Tentang si Dodo dan awal perjumpaan dengan environmentalisme

Sependek ingatan saya, sudah sejak SMP saya punya keyakinan kalau di usia dewasa akan bergiat di seputaran isu lingkungan hidup. Pada masa itu, term sophisticated macam “sustainable development“, “climate change” atau “environmental law” jelas masih amat asing buat saya. Term yang kini (setidaknya sampai saat ini) menjadi santapan sehari-hari saya. 

Momen pertama saat saya punya feeling akan berkutat dalam isu-isu lingkungan hidup adalah saat libur panjang kenaikan kelas (dari kelas 1 ke kelas 2 SMP) tahun 1997. Waktu itu TPI (sebelum berubah jadi stasiun televisi dangdut dan sinteron yang gak mutu) menayangkan program acara anak yang cukup banyak dalam rangka liburan sekolah. Salah satunya kartun semi dokumenter berjudul “Dodo Comeback“, kisah tentang seekor burung Dodo (Raphus cucullatus) yang sudah punah. Dodo, tokoh utama kartun ini, bercerita tentang persoalan lingkungan hidup seperti pencemaran air, polusi udara, hingga deforestasi yang merugikan bumi, menyebabkan keberlangsungan kehidupan manusia, satwa dan tumbuhan yang hidup didalamnya terancam. Dodo adalah burung yang sudah merasakan akibat dari kerusakan lingkungan itu. Dia punah dan “hidup” kembali untuk memperingatkan anak-anak agar kisah pilu dia tidak terulang. “Dodo comeback” begitu kata si Dodo sambil bernyayi riang. Agak ironis memang, tapi dengan begitu pesan “hijau”-nya bisa dengan mudah dipahami anak-anak.

FIlm Dodo ini punya pengaruh sangat besar buat saya. Gara-gara film ini saya jadi amat gandrung dengan pelajaran biologi. Pikir saya waktu itu saya akan jadi ilmuwan biologi kelak saat dewasa. Bekerja dengan alam dan makhluk hidup didalamnya dan melindungi mereka dari ancaman kepunahan. Bisa dibilang sejak SMP sampai masuk ke kelas IPA di SMA saya adalah seorang nerd dalam pelajaran biologi. Saking nerdy-nya, rasa-rasanya saya adalah anak kesayangan semua guru biologi sejak SMP sampai SMA hehehe. Seperti yang saya ceritakan disini, saya juga membawa semua buku teks pelajaran biologi saat kelas berlangsung. Tas saya sangat penuh dengan buku-buku. Seorang teman mengolok-olok saya seperti orang yang mau kemping gara-gara itu. Saat SMP saya adalah satu-satunya anak yang berhasil mendapatkan nilai sempurna 100 untuk ujian biologi. Saya juga selalu mewakili sekolah saat SMP dan SMA untuk mengikuti perlombaan-perlombaan pengetahuan biologi. Tapi efek film kartun Dodo jauh lebih besar dari itu buat kehidupan saya. 

Film kartun Dodo memvisualisasikan kerusakan lingkungan kepada anak-anak dengan bahasa sederhana dan cara yang unik. Cuplikan video kerusakan lingkungan digabung dengan animasi si Burung Dodo yang cukup apik untuk ukuran tahun 90an. Tanpa bermaksud melebihkan, sejak menonton kartun si Dodo sense of justice atas persoalan lingkungan agaknya mulai tumbuh dalam diri saya. Meski tidak berakhir menjadi ilmuwan biologi, saya bersyukur mendapat kesempatan mendalami ilmu hukum dengan pendalaman minat pada hukum lingkungan dan kini mencoba meniti jalan menjadi juris yang punya kepekaan dan keberpihakan pada keberlanjutan lingkungan. Dan kalau boleh saya menuduh. Semua jadi begini gara-gara si Dodo. Dodo comeback !!!!! 🙂

PS:

Salam Hormat dan takzim buat semua guru biologi saya sejak SMP: Bu Dian, Bu Nesta, Bu Sudarminingsih, Bu Bulan 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s