Monolog di nisan Soe

Halo Soe,

Pagi tadi saya memaksakan diri datang kesini. Mengayuh sepeda Schwinn yang mirip ontel di tengah padatnya lalu lintas Jakarta yang berdebu ini. Cuma buat diam merenung di depan nisan yang pernah menjadi penanda jasad kamu dikebumikan. Jasad kamu sudah menyatu dengan lembah Mandalawangi yang sangat kamu cintai itu ketika keluarga kamu memutuskan untuk mengkremasi jasad kamu dan menaburkan abunya di tempat suci kamu di Gunung Pangrango itu.

Saya ini bukan siapa-siapa. Saya anak UI seperti kamu, tapi saya bukan anggota Mapala. Saya juga tidak berkuliah di Fakultas Sastra seperti kamu. Saya juga bukan pengagum kamu kalau bisa dibilang begitu. Saya tidak suka pada semua bentuk kultus. Kalau kita hidup sezaman kita malah mungkin akan berada dalam posisi bersebrangan. Kalau afiliasi politik digambarkan dalam sebuah garis. Saya mungkin ada di sisi kiri. Tapi saya seperti kamu. Sama-sama menolak sikap dogmatik dan kepongahan otoritas. Susah buat saya untuk mengesampingkan fakta bahwa buat saya tangan kamu ikut berlumuran darah orang-orang yang diburu karena komunis atau malah lebih parah lagi karena cuma dianggap komunis. Tapi hormat saya untuk kamu karena kamu sadar ada yang tidak beres pada pemerintahan yang ikut kamu bantu dirikan itu. Asal tahu saja Soe, sepeninggal kamu Republik ini menjelma menjadi negara polisi. Cap komunis dan ekstrem kanan sungguh manjur membungkam oposisi atas rezim yang ditopang oleh teman-teman kamu dulu.

Taukah kamu Soe? Saya ini selalu merasa kalau saya ini jiwa yang berada dalam tubuh dan waktu yang salah. Saya seharusnya hidup di tahun 1960an. Sama seperti kamu. Menjadi bagian dari generasi bunga, generasi baby boomers yang mendobrak kemapanan blok kanan dan kiri. Saya seharusnya seperti kamu. Menikmati dinamika yang menggairahkan dari generasi muda yang menentang perang, mengagungkan kebebasan namun mendamba tatanan sosial yang adil dan egaliter. Mungkin itu yang bikin saya merasa punya attachment sama kamu Soe.

Sewaktu kuliah di Fakultas Hukum dulu, sebelum orang-orang mengira wajah kamu seelok Nicholas Saputra, saya sudah membaca biografi kamu karangan John Maxwell. Biografi ini tak lain adalah disertasi Maxwell di ANU yang menggali pergulatan pemikiran kamu dan latar belakang sejarah yang mengikutinya. Maxwell begitu jeli melihat semua aspek dan konteks yang membangun diri kamu: Seorang intelektual muda yang gelisah. Setelah itu baru saya baca diary kamu. Mungkin kamu tidak akan pernah menyangka kalau curhat-curhat kamu itu akan dibaca banyak orang sepeninggal kamu.

Membaca diary kamu saya menangkap kesan pergulatan batin yang sangat besar dalam diri kamu. Tentang ketidakadilan, tentang pengkhianatan intelektual, juga tentang gadis-gadis. Dalam hal ini kamu memang sungguh pandai membuat gadis-gadis luluh dengan rangkaian kata-kata manis yang tidak murahan dalam setiap surat-surat kamu pada mereka. Harus saya akui saya belajar dari kamu soal ini. Menulis puisi dan merangkai kata-kata indah sepenuh hati tapi apa lacur karangan saya tetap terdengar gombal. Tidak seperti kamu.

Saya juga salut sama kamu Soe. Badan kamu kurus tapi fisik kamu luar biasa ketahanannya. Tidak mudah melakukan pendakian ke gunung-gunung yang di masa kamu hidup saya yakin belum banyak jalur pendakian yang dibuka. Dalam hal ini saya sungguh menyesal tidak ikut Mapala UI. Seperti kamu, junior-junior kamu di Mapala UI yang saya kenal adalah orang-orang berkarakter. Mereka pekerja keras dan memegang teguh kata-kata mereka. Mereka bukan pecundang dan pengecut seperti saya. Berteman dengan alam dan bergaul dengan risiko kematian memang membuat anak-anak Mapala ini menjadi pribadi yang disiplin, teguh pendirian dan pantang menyerah. Karakter-karakter yang tidak saya miliki.

Saya teringat puisi kamu Soe. Puisi tentang lembah Mandalawangi di Pangrango yang menjadi sanctuary kamu itu:

“Hidup adalah soal keberanian. Menghadapi yang tanda tanya. Tanpa kita bisa mengerti, tanpa kita bisa menawar. Terimalah dan hadapilah”.

Lembah Mandalawangi benar-benar membentuk kamu menjadi pribadi yang luar biasa ya Soe? Saya iri sekali. Saya ingin punya keberanian seperti kamu menghadapi hidup. Apa lacur saya ini pengecut sekali. Banyak kesalahan yang saya buat dalam hidup. Banyak peluang yang saya sia-siakan. Banyak orang yang saya sakiti dan kecewakan. Dan saya malah lebih suka cari aman. Sungguh saya malu sekali Soe.

Kalau saya boleh mengumpat, kamu ini benar-benar keparat yang sangat beruntung Soe. Sekali berarti setelah itu mati kalau kata Chairil. Banyak sekali hal yang telah kamu lakukan. Untuk almamater, untuk bangsa juga tak lupa  untuk bersenang-senang menikmati eloknya alam permai Indonesia. Tapi kamu tau hidup itu samsara. Maka kamu, seperti seolah sudah membaca tanda, menuliskan ini dalam buku harianmu, tidak lama sebelum kamu mendaki puncak Mahameru.

Seorang filsuf Yunani pernah berkata bahwa nasib terbaik adalah tidak pernah dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan tersial adalah umur tua.

Ah Soe, rupanya semesta terlalu sayang sama kamu. Konon orang-orang baik memang ditakdirkan mati lebih dulu Soe. Banyak yang mencibir kamu jadi legenda karna kematian kamu yang pilu dan dramatik di Semeru sana. Banyak yang menduga kamu akan seperti kebanyakan angkatan 66 lainnya kalau berumur panjang: jadi politisi Golkar, teknokrat penopang orde baru, atau sekedar bagian dari mesin birokrasi. Tapi saya yakin kamu tidak seperti itu. Kamu pasti akan memilih jalan sunyi yang berat dan berliku. Persis seperti Arif Budiman alias Soe Hok Djin kakakmu itu. Seperti kamu, dia juga “pemberontak”. Pemerintahan Orba mungkin memasukan namanya dalam daftar musuh negara. Itu mungkin yang jadi alasan dia dulu hijrah ke Australia. Walau bagaimana kamu itu beruntung Soe. Hidup kamu yang penuh pergolakan batin itu berakhir dengan manis di tempat yang sangat kamu suka: gunung dan alam liar.

Soe Hok Gie..Kenapa jadi panjang begini ceracauan saya ya? Padahal tadinya saya cuma mau minta izin. Kalau saya mati nanti saya ingin dibuatkan nisan seperti kamu. Saya ingin juga dipahatkan tulisan yang terukir di nisan kamu ini. Tulisan yang terinspirasi dari sebuah lagu spiritual kaum Negro Amerika…Entah kenapa saya merasa itu juga pas sekali buat saya….

Nobody knows the troubles I see. Nobody knows my sorrow

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s