Memoar Cikalong Kulon: Tentang (Kehidupan) Beragama yang Asyik

Selepas Magrib di Masjid Agung Cikalong Kulon, sekitar tahun 1994….

 

Namanya juga bocah. Peringatan pengurus masjid untuk tidak menimbulkan gaduh saat salat magrib berjamaah dilangsungkan rasanya cuma masuk kuping kiri keluar kuping kanan. Tapi itu yang bikin masjid tampak hidup. Masjid selalu ramai oleh anak-anak yang berlarian di halaman Masjid Agung yang luas, mereka yang menguji nyali mereka dengan bermain petak umpet di komplek pekuburan disisi kiri masjid atau mereka yang iseng main nininjaan (pura-pura jadi ninja) menggunakan sarung lusuh yang entah kapan terakhir kali di cuci. Tapi gerombolan bocah ini akan serempak duduk manis saat Mang Rohadi, lewat speaker TOA  masjid yang nyaringnya minta ampun, meminta anak-anak untuk duduk manis dan mulai tadarusan, mengaji Al-Qur’an bersama-sama dipandu Mang Rohadi sebagai guru.

 

Mang Rohadi ini unik. Karena dia satu dari sedikit orang Jawa yang tinggal di Cikalong Kulon, kota kecamatan kecil di Cianjur yang terisolir pegunungan, waduk Cirata dan perkebunan PTPN . Sebagai seoarang Jawa yang agaknya sudah cukup lama tinggal di Cikalong Kulon yang nyaris 90 persen-nya Sunda, logat medok Mang Rohadi nyaris sudah hilang. Kalau beliau gak bercerita tentang asal-usulnya mungkin kami-kami ini akan menganggap Mang Rohadi urang Sunda selayaknya kami semua. Umur Mang Rohadi sekitar 25 tahunan. Warna kulitnya agak gelap dengan badan tegap seperti serdadu dan otot yang terbentuk karena aktivitas fisik sehari-hari Beliau di masjid yang juga merangkap sebagai pengurus dan marbot masjid agung.

 

Gaya belajar membaca Al-Qur’an Mang Rohadi ini buat saya unik. Kami tidak diminta untuk membaca berlembar-lembar halaman Qur’an, tapi cukup membaca satu dua ayat yang diulang-ulang sampai tajwid (hukum membaca qur’an) dan makhraj (pelafalan bunyi huruf-huruf Arab) mendekati sempuran menurut taste Mang Rohadi, anggaplah begitu. Jadi dalam waktu mengaji dari jeda magrib sampi Isya yang nyaris sejam itu kadang kami cuma membaca maksimal 3 ayat Al-Qur’an. Buat orang luar mungkin kelihatannya membosankan, tapi sesungguhnya buat kami sungguh amat sangat menarik karena pada kenyataannya kami lebih banyak bernyanyi/bersenandung ketimbang mengaji. Loh kok bisa ???

 

Gaya belajar mengaji ini sepertinya model cara belajar mengaji di pondok-pondok pesantren (saya cuma menebak saja sih, belum pernah mondok di pesantren). Kami duduk dalam lingkaran besar dengan Mang Rohadi menjadi center of attention. Setiap satu ayat dibaca, Mang Rohadi membongkar semua hukum tajwid-nya, lalu mengajarkan kami dalam bentuk senandung. Satu yang saya ingat senandung tentang hukum Qolqolah (huruf arab yang dibaca medok) : “Qolqolatun yajma’uhaaa qutbijadin…la la la” (lupa sisanya hehe). Maka jadilah kamu lebih seperti kelompok koor paduan suara ketimbaang anak-anak yang mengaji Qur’an. Tapi semua terasa amat sangat menyenangkan. Sungguh, beberapa kali saya belajar ngaji dengan guru yang berbeda-beda setelah pindah ke Jakarta, cuma Mang Rohadi yang belajar Quran tanpa tekanan harus benar dan salah dan tanpa target harus tamat berapa lembar perhari. Bahkan disela-sela senandung hukum tajwid itupun kami masih sempat guyon satu sama lain, dan Mang Rohadi kadang ikut dalam candaan bocah yang berisik ini.

 

Tapi soal taste Mang Rohadi sama hukum Tajwid dan pelafalan huruf-huruf Arab yang perfeksionis ini kadang jadi momok juga buat kami, khususnya ketika Solat berjamaah dan Mang Rohadi satu-satunya orang dewasa yang layak jadi imam shalat di Masjid. Shalat jamaah yang diimami Mang Rohadi bisa berlangsung lebih dari dari 30 menit !!!! yang mana normalnya paling lama cuma 5 sampai 10 menit saja !!!! Mang Rohadi akan mengulang-ulang pelafalan huruf arab yang dirasanya kurang pas menurut taste dia yang super perfeksionis ini. Kadang kami pura-pura melengos kalau tau imam solat jamaah adalah Mang Rohadi. Sebisa mungkin ngumpet dan ambil langkah seribu keluar masjid sampai salat jamaah dipimpin Mang Rohadi selesai. Bandel betul memang murid-murid Mang Rohadi ini.

 

Selain mengaji tadarusan sehabis Magrib, Mang Rohadi juga memberikan tambahan pelajaran mengaji buat mereka yang tertarik mendalami ilmu keislaman lainnya selepas shalat Subuh dan Ashar setiap harinya. Yang diajarkan bukan Al-Qur’an, tapi fiqih (hukum Islam seputar ibadah dan ritual-ritual keagamaan) dan pelajaran nahwu shorof (semacam grammar untuk Bahasa Arab). Ada dua kitab (buku) yang dipakai untuk pengajian extra ini. Dari Mang Rohadi saya akhirnya tau kalau judul kitab Fiqh adalah Safinah dan untuk pelajaran Nahwu-Shorof saya lupa, cuma ingat sampulnya warna ungu. Belakangan saya mengetahui kalau dua buku ini masuk kategori Kitab Kuning, kitab klasik yang diajarkan di pondok-pondok pesantren. Dan literally warna kertas kitab kuning ini memang beneran kuning. Yang unik dari dua kitab ini adalah hurufnya yang “arab gundul”, maksudnya tanpa tanda baca seperti huruf Arab Al-Qur’an. Kenapa saya tau semua ini? Karena saya adalah salah satu murid Mang Rohadi di pengajian extra ini, dan bisa dibilang saya adalah salah satu murid paling junior diantara peserta pengajian extra yang rerata berusia remaja. Peserta pengajian ini maksimal cuma 10 orang setiap harinya. Kalau dipikir-pikir sekarang, agak aneh memang kok bisa-bisanya saya bisa ikut pengajian model begini. Yang saya ingat suasana akrab dan penuh canda serta pertemanan jadi daya tarik yang luar biasa buat saya. Bisa dibilang saya ngaji bukan karena pengen ngaji, tapi sesederhana pengen ketemu teman main. Rutinitas di masjid, ikut pengajian selepas magrib dan pengajian extra selepas ashar saya lakukan selama hampir 3 tahun, dari kelas 2 sampai kelas 5 SD tahun 1992-1995.

 

***

 

Cikalong Kulon, dan Kabupaten Cianjur secara umum, memang sangat kental nuansa keislamannya. Dulu saya belum paham betul bedanya NU dan Muhammadiyah, sekarang saya yakin betul kalau kultur keislaman dimana saya tumbuh dulu adalah kultur NU, Islam tradisional. Betapapun kuatnya nuansa keislaman di Cikalong Kulon, rasa-rasanya saya tidak pernah menemukan konflik antara ajengan (kyai/ustad dalam bahasa Sunda)   dengan kolot-kolot (sesepuh) Sunda. Malah kelihatannya ada semacam pencampuran antara tradisi lokal sunda dengan islam yang diajarkan Mang  Rohadi dan ajengan-ajengan lain di Cikalong Kulon. Bahkan di Cikalong Kulon tumbuh juga kelompok Ahmadiyah, kelompok minoritas yang akhir-akhir ini mengalami persekusi dari kelompok muslim mainstream. Saking banyaknya penghayat Ahmadiyah, di Cikalong Kulon berdiri juga masjid kelompok Ahmadi, dan selama saya tinggal disana di tahun 1992-1995 tidak pernah sekalipun ada konflik antara mayoritas Muslim Sunni dengan minoritas Ahmadi. Lagi pula kenapa harus berkonflik? Mereka yang menjadi penghayat Ahmadi toh tetangga dan bahkan saudara sendiri.

 

Saya punya seorang teman Ahmadi yang juga bersekolah di SDN Inpres 2 Cikalong Kulon.  Dia dan keluarganya, semuanya penganut Ahmadi, tinggal persis di seberang rumah saya di komplek bangunan tua kantor pegadaian cabang Cikalong Kulon. Anaknya berkulit puith, hidungnya agak mancung, dan rambut ikal. Anaknya memiliki pembawaan yang riang. Agaknya ketika itu tidak pernah ada yang mempermasalahkan soal keyakinan masing-masing. Dunia kami hanyalah soal bermain, tertawa riang dan persahabatan yang tulus. Dunia bocah memang jauh dari kedengkian. Tak ada prasangka apapun pada sahabat kami ini, meski kami tau dia seorang Ahmadi karena dia tak pernah ada di kelas saat pelajaran agama Islam. Toh semua tak ada yang mempermasalahkan, dan sahabat kami ini  tetap naik kelas setiap tahunnya bersama-sama dengan kami semua meski nyaris selalu absen saat pelajaran agama Islam. Saya rasa guru-guru ketika itu memberikan perlakuan berbeda (dalam arti positif) atau mungkin ada laporan tentang kegiatan keagamaan yang dilakukan  dari keluarga dan ajengan ahmadiyah di Cikalong Kulon saat itu yang disampaikan ke pihak sekolah yang mengganti penilaian mata pelajaran agama.

 

Sejauh ingatan saya, konflik antara kelompok mayoritas muslim (sunni) dan kelompok Ahmadiyah di Cikalong Kulon nyaris tidak pernah terjadi selama saya tinggal disana tahun 1992-1995. Lagi pula kenapa harus saling bermusuhan, toh persaudaraan Sunda melebihi entitas keagamaan. Dan ajengan-ajengan seperti Mang Rohadi, seingat saya tidak pernah mengajarkan islam yang menebar kebencian pada mereka yang berbeda. Saya berharap sahabat kecil saya ini dan keluarganya tidak mengalami kesulitan dimanapun mereka berada sekarang. Setiap mendengar berita tentang serangan terhadap kelompok Ahmadiyah di televisi beberapa tahun terakhir, seketika muncul ada rasa cemas. Semoga dia dan keluarganya tidak mengalami hal-hal buruk. Sungguh. Saya merindukan suasana kehidupan beragama yang tanpa prasangka, tanpa kebencian, seperti yang dulu saya rasakan di Cikalong Kulon dulu , kehidupan beragama yang buat saya…gimana ya…selow gitu rasanya .