw.

Macam di Indonesia, afiliasi politik dari aktivis2 kampus ini juga sering dinyinyirin oleh sebagian orang yang anggap kampus jadi terlalu politis. Tapi ya di negara demokratis dan terbuka semua orang bebas buat berpendapat dan yang kaya begitu Cuma sebagian kecil orang saja.
Selain kelompok yang terafiliasi dengan partai2 kiri diluar kampus, di dalam kampus juga ada organisasi resmi kemahasiswaan yang paltformnya bahkan namanya sama dengan major political parties di luar kampus macam liberal club dan labor club.

Bahkan ada cerita soal kontestasi ideologis aktivis2 mahasiwa di USYD yang sudah berlangsung sejak lama. Yang paling seru menurut gw adalah ketika terjadi perdebatan soal perlu tidaknya USYD bikin program studi Ekonomi Politik di tahun 1970-1980an. Prodi ini berangkat dari berkembangnya pandangan kritis di kampus dari civitas (mahasiswa en dosen2) soal pendekatan pendidikan ekonomi (konvensional) yang seolah lepas dari realiats politik dan pemikiran kritis. Nuansanya memang “kiri” banget. Ide soal pembentukan prodi baru ini sampai berujung pada rangkaian demonstrasi baik yang pro maupun yang kontra. Yang seru adalah, pihak2 yang bertikai pada masa itu merepresentasikan kekuatan politik dominan di Australia dan aktivis2 mahasiswa yang perdebatan tentang perlu tidaknya prodi ini dibentuk pada saat itu sekarang jadi tokoh2 penting politik Australia:
1. Tonny Abbot, mantan PM dan tokoh Partai Liberal Oz, ketika itu menjabat sebage presiden perwakilan mahasiswa (semacam MPM) yang dengan tegas menolak ide pembentukan Prodi Ekonomi Politik
2. Anthony Albanese, mantan deputi PM dan tokoh Partai Buruh Oz, ketika itu jadi pemimpin kelompok mahasiswa yang bikin seri demo dan mendukung pendirian Prodi Ekonomi Politik
3. Malcolm Turnbull, PM Oz sekarang dan tokoh partai Partai Liberal, yang ketika itu memediasi mahasiswa yang pro dan kontra dalam pembentukan prodi Ekonomi-Politik ini.

Keseluruhan cerita soal ini bisa diliat di artikel di majalah kampus USYD: http://honisoit.com/2016/03/political-economy-at-risk-from-restructure/

Inti dari semua ini apa? Bullshit itu yang mengatakan mahasiswa harus “netral” dari politik. Afiliasi politik itu harusnya gak jadi hal yang tabu buat mahasiswa. Dan mahasiswa di kampus juga gak usah malu2 menunjukkan afiliasi politiknya saat berpolitik di dalam kampus. Ini yang gw gak suka dari kalangan aktivis dakwah kampus ketika gw kuliah dulu, malu2 kucing buat ngakuin kalau mereka part of PKS or bigger ideological group. Jadi kalau ada yang bilang ketua BEM UI ini orang PKS? Terus kalau iya kenapa? Apa itu mengurangi nilai kritik dia? Kan nggak. Kalian2 yang mengnggap mahasiswa harus “netral” dari politik, mahasiswa harusnya kaya zuckerberg or gates yang jadi inventor jelas gak cuman kurang piknik, tapi kurang wawasan hahahahahaha (sory jadi super sarkas begini wkwkwkw).
udah gitu aja…jadi puanjang banget kan hahahahaha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s