Ketika Langit Tak Perawan Lagi

“Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan” (QS An-Naba 10-11)

Sungguh indah Kalam Tuhan diatas, Dia mengumpamakan (langit) malam sebagai pakaian. Menurut pakarnya tafsir Qur’an, malam itu disebut sebagai “pakaian” karena malam itu gelap menutupi jagat sebagaimana pakaian menutupi tubuh manusia. Pakaian adalah “mahkota” manusia beradab, pakaian juga berfungsi sebagai pelindung tubuh. Maka apa jadinya jika tubuh manusia tidak dibungkus pakaian? Kondisi ketelanjangan yang tidak pada tempatnya bukan hanya menimbulkan rasa malu tapi juga rasa tidak nyaman pada tubuh kita. Demikian halnya dengan langit malam. Apa jadinya jika langit malam yang sengaja diciptakan Tuhan sebagai “pakaian” itu dengan sengaja ditelanjangi oleh manusia. Apa jadinya jika “kesucian” malam direnggut oleh nafsu serakah? Apa jadinya jika langit malam ditelanjangi, jika langit malam kini tak perawan lagi…

***

Sejak dulu langit malam punya pesona yang memikat manusia. Filsuf menambatkan pertanyaan tak terjawab pada heningnya langit malam. Pekatnya malam adalah rahim lahirnya inspirasi-inspirasi benderang. Romantisme para pujangga dan para pencinta (dan perayu gombal :-)) sepertinya juga berasal dari kekaguman langit malam yang eksotis dengan bulan, lautan gemintang, dan bintang jatuh-nya. Benda-benda penghias langit malam yang indah itu kerap dijadikan “modal” untuk merayu tambatan hati :lol:. Dari zaman kuda gigt besi langit malam sudah memikat hati manusia, baik karena keindahannya maupun aroma mistis yang melingkupinya. Dan yang terpenting, pekatnya malam memberikan kesempatan kepada manusia untuk beristirahat melepas lelah setelah di siang hari yang terang benderang mereka beraktifitas (atau sebagaimana kalam Tuhan: mencari penghidupan).

Langit malam ternyata dinikmati juga oleh makhluk hidup lainnya. Beberapa hewan baru muncul dari peraduannya justru ketika sang surya tenggelam. Hewan-hewan, yang disebut hewan nokturnal itu, beraktifitas ketika makhluk lain terlelap di malam hari. Sebagain besar adalah hewan pemburu yang mengendap dalam pekatnya malam untuk memangsa hewan-hewan dari strata yang lebih rendah dalam piramida makanan. Langit malam memberikan kehidupan bagi hewan-hewan predator dan pada saat yang sama menjaga keseimbangan ekologis melalui kesinambungan proses memakan-dimakan dalam rantai makanan. Beberapa hewan juga melakukan aktifitas penting pada malam hari: reproduksi, melahirkan, hingga bermigrasi. Tak dapat dipungkiri, pekatnya langit malam sebagai bagian dari siklus pergantian siang-malam menjadi salah satu determinan penjaga keseimbangan ekologis.

Simulasi Stelarium : langit malam dengan polusi cahaya
stellarium-005

Tapi kini langit malam tak perawan lagi. Manusia yang semakin cerdas tapi nafsu serakahnya yang semakin tak terbendung mulai menelanjangi malam. Malam tak lagi pekat, sebab manusia rupaya tak pernah puas dengan apa yang didapatnya di siang hari. Maka dengan bekal pengetahuan, langit malam “dipasangi lampu” agar nilai ekonomis yang didapatkan di siang hari bisa diperoleh juga dimalam hari. Waktu adalah uang, begitu kata mereka. Kareannya sebisa mungkin di malam hari sekalipun harus ada uang yang bisa didulang. Maka kini malam hari bisa serupa siang. Dengan lampu, yang penggunaannya kadang mubadzir, manusia telah menodai langit malam dengan cahaya yang tidak perlu.

Mungkin dahulu Thomas Alva Edison tidak pernah berfikir jika lampu pijar penemuannya akan digunakan untuk menodai langit malam. Lampu dan pencahayaan dimalam hari memang dibutuhkan, misalnya untuk keperluan keamanan di malam hari. Tapi kini penggunaan lampu di malam hari seolah tanpa peruntukan yang jelas. Lihat saja banner-banner iklan/reklame raksasa dengan pencahayaan yang menyilaukan mata. Berkembangnya tempat-tempat hiburan malam dan pusat perbelanjaan yang kerap menggunakan aneka lampu warna-warni hingga lampu sorot untuk menambah kesan megah dan meriah juga berkotribusi terhadap penodaan langit malam. Apalagi ketika gedung-gedung perkantoran pencakar langit serta pabrik-pabrik yang di malam hari pun harus tetap “menyala” karena kebutuhan untuk memaksimalkan pundi-pundi uang. Langit malam tidak lagi pekat dan pencahayaan lampu yang mubadzir menjadi penyebab utamanya.

Penggunan lampu dan pencahayaan berlebihan selama ini diidentikan dengan aktivitas pemborosan energi. Kini aktivitas muabadzir ini diyakini pula sebagai biang keladi polusi cahaya. Istilah ini awalnya berkembang dan menjadi perhatian para pengintip langit: astronom dan penikmat langit malam, yang mengalami kesulitan melakukan observasi langit karena pencahayaan yang berlebihan di perkotaan dan area permukiman. Observasi benda langit dengan teleskop apalagi dengan mata telanjang semakin sulit dilakukan sebab benda langit yang memancarkan cahaya dengan intensitas yang lemah (karena jaraknya yang amat sangat jauh sekali dengan bumi itu) kini harus bersaing dengan cahaya yang berasal dari permukaan bumi. Bahkan tempat pengamatan se-level Observatorium Boscha di Lembang sekalipun kini semakin sulit mengobservasi langit karena polusi cahaya disekitar observatorium sebagai akibat berkembangnya kawasan Lembang menjadi objek wisata dan permukiman (National Geographic Edisi Indonesia, November 2008).

Simulasi Stellarium: Langit malam tanpa polusi cahaya
stellarium-004

Tapi jangan anggap polusi cahaya sebagai masalahnya astronom dan penikmat langit malam saja. Polusi cahaya ternyata berdampak pada pola hidup hewan-hewan yang sangat bergantung pada terang gelapnya langit. Akibat polusi cahaya banyak penyu yang mati terdampar karena mengalami disorientasi. Penyu umumnya berenang ke arah cakrawala yang lebih terang tinimbang daratan untuk mencari makan atau kawin.Namun karena polusi cahaya, penyu mengalami kesulitan membedakan pantai dan cakrawala sebab kini pantai bisa lebih terang tinimbang cakrawala sebagai dampak pembangunan resort dengan pencahayaan mubadzir di tepian pantai. Polusi cahaya disekitar pantai juga mengancam kelangsungan hidup species ini sebab penyu betina kesulitan menemukan pantai/daratan yang gelap untuk menetaskan telurnya.

Polusi cahaya juga menyebabkan disorientasi waktu bagi beberapa species burung. Polusi cahaya yang membuat langit malam lebih terang dari yang seharusnya membuat beberapa species burung mengalokasikan waktu makan dan beraktifitas yang lebih panjang. Mungkin mereka menganggap langit masih terang dan malam belum tiba. Akibatnya pertambahan berat badan burung menjadi lebih cepat dan hal ini berpengaruh pada pola migrasi ketika musim dingin. Umumnya beberapa species burung akan melakukan migrasi kewilayah yang lebih hangat untuk mengantisipasi musim dingin. Salah satu persiapan migrasi adalah dengan meningkatkan bobot, mungkin untuk “cadangan lemak” selama musim dingin. Namun karena polusi cahaya, pertambahan bobot burung menjadi lebih cepat sehingga mereka melakukan migrasi lebih awal dari waktu yang seharusnya. Akibatnya ribuang burung mati selama migrasi yang kecepetan ini. Dampak ekologis polusi cahaya rupanya tidak bisa dianggap enteng. Terancamnya kelangsungan hidup beberapa species hewan akan menimbulkan efek domino sebab alam adalah rantai yang saling terkait. Anomali pada salah satu bagiannya akan berampak pada yang lainnya. Ketika keseimbangan ekologis terganggu, maka keharmonisan manusia dengan alam juga akan bermasalah. Jika sudah demikian maka kita juga yang akan merugi.

***

pow94Berkembanganya ilmu pengetahuan rupanya tidak membuat kita (manusia) semakin bijak, Kemudahan-kemudahan yang kita dapatkan seiring dengan pesatnya teknologi rupanya mengiringi juga bangitnya setan-setan serakah yang secara laten telah bersemayam dalam diri kita. Ketika pengetahuan menjadi senjata ampuh untuk menaklukan alam, kita mulai berfikir seolah-olah cuma kita satu-satunya makhluk yang menghuni bumi. Tanpa malu-malu kita menelanjangi malam dan menafikan keberadaan makhluk hidup lain yang membutuhkan malam untuk keberlangsungan hidupnya. Ironisnya semua dilakukan atas nama uang. Manusia menyinari langit malam secara mubadzir sebagai dampak industrialisasi-kapitalisme yang semakin menggila. Mungkin kita perlu meresapi kembali kalam Tuhan di muka, “..Dan Kami jadikan malam sebagai pakaian. Dan Kami jadikan siang untuk mencari penghidupan…”. Jika kita masih merasa kurang dengan waktu yang Tuhan berikan untuk mencari “sumber pnghidupan”, sehingga mengorbankan keseimbangan alam demi segepok dollar, maka benarlah apa yang dikatakan Gandhi : “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh ummat manusia, kecuali keserakahannya”….

Saat gelap semakin pekat, maka kau akan melihat gemintang (pepatah persia)

Tulisan ini terbantu oleh liputan mendalam NG Indonesia edisi November 2008 tentang Polusi Cahaya

2 Comments Add yours

  1. tak ada lagi waktu untuk perenungan di tengah percepatansemua cuma permainan pelepasan hasrat yang miskin makna..malam oh malam..

    Like

  2. untuk hal ini saya mengutuk semua bentuk polusi yang membuat langit tak lagi jernih, hingga saya semakin sulit menikmati bulan sabit dan kejora yang berdampingan… Astagfirullah, sang Khalifah telah lalai…..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s