Mendadak Supermoon di Sydney

Sebetulnya saya gak ada maksud sama sekali untuk ikut-ikut hype “extra-super” supermoon yang jatuh malam tanggal 14 November 2016 ini. Konon malam ini bulan berada di titik yang paling dekat dengan bumi dan baru akan terulang lagi kurang lebih sekitar 70 tahun yang akan datang. Di Sydney, event untuk menikmati bulan penuh dalam ukuran yang konon 20 persen lebih besar ini terpusat di wilayah pantai di sisi timur kota ini: Bondi, Manly, Bronte dan Cronulla. Sore tadi sebetulnya Sydney diguyur hujan dan mendung menggelayut di langit.

Dugaan saya mungkin malam ini bulan akan malu-malu menunjukan dirinya, tertutup pekatnya awan kelabu. Toh saya memang tidak berniat berburu bulan malam ini. Saya tidak suka keramaian. Menikmati langit malam lebih syahdu buat saya jika dinikmati sendiri, bukan bergerombol beramai-ramai dalam kerumunan. Langit malam buat saya semacam kanvas perenungan. Menengadahkan kepala ke langit malam yang pekat, sesekali ditingkahi bintang yang berkelap-kerlip atau saat purnama sepereti ini, diterangi cahaya bulan yang mistis bisa melambungkan angan saya pada banyak hal. Perenungan tentang hidup, tentang diri, tentang betapa tidak berartinya kita dalam kemegahan semesta. Jadi betapapun saya penikmat langit malam, tidak sedikitpun saya terpikir untuk berburu bulan malam ini. Dan lagi saya tidak punya kamera DSLR yang mumpuni untuk mengabadikan terang bulan malam ini.

Tadi sore, selepas seharian berkutat dengan tugas kampus, saya melakukan rutinitas gowes sepeda yang sempat terputus beberapa pekan ini gegara tugas-tugas kampus yang menumpuk. Bersepeda di kota ini adalah sebuah kemewahan kalau saya bandingkan dengan pahitnya bersepeda di kota Jakarta tercinta. Perbedaannya rasanya benar-benar seperti langit dan bumi. Di sini pesepada benar-benar dimanjakan dengan jalur sepeda yang aman, nyaman dan fasilitas penunjang yang sangat lengkap. Lain waktu saya akan bercerita panjang soal ini. Kembali ke tadi sore.

Sepeda commuter hybrid Reid Urban X-2 saya gowes ke arah Sydney Olympic Park. Semacam komplek stadion Senayan di Jakarta. Tapi tujuan utama saya Bicentennial Park di sisi sebelah utara komplek olahraga bekas perhelatan Olimpiade tahun 2000 lalu ini. Bicentennial Park ini semacam taman dan area konservasi mangrove yang sangat luas dan berbatasan langsung dengan Paramatta River, sungai besar yang membelah kota Sydney. Ada jalur sepeda yang sangat ciamik menembus kawasan konservasi mangrove. Selama nyaris setahun disini, kawasan ini jadi semacam short escape untuk melepas kepenatan dari rutinitas harian. Dari tempat tinggal saya di suburb Lakemba, kawasan ini bisa ditempuh dengan bersepeda selama kurang lebih 45 menit. Tujuan akhir saya adalah Wool-La-Ra, semacam bukit yang dalam bahasa Aborigin berarti tempat untuk mengawasi, look out place. Dari puncak bukit yang landai ini kita memang bisa mendapatkan view 360 derajat dari landscape kota Sydney di kejauhan, kawasan konservasi di sekitar olympic park, sungai Parramata dan jika beruntung kita bisa juga mengintip rangkaian pegunungan Bule Mountain di sisi barat. Dan adalah sebuah keputusan yang tepat datang ke tempat ini sore ini.

Setibanya di bukit ini, yang aksesnya menjadi sangat mudah dengan jalur sepeda yang amat sangat nyaman, saya beristirahat dan menikmati lembayung senja dan pergantian langit jingga menuju gelapnya malam. Dan tanpa saya sadari, saya mendapatkan supermoon disini !!!!! Sayang beribu sayang, saya cuma mengantongi kamera smartphone. 0 Setelah puas memandangi bulan di bukit ini, terfikir oleh saya untuk menikmati bulan penuh yang agak gemuk ini di kapal ferry menuju Circular Quay, kawasan dimana Opera House yang tersohor itu berada. Memang agak riskan menggowes sepeda ke Lakemba dari Olympic Park di malam hari. Jalur sepeda tidak dilengkapi dengan penerangan yang memadai di malam hari. Maka saya putuskan untuk menumpang ferry, yang memang menjadi salah satu moda transportasi kota ini selain bus dan kereta, dan menyambung dengan kereta ke Lakemba Station dari Circular Quay. Ini juga merupakan kemewahan lain buat pesepada di kota ini. Jika lelah menggowes pulang, kita bisa dengan mudah menenteng sepeda ke dalam kereta atau ferry. Tak perlu repot. tinggal duduk dan simpan sepeda di tempat yang disediakan.

Ferry Wharf terdekat dari Woo-La-Ra berjarak sekitar 500 meter. Saya tiba disana sekitar jam 20.15. Setelah menunggu selama 15 menit, ferry yang ditunggu datang. Hanya ada sekitar 10 orang yang menumpang ferry tadi malam. Sepeda saya simpan di buritan ferry di bagian belakang dan segera saya mengambil tempat duduk di lantai 2 yang sengaja dibuat tanpa atap. Dari tempat ini saya bisa menikmati langit malam yang syahdu dan tentunya kengggunan bulan yang malam ini tampak lebih terang sinarnnya, makin elok bentuknya. Entahlah, mungkin ini efek dari bulan yang terlihat lebih besar malam. Kamera smartphone saya kemampuannya jelas terbatas untuk mengabadikan kemegahan bulan malam ini. Tapi dari pada sama sekali gak ada kenang-kenangan, saya sibukan diri menjepret bulan yang aduhai ini disela-sela perjalanan ke Circular Quay. Berikut beberapa foto pilihan yang saya ambil. Selamat menikmati supermoon, sebagaimana yang terlihat dari sungai Parramatta tadi malam.

Lakemba, 1.15 am