Demi Kampung Halaman

Beberapa tahun lalu, saat sedang jenuh-jenuhnya melaksanakan rutinitas di kantor, saya dan seorang kawan pernah berangan alangkah enaknya bekerja di kampung halaman. Bekerja tidak jauh dari keluarga dan teman-teman dekat dari masa lalu. Buat saya, ada sentimen personal yang muncul dengan sendirinya saat bisa bekerja dan memberikan sesuatu untuk kampung halaman, tentunya sesuai dengan kemampuan dan kepakaran yang kita bangun dengan susah payah di Ibukota.

Mungkin benar kata orang: terkadang angan bisa jadi doa. Tahun 2014 saya pindah kantor dan mendapatkan kesempatan untuk bekerja di Sukabumi, kampung halaman yang saya tinggali sampai saya berumur 6 tahun. Sebetulnya agak kurang pas juga kalau dibilang “bekerja” apalagi dalam persepsi umum tentang bekerja: kantoran, setiap hari, nine to five. Mungkin dalam sebulan saya cuma melipir ke Sukabumi 3-4 hari saja. Tapi itu cukup buat saya untuk bisa merasakan sentimen “berkontribusi untuk kampung halaman”, meski saya yakin betul ini gak seberapa.

Sebagai project coordinator sebuah asosiasi global pemerintah kota yang berfokus pada pembangunan berwawasan lingkungan dan memperhatikan aspek keberlanjutan, saya bekerja sangat erat dengan banyak aparatus pemerintahan kota/kabupaten  di Indonesia. Beruntung Sukabumi terdaftar sebagai anggota. Lebih beruntung lagi Sukabumi telah menjalin kerjasama dengan kantor saya untuk membangun apa yang kami namakan “Strategi Ketahanan Iklim Kota” (Climate Resilience Strategy). Singkatnya ini adalah inisiaitif untuk membuat kota Sukabumi mampu beradaptasi dan “tahan banting” dalam menghadapi berbagai bencana dan masalah yang ditimbulkan oleh perubahan iklim yang salah satunya menyebabkan perubahan pola cuaca dan munculnya fenomena cuaca ekstrim.

20141013_093642
Demonstrasi sarana penyaringan air sederhana

Selain membantu kota mendisain kebijakan dan regulasi untuk memastikan strategi ketahanan iklim ini berjalan, saya juga terlibat dalam pilot project penerapan strategi ini di lapangan. Pilihan yang diambil oleh pemerintah kota dan kelompok masyarakat yang terlibat adalah pembangunan sarana pemanenan air hujan dan penyaringanair sederhana. Pertimbangan mereka kota Sukabumi memiliki curah hujan yang tinggi tapi masyarakat kerap mengalami kesulitan air bersih akibat sistem perpipaan air bersih (disediakan oleh Perusahaan Daerah Air Minum) belum optimal dan cakupannya terbatas. Instalasi ini akan dibangun di sebuah masjid yang menjadi pusat aktivitas warga yang berada di areal yang disepakati sebagai satu dari beberapa areal rentan terdampak perubahan iklim.

20141013_100718
Pak Juju, perwakilan warga, menjelaskan cara bekerjanya instalasi penyaringan air

Meski untuk pilot project ini saya hanya terlibat di tahap awal saja, berhubung harus segera terbang ke Sydney untuk sekolah, saya mendapat pengalaman yang sangat unik. Ini adalah development project pertama yang saya terlibat di dalamnya dan output-nya bukan hanya sekedar laporan, policy brief, draft kebijakan atau regulasi namun sebuah sarana fisik yang somehow lebih nyata dan terasa langsung manfaatnya buat masyarakat. Menjadi lebih unik karena project ini dilakukan di kampung halaman saya. Benar-benar di kawasan hunian dimana hampir 30 tahun lalu saya tumbuh. Sampai-sampai saat saya melakukan persentasi dihadapan warga, beberapa rupanya mengenali saya meski sudah hampir 20 tahunan saya tidak pernah lagi berkunjung ke kawasan ini.

photo-from-yustisia-rahman
Bagian dari instalasi penyaringan air sederhana yang sudah dibangun, Februari 2017

Saat masih mukim di Sydney saya dengar project ini sudah selesai dan sudah diresmikan oleh Walikota. Kebetulan minggu lalu saya bertemu dengan beliau di acara pernikahan sepupu saya di Sukabumi. Untung buat saya si Bapak masih mengenali saya. Beliau dengan sangat antusias menceritakan pilot project ini dan berharap bisa direplikasi di tempat lain di Sukabumi. Saat mendiskusikan soal ini, salah seorang paman saya yang punya posisi cukp berpengaruh di perusahaan multinasional Jepang di Indonesia rupanya mendengar dan tertarik memberikan dukungan pendanaan untuk replikasi inisiaitif ini di wilayah lain di Sukabumi. Pucuk di cinta ulam pun tiba kalau kata pepatah. Senyum saya mengembang mendengar itu. Memang benar rupanya. ada perasaan berbeda saat bisa bekerja, berkontribusi sesuai dengan kapasitas kita, untuk kebaikan kampung halaman. Semoga Sukabumi semakin maju, semakin reugreug pageuh repeh rapih.

Keterangan gambar (kiri) 
Memberikan presentasi tentang pilot project
ketahanan iklim

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s