Inspirasi “Real”: Kisah Inspiratif Penyandang Difable

Rating: ★★★
Category: Books
Genre: Comics & Graphic Novels
Author: Takehiko Inoue

Pernah dengar Takehiko Inoue? Atau Slam Dunk? Yang ini pasti udah pada sering dengar kan? Slam Dunk adalah karya terpopuler Takehiko Inoue, komikus yang juga melejit karena meng-komik-kan kisah semi-legenda Miyamoto Musashi dalam Vagabond, mengacu pada Novel Mushashi karya Eiji Yoshikawa. Jika anda ada waktu dan punya sedikit kesabaran, saya sarankan anda untuk mengikuti karya Inoue yang satu ini. Goresan kuas di komik ini sangat hidup, maka tak heran jika sudah 10 tahun berjalan, Vagabond karya Inoue masih “stag” di jilid 27, sebuah waktu yang relative lama untuk ukuran komik berseri.

Satu lagi karya Takehiko Inoue yang layak diikuti. Namun sekali lagi harus dengan kesabaran. Karya yang satu ini “stag” di jilid ke-7. Bukan karena Inoue kehabisan ide, tapi konon ia disibukan dengan proyek Vagabond-nya yang memang kesohor itu. Karya Inoue yang saya sebut terakhir ini judulnya Real. Berkisah seputar dinamikan olahraga basket-kursi roda dan pencarian jati diri penyandang difable (different abilities, kemampuan khusus) yang sangat menyentuh.

Adalah Kiyoharu Togawa. Seorang anak berbakat dalam dunia olahraga. Berawal dari kekesalannya pada tingkah laku ayahnya yang overprotektif, Togawa ( yang saat itu murid kelas 2 SMP) melakukan pembangkangan. Sebenarnya ayah Togawa menginginkan sang anak menjadi seorang pianis, obsesi masa lalu sang ayah yang tak kesampaian. Togawa merasa terkekang, hatinya gundah terlebih belum lama berselang ibunda tercintanya meninggal karena suatu penyakit. Hingga akhirnya guru olahraga Togawa menemukan bakat terpendam Togawa: Pelari Sprinter.

Maka mulailah hari-hari baru Togawa sebagai seorang sprinter. Hari-harinya dilalui dengan latihan, latihan, dan latihan yang tak lain merupakan bentuk pemberontakan pada sang ayah. Perlahan tapi pasti, meski diiringi konflik (yang oleh Inoue dibuat sangat mengharukan) ayah Togawa mulai menerima pilihan anak semata wayangnya itu. Hingga tiba sebuah peristiwa yang akan mengubah masa depanTogawa, si pelari sprinter itu.

Tinggal sedikit lagi, Togawa akan mencatatkan namanya sebagai sprinter tercepat diantara sprinter tingkat SMP se Jepang. Ditengah semangat yang menggebu Togawa mualai menyadari, ada yang tak beres dengan kaki kanannya. Awalnya ia mengira masalah di kakinya disebabkan latihan yang berlebihan, “tak ada yang perlu dikhawatirkan” pikirnya. Satu kejuaraan pamungkas lagi, maka ia akan membukukan rekor sebagai pelari tercepat tingkat SMP se-Jepang.

Tapi tuhan berkehendak lain. Impiannya menjadi pelari tercepat behenti di kejuaraan tersebut, tepat didepan garis finish langkahnya terhenti. Rasa sakit di kakinya semakin memuncak.Mimpi pun sirna. Sebab sejak hari itu, ia menghadapi satu-satunya kenyataan yang “Real” baginya: ia tak akan bisa berlari lagi. Togawa ternyata menderita penyakit Osteosarcoma, kanker tulang yang biasanya menyerang tulang paha pada usia muda. Tak ada pilihan lain untuk menyelamatkan nyawa Togawa, kaki kanannya harus diamputasi.

Seorang remaja yang beranjak dewasa, dengan bayangan masa depan yang indah sebagai seorang atlet sprinter, harus menerima kenyataan yang teramat pahit. Amputasi membuat hidupnya akan dihabiskan diatas kursi roda atau paling banter dengan tongkat penyangga. Kehidupannya hancur, sekolah pun terpaksa ditinggalkannya, tidak hanya karena beban mental namun karena ketiadaan fasilitas yang layak bagi penyandang difable (different abilities, kemampuan khusus) seperti dirinya.

Hingga pada suatu kesempatan ia bertemu dengan Tora, penyandang difable seperti dirinya, seorang yang satu kakinya diamputasi. Tora, yang tidak sedikitpun merasa minder karena kekurangan yang dideritanya, memperkenalkan Togawa dengan olahraga baru, yang kelak menjadi masa depannya:Basket.

Tentunya bukan basket biasa, tetapi basket-kursi roda, dimana pemainnya (penyandang difable karena kehilangan fungsi tungkai kaki) menggunakan kursi roda dalam permainan tersebut. Tidak banyak yang berbeda dengan basket biasa, hanya saja penghitungan point didasarkan kepada kemampuan pemain. Mereka yang mengalami disfungsi bagian tubuh lebih banyak (biasanya karena kelumpuhan syaraf motorik) akan mendapatkan point yang lebih besar saat memasukan angka bila dibandingkan dengan mereka yang mengalami disfungsi karena amputasi.

Togawa menemukan kembali semangatnya yang pernah redup. Ia menekuni dengan sungguh-sungguh basket-kursi roda, ikut serta dalam klub, menjadi kapten, hingga akhirnya terpilih menjadi wakil tim nasional jepang untuk cabang basket-kursi roda. Obesesinya sebagai seorang atlet mucul kembali. Yang menarik tentunya perjalanan Togawa hingga mencapai “puncak”, dimana ia berkenalan dengan banyak orang yang menginspirasi dirinya juga yang terinspirasi oleh dirinya sendiri. Salah satunya Nomiya,pelajar SMU drop-out. Meninggalkan sekolah bukan hal yang berat bagi dirinya, tapi meninggalkan klub basket sekolah (karena drop-out) adalah hancurnya masa depan. Mungkin basket cuma satu-satunya keahlian Nomiya. Hidup Nomiya berubah setelah bertemu Togawa.

Lain halnya dengan Noboyuki Takahashi. Seorang pelajar SMU yang multi talented, tampan, dan pastinya disukai gadis-gadis. Tak ada yang tak bisa dikuasainya, mulai dari pelajaran sekolah hingga olahraga, terutama basket. Nobu bahkan menjadi kapten di tim basket sekolah, sebuah posisi yang cukup menghantarkannya pada popularitas. Sayangnya Nobu berperangai buruk. Angkuh dan kerap memandang remeh orang disekitarnya. Termasuk pada rekan-rekan setimnya. Tak jarang keangkuhan itu membuatnya merasa mejadi jagoan yang bisa memperlakukan secara semena-mena mereka yang “kelasnya” lebih rendah dari dirinya, tak terkecuali Nomiya, rekan setimnya yang harus drop-out dari sekolah.

Hingga sebuah kecelakaan merubah jalan hidupnya. Selamanya. Nobu yang multi-talented itu mengalami kelumpuhan. Syaraf motoriknya rusak sehingga ia tak bisa menggerakan kedua kakinya. Kenyataan ini sulit diterima hisanobu yang “kelas atas” itu. Baginya menjadi penyandang “cacat” adalah sebuah kehinaan. Ia tak bias berhenti mebayangkan apa jadinya jika ia harus menghabiskan waktu di kursi roda. Sayangnya kecelakaan ini tak cukup merubah perangainya buruknya itu. Ia masih memandang rendah orang disekitarnya, termasuk mereka yang tulus datang menjenguknya. Namun lambat laun kecelakaan ini mulai menguak akar masalah yang dihadapi Nobu. Perangai buruk itu rupanya kedok dari rasa tidak percaya dirinya yang harus menerima kenyataan sebagai anak dari keluarga broken-home. Sang ayah yang dibanggakannya, pergi meninggalkan dirinya karena suatu alas an.

Kini Nobu harus berjuang. Tak hanya untuk memulihkan kondisinya pasca kecelakaan yang merenggut kedua kakinya, tetapi juga berjuang untuk memulihkan rasa percaya dirinya dan penghormatan terhadap orang-orang yang tulus membantunya. Termasuk kepada ayahnya yang kembali muncul dalam kehidupannya setelah mendengar kabar kecelakaan Nobu. Namun sekali lagi Nobu harus menghadapi sebuah kenyataan “pahit”, sang ayah yang dulu dia banggakan rupanya kni hanya seorang pengrajin keramik miskin. Bersama sang ayah “baru”-nya itu Nobu mulai menemukan jati dirinya.

Hingga jilid ke-tujuh ini, belum diceritakan apa hubungan Nobu dengan Togawa dan basket-kursi roda. Meski demikian jalan ceritanya rasanya sudah dapat ditebak. Kisah tiga orang dengan tiga latar belakang yang terhubung oleh suatu kenyataan yang “real”: basket and kursi roda.

Meski “Cuma” komik, kekuatan cerita dan karakter yang dibuat oleh Inoue ini sungguh memilkat (kalau anda pernah mengikuti kisah Hanamichi Sakuragi dalam Slam Dunk pati anda akan mengerti ^^). Tema yang diangkat Inoue kali ini terasa sangat menyentuh. Terlebih ide ceritanya tak dibuat-buat seperti banyak komik yang beredar sekarang. Kisah basket-kursi roda, kisah penyandang difable, kisah minor pandangan dan perlakuan masyarakat terhadap penyandang
difable adalah kenyataan yang “Real” yang ada di masyarakat.
Membaca “Real” seperti mengajak kita merenung. Seberapa besar kita memaknai hidup, seberapa besar kita mensyukuri nikmat yang telah Tuhan berikan, dan yang terpenting seberapa besar penghormatan kita terhadap saudara-saudara kita penyandang difable.

Jika anda berminat mengikuti kisah ini, anda dapat membelinya di toko buku (baca: komik ^^) terdekat. Elex Media telah menerbitkan edisi Indonesia-nya. Atau jika ingin lebih praktis anda dapat membacanya secara online di http://www.onemanga.com/Real/

PS: Memperingati Hari Difable Internasional, 3 Desember 2008