Veteran Tes CPNS (bagian 1)

Oke. Mungkin ini agak ngenes, tapi rasanya seru juga buat diceritain

Begini ceritanya….

Usia saya sekarang 28 tahun. Lulus pendidikan sarjana hukum tahun 2009 lalu setelah enam tahun “mondok” di FHUI. Ya, enam tahun adalah batas maksimal yang masih ditolerir fakultas untuk menempuh pendidikan S1 Hukum, lewat dari itu : DO. Bisa dibilang saya ketuaan untuk lulus 🙂

Alhamdulillah tidak sampai sehari setelah yudisium saya sudah dapat tawaran pekerjaan. Pekerjaan yang memang sudah saya prediksi sejak kuliah dengan mempertimbangkan pergaulan dan (ini mungkin agak norak) preferensi ideologi. Ya, saya bekerja di sebuah LSM advokasi hukum, tepatnya hukum lingkungan berbasis riset. Kalau membandingkan dengan institusi sejenis, kantor saya ini termasuk yang bonafide. Cukup terhormat dan disegani keberadaannya, baik oleh LSM lain maupun oleh pemerintah. Tidak terlalu mengherankan sebenarnya, terlebih pendiri kantor ini bisa dibilang adalah legendanya dunia per-LSM-an, khususnya LSM hukum dan advokasi. Hampir semua pendiri kantor ini bersentuhan dengan YLBHI, bisa dibilang ini organisasi bantuan hukum tertua di Indonesia dan amat sangat terpandang pada masa ORBA. Sekarang juga sih, Cuma memang gaung keberadaannya memang lebih terasa saat masa represi Soeharto. Sebagaimana alumni-alumni YLBHI lainnya, pendiri kantor saya ini termasuk orang-orang yang sukses dibidangnya masing-masing. Ada yang sukses berkiprah sebagai pengacara, ada yang jadi pejabat pemerintahan, guru besar di fakultas hukum ternama, sampai politisi. Tidak berlebihan rasanya jika mengatakan kalau kantor ini memperoleh reputasinya dari nama besar mereka. Di lingkup almamater, pendiri kantor saya ini bisa dibilang amat sangat dihormati. Beliau pernah menjadi ketua ikatan alumni fakultas, dan dikenal sebagai salah satu tokoh pembaruan hukum nasional. Sekarang beliau berada di lingkar istana. Ya terserah sih menafisrkannya gimana. Yang jelas preferensi politik setiap orang adalah hak.

Tapi ini bukan cerita soal kantor saya. Ini adalah cerita tentang saya J

Saya bukannya tidak bersyukur masih diberi kesempatan bekerja di kantor ini. Jujur ini adalah tempat terbaik untuk membuka jaringan, menimba ilmu, termasuk untuk melanjutkan jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Empat tahun di kantor ini saya pernah merasakan rasanya meeting satu meja dengan menteri, gubernur, wakil menteri, pejabat setingkat dirjen dan sebagainya. Kesempatan yang agak sulit didapat kalau saya merintis karier sebagai kroco di lembaga swasta atau pemerintahan. Di kantor ini even kroco sekalipun dianggap “raksasa” lho. Kenapa? Ya karena reputasi kantor dan nama besar yang tadi saya paparkan hehe. Dengan “luasnya” pergaulan di kantor ini, sebetulnya minta rekomendasi untuk melanjutkan kuliah dan mendapatkan beasiswa sebetulnya ibarat tinggal gesek doang. Gak heran kalau cukup banyak yang terarik masuk kantor ini. Banyak bukan berarti bejibun tapinya ya. Sekeren apapun juga ini organisasi non-profit. Jadi soal gaji jangan banyak berharap lah hehe..meski sekali lagi kalau dibandingkan dengan kantor sejenis, kantor saya ini termasuk yang memberikan insentif gaji yang besar.

Soal gaji ini juga yang jadi pertimbangan saya selama berada di sini. Maka wajar sejak pertama kali ngantor di sini, sayapenerimaan-cpns-_120801145003-457 mengutarakan pada pimpinan soal keinginan saya untuk pursuing career yang lebih “pasti” wa bil khusus mengejar karier sebagai pegawe aka PNS. Untungnya pimpinan kantor tidak berkeberatan. Maka di tahun pertama itu saya mencoba peruntungan dengan melamar sebagai peneliti di Mahkamah Konstitusi. Beban kerja yang tidak terlalu berat pas pertama kali masuk memungkinkan banget untuk nyambi ikut tes-tes CPNS.

Sebagai lembaga yang lahir pasca reformasi, MK termasuk incaran fresh graduate, terutama karena pertimbangan reputasi lembaga tersebut. Ini dulu ya, tahun 2009 sebelum kasus Akil Mochtar mencuat. Di kalangan anak-anak hukum, khususnya Hukum Tata Negara seperti saya, MK ini ibarat tempat idaman untuk bekerja. Ya maklum sih, selama kuliah bisa dibilang diomongin mulu lembaga ini. Keren lah pokoknya. Saya termasuk yang beruntung bisa tes CPNS sampai tahap akhir.Ya, Cuma sampai tahap akhir alias gagal pas mau garis finish Hehe

Jadi ini ceritanya. Tes di MK itu termasuk yang berlapis-lapis. Saya bisa bilang begitu karena ada temen yang keterima CPNS di kementrian yang pernah dibubarin Gus Dur, sebut saja kementrian X, tes seleksi CPNS nya cuma 2 kali tahapan. Tes tertulis lalu wawancara. Se-simple itu. Sementara di MK tahun 2009 itu saya harus ikut beberapa kali tes. Setelah lolos seleksi berkas, saya ikut tes tertulis. Waktu itu tes nya hari Minggu dan ada ribuan orang yang ikut tes. Materi tes nya dari mulai pengetahuan ketatanegaraan, pengetahuan umum, logika, matematika, dan bahasa Inggris. Dari ribuan itu yang berhak ikut ke tahap berikutnya Cuma 50 orang. Dan saya termasuk yang beruntung.

Tes kedua berupa psiko tes. Semacam tes kepribadian dan tes IQ yang digabung jadi satu. Ini juga ternyata jadi alat ukur seleksi. Dari 50 orang, diseleksi lagi jadi 30 orang. Dan lagi-lagi saya termasuk yang beruntung ada di kelompok ini. Sampai sini wajar dong kalau ge-er Hehe. Harapan mulai membuncah lah. Yang lolos psikotes ini dilanjutkan dengan tes kesehatan. Waktu itu semua yang lolos diminta untuk kumpul di MK, lalu kami diantarkan ke RS di sekitaran Jakarta Pusat, kalau tidak salah yang ke arah kantor Walikota Jakpus. Sampai akhirnya tiba tahapan tes terakhir. Tahapan wawancara.

Peserta seleksi CPNS yang lolos sampai tahap terakhir ini kalau tidak salah ada 30 orang. Jadi kayaknya tes kesehatan itu Cuma formalitas aja. Gak tau sih kalau ada yang ketahuan junkies mungkin bakal langsung dicoret. Dari ribuan tersisa 30 orang. Boleh bangga dong J berdasarkan informasi awal ada 15 posisi jabatan yang “diperebutkan”, dan berlaku ketentuan rasio jabatan dengan peserta seleksi 1: 2. Artinya dari 30 orang tersisa, setiap orang tinggal tersisa satu orang saingannya di jabatan yang diperebutkan itu. Waktu itu saya melamar sebagai peneliti. Ini memang panggilan jiwa banget sih. Saya sangat menyukai kegiatan berbau akademis dan ilmiah semacam membaca, menulis, berdiskusi, dan mengajar.

Well, berita baiknya adalah satu orang saingan saya di posisi peneliti ini kabarnya mengundurkan diri. Dia adik kelas saya di kampus, dan kabarnya keterima di Kementerian Luar Negeri, yang waktu seleksi CPNS nya hampir berbarengan. Mendengar kabar itu makin kembang kempis nih hidung. Sempat berfikir kalau ini Cuma formalitas, soalnya saya pasti kepilih, lah wong saingannya sudah mundur, kandidat tinggal gw doang dong 🙂

Dan ternyata prediksi meleset. Pahit banget lah Hehe. Meski pahit, jujur ini adalah pengalaman tes CPNS paling berkesan. Yap, ini memang bukan yang pertama hahaha….tapi kita akan sampai ke cerita itu nanti. Lagi-lagi saya coba tanya kiri kanan temen yang ikutan seleksi CPNS di kementrian atau lembaga lain. Dan saya bisa simpulkan kalau tes wawancara di MK ini kualitasnya jauuuuuh dibandingkan instansi pemerintah lainnya. Pertama, karena yang wawancaranya Special. Gak tanggung-tanggung, yang wawancara langsung orang No. 1 di kesekretariatan MK : Sekjen MK nya sendiri. Dan gak sendirian, wawancaranya dihadiri pula oleh beberapa pakar hukum yang diantaranya cukup familiar. Ada Guru Besar Hukum Tata Negara di universitas beken di Sumatra, Prof. SI dan beberapa guru besar lain di bidang hukum administrasi negara. Dengan komposisi pewawancara ini jelas yang ditanyakan bukan soal motivasi kerja di MK, tapi lebih substantif, apalagi yang background ilmunya Hukum dan melamar posisi yang berkaitan dengan penelitian dan teknis yustisial. Kedua, waktu pelaksanaan wawancaranya bisa dibilang gak lazim untuk ukuran lembaga pemerintahan. Biasanya wawancara seleksi CPNS dilakukan di jam kerja normal PNS kebanyakan : Jam 08.00 WIB, setelat-telatnya Jam 16.00 WIB. Tapi di MK ini kami diminta kumpul untuk wawancara jam 5 sore. Ya, sore hari  diluar lazimnya jam kerja PNS kebanyakan. Usut punya usut ternyata si pak Sekjen yang wawancara kami ini memang workaholic. Sempet saya tanya ke Satpam yang jaga ruangannya, kalau beliau biasa pulang larut malam. Paling cepat pulang jam 22.00 malam. Saya sendiri dapat jatah wawancara jam 23.00 malam, yap hampir tengah malam hahahahaha. Sempet bingung ini seleksi CPNS apa seleksi satpam yak hahaha. Itu juga bukan yang terakhir. Kabarnya sih hari itu sesi wawancara berlangsung sampai jam 01.00 dini hari. J

Dengan perasaan sumringah dan harapan membuncah, saya menunggu pengumuman akhir peserta yang lolos seleksi CPNS di MK. Dengan kondisi yang saya sebut diatas saya benar-benar merasa diatas angin. Beberapa teman juga meyakinkan kalau saya pasti keterima. Dan tibalah saat pengumuman itu. Lewat internet saya donwload pengumuman peserta yang lulus seleksi. Ada kejanggalan. Dari 15 posisi yang “ditawarkan” ternyata Cuma 12 peserta yang terpilih, artinya ada 3 posisi jabatan yang dikosongkan. Dan tidak ada nama saya disitu hehehe….

Yah meski gak lolos, seleksi di MK ini selalu berkesan buat saya. Yang pasti kejadian ini mengajarkan satu hal penting: jangan pernah ke-geer-an, terutama untuk hal yang belum pasti hahahaha. Ada satu lagi yang seru dari proses seleksi MK ini. Pas wawancara si pak Sekjen, yang bingung kenapa gw bisa lulus begitu lama, mencoba konfirmasi apakah gw “aktivis” kampus atau bukan. Pas gw bilang, aktif di organisasi kemahasiswan dia langsung bales nanya: kamu HMI bukan? Dengan pede gw jawab : BUKAN. Jangan-jangan ini yang biking gw gak lolos hehe..HMI connection gitu loh heuheu…

Bersambung, ke seleksi CPNS berikutnya (yap ini baru yang pertama hehe)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s