Battle in Seattle: Lima Hari Yang Mengguncang Dunia

“..Jaringan suara yang bukan hanya bicara namun juga berjuang demi kemanusiaan untuk melawan neo-liberalisme. Jaringan lima benua yang turut menangkal kematian yang disuguhkan kekuasaan kepada kita. Jaringan tanpa pusat atau pengambil keputusan, yang tak memiliki komando sentral atau hakiki. Kitalah jaringan itu, kita semua yang melawan…” (Zapatista, Chiapas 1996)

Anarkisme sebagai sebuah keyakinan politik kadung mengalami peyorasi, degradasi makna. Istilah ini kerap diasosiasikan dengan sikap urakan, anti kemapanan, dan terutama doyan kekerasan. Anarkis berarti demonstrasi dengan melempar batu, membakar ban, mengeroyok polisi atau yang sejenisnya. Padahal sebagai sebuah keyakinan politik, anarkisme punya makna yang jauh dari sekedar tindak kekerasan. Bangkitnya kelompok-kelompok otonom sebagai respon atas menguatnya aktor non-negara (baca: korporasi) dalam konstelasi politik dan kekuasaan kontemporer membuka peluang munculnya paradigma baru anarkisme di era globalisasi neo-liberalisme saat ini. Namun lagi-lagi, penyempitan makna yang kadung memandang minor anarkisme membuat ide alternatif ini semakin kehilangan pamor di mata publik.

Padahal “anarkisme baru” yang muncul sejak menguatnya peran korporasi dan logika perdagangan dalam mendikte demokrasi dan kehidupan manusia adalah salah satu keyakinan politik dan metode penggorganisasian massa yang paling potensial meruntuhkan hegemoni kapitalisme yang dimanifestasikan lewat kongsi dagang WTO, World Trade Organization. Persitiwa yang terjadi di Seattle di akhir November 1999 saat ribuan masyarakat sipil melakukan protes selama berlangsungya sidang WTO adalah gambaran bagaimana sebuah “gerakan anarkis” sukses menantang hegemoni kapitalisme (yang dimitoskan tak terkalahkan oleh Fukuyama dalam The End of History-nya). Karenannya Battle In Seattle adalah film yang tepat bagi Anda yang hendak berkenalan dengan perjuangan dan gerakan “anarkisme baru”, perjuangan yang oleh Zapatista (gerilyawan masyarakat adat Chiapas) disebutnya sebagai Resistencia y Rebeldia For La Humanidad, Perlawanan dan Pemberontakan untuk Kemanusiaan.

***

406px-BattleinSeattleNEWBattel In Seattle adalah film anyar keluaran tahun 2008 yang disutradarai oleh Stuart Townsend. Film ini mengambil setting saat berlangusngnya protes anti kapitalisme/neo-liberalisme pada pertemuan tingkat menteri anggota WTO di Seattle U.S bulan November 1999. Bisa dibilang film ini hibrida antara dokumenter dan fiksi. Setting film merupakan kisah nyata yang benar-benar terjadi, namun semua tokoh dalam film ini cuma rekaan, meski mereka memerankan kelompok-kelompok yang mengambil peran pada peristiwa Seattle yang kesohor itu. Kritikus flm menyebut film ini “not quite a documentary and not quite a drama, but interesting all the same” (Wikipedia). Sebagai film “semi dokumenter” dengan corak politis yang kuat dan tendensi keberpihakan yang kental, rasanya kurang afdol menonton film ini tanpa memahami gerakan anti kapitalisme kontemporer (saya lebih suka menyebutnya gerakan anti ketidakadilan global) yang menjadi “tokoh utama” film protes ini.

Film ini mengisahkan orang-orang yang dengan perannya masing-masing saling terikat satu sama lain dalam reli protes selama lima hari di Seattle. Mereka terdiri dari : tiga orang aktivis penggerak protes dengan latar belakang yang kompleks dan beragam (environmentalist, feminis, anti-debt activist); Dua orang wartawan liputan langsung yang memilih berpihak pada kebenaran dengan resiko pemecatan ; Seorang dokter MSF (Medicine Sans Frontier/Doctor Without Borders) yang menolak komersialisasi layanan kesehatan dan paten obat-obatan melalui jalur legal dalam forum WTO, meski suaranya dianggap angin lalu ; Seorang polisi kota Seattle yang menjaga perhelatan sidang WTO dan istrinya ; Serta Major kota Seattle yang kebingungan menangani protes yang berkembang menjadi “bencana nasional”. Protes selama lima hari itu menghubungkan mereka dalam sebuah “ikatan” dan masing-masing dihadapkan pada pilihan-pilihan yang akan mempengaruhi masa depan dan posisi mereka dalam protes yang telah menjelma menjadi gerakan mundial (global) ini.

Bagi penggiat “parlemen jalanan”, film ini akan sangat familiar bahkan mungkin bisa menjadi refrensi anda saat melakukan protes/demonstrasi 8-). Sejak awal hingga akhir film ini , Anda akan disuguhi beragam kreativitas aksi dan demonstrasi damai a la “neo-anarkisme”. Anda akan melihat bagaimana kelompok-kelompok afinitas yang beragam dalam reli protes ini (buruh, mahasiswa, petani, feminis, aktivis lingkungan dll) mampu mengoganisaskan diri secara rapih dalam sebuah struktur yang nyaris tanpa hierarki birokratis dan komando tersentral. Pengelolaan protes secara anarkis membuat kelompok-kelompok yang berbeda itu mampu bergerak secara kompak ketika melakukan aksi turun ke jalan untuk memblokade jalan menuju area pembukaan sidang WTO tanggal 29 November 1999. Sejak pagi mereka menyebar di beberapa titik dan memblokade jalanan yang akan dilalui delegasi pertemuan dengan rantai manusia. Uniknya,pemblokiran arus lalu lintas tidak menggunakan cara-cara “klasik” misalnya dengan membakar ban atau memancing bentrokan di jalanan. Alih-alih mengunakan idiom klasik revolusi (pistol, molotov, tentara pembebasan dll), mereka menggunakan perangkat-perangkat unik ukuran raksasa yang bermakna satir dan mngundang senyum (misalnya boneka karikatur pemimpin dunia). Spanduk-spanduk dan perangkat agitasi juga dibuat sekreatif mungkin, bahkan kostum peserta aksi sengaja dibuat untuk menyindir polisi yang mengawasi demonstrasi damai dengan pakaian tempur lengkap yang lebih mirip kostum Death Vader dalam film Star Wars. Di film ini misalnya, diperlihatkan bagaimana demonstran menggunakan kostum yang jauh dari kesan “sangar” dan berbahaya, misalnya dengan kostum badut kura-kura atau kostum peri, lengkap dengan “senjata” berupa kemoceng untuk mengelitik polisi yang sudah bersiap siaga dengan peluru karet dan pelontar gas air mata di tangan. Blokade jalan dengan demosntrasi damai ternyata berhasil menunda pembukaan sidang WTO hingga senja. Yang membuat media dan aparat tecengang adalah fakta bahwa dibalik aksi yang sanngat rapi dan massif ini tak kelompok atau pemimpin tunggal satu pun yang berperan sebagai “aktor utama”.

Reli protes selama lima hari di Seattle yang menjadi inti cerita film ini memang peristiwa bersejarah. Demonstrasi 29 November 1999 adalah awal dari demonstrasi serupa yang digelar di berbagai belahan bumi pada tahun-tahun berikutnya: Cancun, Genoa, Hongkong dll. Masyarakat sipil di seluruh penjuru dunia meyadari bahaya buasnya kapitalisme serta menguatnya peran korporasi sebagai aktor non-negara dapat mendikte demokrasi dan kebebasan, karenannya setiap ada perhelatan lembaga-lembaga penyokong globalisasi kapitalisme: World Bank, International Monetary Fund dan Word Trade Organization, dapat dipastikan akan berlangsung demonstrasi-demonstrasi besar. Tiga lembaga yang diberi julukan sebagai Unholy Trinity (Trinitas tak suci) itu memang gencar mempromosikan perdagangan bebas abosolut dengan menafikan dampak sosial dan ekologis yang mungkin timbul. Atas nama perdagangan dan akumulasi kapital mereka gencar mempromosikan penghapusan pembatasan tarif antar negara dalam perdagangan bebas dan melarang negara anggota melakukan proteksi dan subsidi, padahal dua kebijakan ini dibutuhkan oleh negara berkambang untuk melindungi industri dalam negeri yang sedang berkembang. Logika dagang juga digunakan dalam melihat kebutuhan dasar yang berujung pada komersialisasi layanan dasar. WTO lewat lebijakan GATS (General Agreement on Trade in Services) telah membuka peluang dikomersilkannya layanan pendidikan dan kesehatan. Lewat kebijakan Hak Kekayaan Intelektual (TRIP’s), WTO juga telah menghilangkan akses penduduk miskin di negara berkembang untuk mendapatkan obat-obatan murah berkualitas karena hak paten obat yang terlampau mahal untuk dibeli oleh negara berkembang.

Rupanya tak cuma gerakan protes yang terus menjjalar pasca peristiwa Seattle. Gerakan masyarakat sipil yang menentang ketidakadilan global ini rupanya mulai untitledmengorganisir diri (tentunya dengan prinsip anarkis) sehingga koordinasi antara elemen afinitas semkain rapi. Mereka bahkan membentuk WSF (World Social Forum), selain sebagai satir bagi WEF (Word Economic Forum) yang beranggotakan negara-negara paling maju ekonominya di kolong jagat, WSF juga didirikan sebagai wadah untuk penguatan jaringan perlawanan dan protes antar benua serta pembentukan wacana alternatif/tandingan atas mitos globalisasi-kapitalisme. Karennya tak dapat dipungkiri, peristiwa lima hari di Seattle pada tahun 1999 adalah momen kebangkitan kembali bangkitnya people power yang akarnya dapat ditelusuri kembali pada gerakan-gerakan anti perang 30 tahun silam. Peristiwa Seattle mengejutkan aparat, politisi, pemilik korporasi hingga media massa. Dari mana datangnya ribuan demonstran yang tumpah ruah memblokade jalan? Ke partai atau kelompok manakah mereka tergabung? Penggorganisasi massa secara anarkis yang menghasilkan sruktur non-hierarkis rupanya berhasil membuat orang-orang dibelakang meja itu terhenyak bahwa masyarakat masih punya kekuatan.

Peristiwa Seattle juga layak dikenang, sebab selain capaian keberhasilan gerakan yang diorganisir secara anarkis, pada peristiwa ini pula terjadi distorsi makna anarkisme dan gerakan anti ketidakadilan global secara keseluruhan. Sebagaimana digambarkan dalam Battle of Seattle, protes lima hari ini rupanya diikuti juga oleh faksi yang lebih memilih melakukan kekerasan dalam setiap aksinya. Meski jumlah mereka relatif kecil, namun media massa gencar mencitrakan protes lima hari itu sebagai sebuah protes yang penuh dengan pengrusakan, penjarahan, dan chaos. Apalagi ketika Black Bloc, sebuah faksi anarkis yang terkenal dengan pakaian khas berupa jaket hitam dan masker, melakukan perusakan terhadap icon kapiltasime semisal Starbucks dan McDonald’s. Protes lima hari di Seattle sejatinya merupakan protes damai tanpa kekerasan. Kalaupun ada kelompok yang melakukan kekerasan, jumlah mereka relatif kecil dibandingkan dengan ribuan demonstran damai lainnya. Kekerasan yang kemudian terjadi-pun lebih banyak yang dipicu oleh kekerasan polisi dalam penanganan demonstrasi. Gencarnya pemberitaan media terkait tindak kekerasan ini tak pelak membuat protes lima hari ini mendapat sorotan tajam. Berkat pencitraan negatif ini pula gerakan anarkis dan anarkisme mengalami distorsi dan degaradis makna. Istilan anti-globalisasi pun mulai disematkan pada demostran anti-WTO, sebuah istilah yang sangat tidak depat dan cenderung mencitrakan demonstran sebagai kelompok masyarakat yang anti kemajuan (karenanya saya lebih senang menggunakan istilah gerakan anti ketidakadilan global tinimbang anti gobalsiasi).

Semua dinamika protes lima hari ini dapat Anda saksikan dalam film Battle in Seattle karya Stuart Townsend ini. Meski tidak mengulas latar belakang lahirnya gerakan-gerakan anti kapitalisme secara mendalam, namun cukup menarik bagi Anda yang ingin berkenalan dengan gerakan “anti globalisasi” yang meng-global ini. Jika Anda tertaik, saya bersedia meminjamkannya. Gratis, tak perlu biaya rental. Asalkan setelah nonton kita buat diskusi soal film ini…8-) hehe…tertarik???Segera contact saya ya…

Salam, Tabik, dan Viva Altermundialista….

Oya, simak juga anthem anti-WTO yang dinyanyikan pada protes lima hari ini

 

Sold Down the River

A song by Jack Chernos

The President signed the GATT treaty into law
Fast-tracked through Congress with only hours of debate
We’ve ceded our authority in the blink of an eye
To a group of corporations that have purchased the right

They call it ’free’ trade, I’ll tell you what that means
You can have your unions here, but the factory is overseas
Putting poisons in the water and paying pennies

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

They’re meeting in Seattle to plan the next century
And we need to be there in the streets
When the size of corporations exceeds the finances of nations
The democratic process can not compete

They call it ’free’ trade, and I’ll tell you what that means
Your health and safety laws, democratically made
Can be challenged from abroad as barriers to foreign trade

We’re being sold down the river to the WTO
Sold down the river, sold down the river
Sold down the river to the WTO!

 

2 Comments Add yours

  1. made bayak says:

    halo salam kenal

    bagaimana cara saya klo ingin mengkoleksi film ini?
    saya juga mau mengadakan pemutaran film dalam pameran seni saya, mohon masukannya.

    terimakasi sebelumnya

    salam

    Like

  2. yustisia31 says:

    salam kenal juga…
    terima kasih sudah berkomentar.
    sebenarnya saya dapat film ini berkat jasa pembajak dan “penggiat anti ahak-cipta” heheh (GO DOWN TRIPs and WTO !!!!)
    jika beruntung bung bisa dapat di lapak2 bajakan terdekat
    kalau mau pinjam boleh saja, bisa diatur
    ngomong2 mau bikin pameran seni ya???

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s