Kenyang Tanpa Nasi: Kapurung Lesehan Lela

on

Bulan lalu saya berkesempatan mengunjungi kota Palopo, Sulawesi Selatan, salah satu kota yang ada di pesisir Teluk Bone. Sebetulnya saya cuma mampir bermalam aja disini setelah menempuh perjalanan yang melelahkan dari dataran tinggi Seko di Kabupaten Luwu Utara. Berhubung gak punya banyak waktu disana, saya gunakan kesempatan yang ada buat icip-icip kuliner khas di kota yang konon dalam epos La Galigo disebut dengan sebutan Ware.

Berhubung saya baru pertama kali injakkan kaki di kota itu, dan kolega saya di Palopo juga sudah ambruk kecapekan menempuh perjalanan darat nyaris satu hari satu malam dari Seko, jadilah saya coba ngebolang sendirian disana. Dari hotel (losmen kali ya lebih tepatnya hehe) saya menginap, di dekat Masjid Tua kota Palopo yang berhadapan dengan komplek istana Kedatuan Luwu, saya coba iseng jalan kaki mencari panganan khas kota ini. Berbekal google yang maha tau dan kadang sok tau hehe, saya coba peruntungan buat jalan-jalan disana. Sayangnya rekomendasi google gak sesuai dengan ekspektasi saya. Ya masa di Palopo disarankan mampir ke resto en kafe. Rasanya kaya begitu mah gak akan ada yang khas deh. Jadilah saya putuskan menyetop abang ojek di depan istana Kedatuan. Kolega saya bilang kalau abang ojek di Palopo pada pakai rompi buat bedakan dengan pengendara motor lainnya.

IMG_20171203_153142
Masjid Jami Tua Polopo, saksi sejarah penyebaran Islam di Kerajaan Luwu. Dibangun tahun 1604

Dapat lah saya abang ojek, namanya pak Fauzi, umur sekitar 50an tahun kayaknya. Pas naik saya langsung bilang, “pak anter saya ke tempat makan khas Palopo ya!”. Si bapak agak bingung awalnya, habis itu dia coba pastikan ke saya “kalau jauh gak apa-apa ya”. Mantap, yang kaya gini berarti dia mau rekomendasiin tempat yang gak mainstream nih. Karena udah nembak soal tempat makan dan berhubung sendiri, akhirnya saya ajak si bapak ikutan makan, meski sempet nolak awalnya.

Nah si bapak ini ngajak saya ke tempat makan di Jalan A. Mappanyompa, Salekoe, Wara Timur, tepatnya dekat dengan SMP 3 Kota Palopo. Rumah makannya model lesehan dan kata pak Fauzi selalu ramai setiap jam makan siang. Pas saya datang kali itu kebetulan lagi gak terlalu ramai. Restoran ini modelnya lesehan, jadi gak ada tempat duduk, cuma meja yang dijejer rapi dalam dua baris. Menu yang disajikan didominasi oleh ikan dan hasil laut lainnya. Mungkin karena Palopo kota pesisir kali ya.

Pas disodorin menu dengan sotoy saya langsung pesan makanan yang gak pernah saya denger sebelumnya: Pacco’ dan Lawa. Abang ojek yang saya ajak makan langsung nanya: “biasa makan ikan mentah?”. Ternyata ini menu yang kayaknya gak cocok buat saya hehe. Setelah ngobrol-ngobrol dengan pramusaji yang sabar ladenin saya akhirnya saya pesan Kapurung. Dan ternyata gak salah pesan ini. Rasanya luar biasa enak.

Kapurung ini semacam sop dengan kuah ikan dan bumbu rempah yang pasti banyak banget. Kalau pernah makan bubur manado yang penuh dengan sayur-sayuran, kira-kira isinya kapurung mirip-mirip lah: Jagung, tomat, terong, dan banyak sayur dan dedaunan yang dimasukan kedalamnya selain ikan sebagai lauknya. Dan yang bikin makanan ini makin unik adalah bola-bola kenyal yang dibuat dari tepung sagu. Pak Fauzi bilang kalau Kapurung ini makanan khas orang Luwu.

Berhubung sudah pakai sagu saya agak sangsi juga ketika ditawarkan mau pakai nasi atau nggak sama pramusaji. Dan benar saja. Satu porsi Kapurung cukup bikin perut saya menggembung kekenyangan. Selain Kapurng saya pesan juga 3 tusuk sate udang bakar yang ukurannya jumbo dan peyek mairo. Yang terakhir ini semacam gorengan ikan teri yang mantep banget rasanya. Bener-bener puas makan disini.

Yang bikin hati bertambah senang tentunya soal harga hehe. Kami memesan dua porsi kapurung, 3 tusuk sate udang, dan seporsi (isi 3) peyek mairo plus 2 gelas es jeruk cuma keluar uang Rp. 60 ribuan sahaja. Kalau ada kesempatan ke Palopo, cobalah melipir ke Lesehan Lela..gak nyesel pasti !

 

4 Comments Add yours

  1. Deket rumah kami di palopo nih kalau berkunjung mampir ya…hehe😀

    Like

    1. Tyan says:

      wah mantap…bisa makan kapurung tiap hari hehe

      Like

      1. Nggak terlalu suka kapurung, tapi kalau ikan bakar ada dua tempat yang enak deket pelabuhan, seger banget + sambelnya, Maknyus hehe

        Like

  2. Kami biasa buat sendiri, tapi saya lebih suka Ikan Bakar. 😅

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s