Kehilangan Darah Kata

Bisa jadi tulisan ini cuman monolog. Melihat statistik pengunjung website ini rasa-rasanya gak ada yang “langganan” menigintip blog ini. Well buat anda yang pernah melipir ke blog ini mungkin menyadari kalau blog ini sudah dorman selama hamir lebih dari 3 tahun-an. Kadang ada tulisan baru, tapi cuman repro atau sekedar curhat gak berbobot.

Website ini sebetulnya bukan satu-satunya website yang saya kelola. Dulu pernah sewa hosting sendiri dan pakai nama domain sendiri (www.yustisia.org). Sayang gak bertahan lama. Cuma kuat dua tahun saja. Pernah juga nge blog di web lain yang sekarang sudah pada gulung tikar. Di blog nya friendster (jaman jadul banget ini,ketauan deh angkatan berapa) dan multiply.

Itu makanya kalau anda jeli, web ini keliatannya banyak sekali postingan dan komentar nya. Well sebetulnya ini hasil dari export blog yang disediakan pengelola multiply sebelum gulung tikar beberapa waktu lalu. Jadi saya berhasil menyelamatkan sisa-sisa tulisan, komentar dan inetaksi dengan user/bloger lain di multiply.com yang buat saya amat sangat berharga. Kenapa berharga? Karena semua itu ada proses belajar sekaligus semacam monumen yang mengingatkan saya bahwa “oooh gw pernah gitu ya dulu”. Seenggaknya tulisan-tulisan dan komentar yang terekam didalamnya bisa jadi semacam sarana refleksi buat saya.

Di waktu senggang saya suka baca-baca tulisan-tulisan jadul ini dan membaca komentar yang masuk. Kadang mesem-mesem sendiri, menyadari betapa “bocah” nya saya beberapa tahun lalu. Ada tulisan yang dibuat biar keliatan “ilmiah”, meski memang ada juga yang ilmiah beneran (ehm!!!!). Ada yang dibuat secara kilat, dan gak lebih sekedar luapan emosi”, ada juga tulisan yang gak lebih dari sekedar “modus”. Mungkin saya ke-geer-an, tapi saya tau waktu aktif menulis blog ada beberapa orang (wanita tentunya)yang mau-maunya update blog saya cuman sekedar ingin liat saya nulis apa. Mungkin mereka (njir…lebih dari satu nih hehe) begitu tergila-gila sama saia (jangan muntah dulu), jadi mereka ingin tau lebih dalam siapa saya dan berharap bisa angkat topik pembicaraan yang pas dan sesuai dengan preferensi saya kalo kebetulan kita ketemu en ngobrol-ngobrol (silakan muntah sekarang..hahahaha). Kalau sudah kayak begini kadang saya nulis dengan “kode” yang dapat dipahami oleh orang-orang yang memang saya modusin (hahahahaha). Udah ah kalau dilanjutin bisa bahaya…istri saya sekarang mungkin termasuk yang terkena modus-an saya hahahaha

Oke kembali ke judul tulisan ini.  Saya sebetulnya merasa kasihan dengan diri saya sendiri. Saya percaya menulis adalah aktivitas yang membuat kita menjadi manusia. Bukankah kita tau kalau tulisan adalah penanda antara masa pra sejarah dan masa sejarah. Penanda atas sebuah fase dimana kita hanya mamalia berjalan tegak dengan makhluk yang menggunakan akal budinya dan menjadikan kita sekarang. Kalau sesekali melipir ke blog ini, saya sedih. Bukan karena sedikitnya orang yang mengunjungi blog ini. Tapi karena saya selalu tersentak, sudah lama sekali saya tidak menulis dengan darah kata. Menulis dengan dorongan kata hati dan kejujuran. Saya seperti kehilangan jiwa “pemberontak” setelah memasuki dunia kerja, meski saya bekerja di dunia yang membuka peluang buat pikiran-pikran non-mainstream, toh itu tidak membuat saya menjadi rajin menulis. Setidaknya menulis dengan bebas dan tidak terpatok pada pakem dan standar norma/aturan tertentu. Dulu lintasan pikiran saja bisa saya konversi jadi tuisan. Menulis adalah perenungan ketika itu. Sebuah perjalanan sekalipun bisa segera saya tuangkan menjadi tulisan. Semacam refleksi atas apa yang saya temukan dalam perjalanan. Atau kalau sedang “trance” saya bisa membuat tulisan yang bercampur antara analisis kritis dan umpatan. Biasanya ini tulisan berbau politik dan hukum.  Disitu saya merasa jujur pada diri saya sendiri tentang apa yang saya rasakan. Saya tidak merasa perlu menjaga “mulut”. Kalau memang saya muak, maka tulisan saya ketika itu akan banyak berisi umpatan. Menulis ketika itu menjadi sebuah wahan mengekespresikan diri, meski kadang jadi media katarsi juga. Apapun itu saya merasa dulu saya bisaa menulis dengan bebas. Tanpa tekanan dan tanpa “target” dan pakem tertentu.

Mudah mudahan saya bisa memperoleh lagi darah kata itu.

 

kredit gambar: http://www.richarddooling.com/wp-content/uploads/writer-wretch.jpg

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s