Veritas Vos Liberabit

“…carilah, maka kau akan menemukannya…”
(Yesus dalam Injil Matius)

Sekarang aku harus mengaku
dengan segala kerendahan hati,
aku mulai merasa
bahwa aku tidak mengerti apa-apa.
Malah mulai kusangsikan
apakah ada gunanya  mencari suatu penjelasan.
Barangkali benar kata orang
: kebenaran memang menyedihkan…

(Ignazio Silone dalam Bread&Wine 1919)

newsimageashx2Apa yang ada di benak Abraham (Ibrahim) saat ia dengan gigih mencari kebenaran keberadaan Tuhan? Saat ia menggunakan rasio sampai batas maksimal untuk mencari ”kebenaran”? Apakah semua itu ia lakukan hanya untuk sekedar memuaskan dahaga keingintahuan ataukah lebih dari itu? Apakah untuk mendapatkan ketenangan atau sekedar pengakuan? Jika aku dapat bertemu dengannya sungguh ingin kutanyakan kepadanya apa sebenarnya motif pencariannya itu? Jika aku mendapatkan kesempatan bertemu dengannya akan kucium telapak kakinya sebagai sebuah bentuk penghormatan, bagiku Ia adalah simbol dari manusia yang mengunakan rasio sebagaimana seharusnya rasio itu digunakan. Tidak lupa akan kusampaikan rasa iriku padanya, kenapa hanya dia yang mendapatkan kesempatan merasakan kenikmatan melakukan pencarian kebanaran? Semenatara aku dan jutaan orang yang terpisah dengannya dalam sebuah rentang waktu, hanya boleh mencicipi kebenaran sebagai sesuatu yang sudah ajeg. Tidak ada lagi pencarian kebenaran, semua sudah sempurna (atau di-sempurna-kan alias dipaksakan agar sempurna) begitu kata para pengkhotbah. Mencari kebenaran berarti meragukan kebenaran itu sendiri, mencari kebenaran adalah suatu hal yang tabu. Sekarang Mencari kebenaran, menjadi diri sendiri, adalah suatu tindakan subversif.

Kebenaran…

Bagiku tidak ada kebenaran yang absolut. Semua berada dalam kenisbian. Absolutisme kebenaran hanyalah imaji utopis yang dikonstruksi oleh otak kita. Otak membuat mekanisme agar kita tidak nyaman dengan ketidaktahuan kita. Rasa penasaran dan keingintahuan menstimulus saraf-saraf motorik untuk bergerak mencari dan selamanya mencari penjelasan dan kebenaran yang elusif itu. Pada akhrinya manusia terus mendaki gunung tanpa puncak ini. Imaji bahwa didepan sana terdapat puncak kebenaran akan memotivasi kita untuk terus bergerak mendaki untuk mendapatkannya.

Mereka yang berhenti di tengah perjalanan, yang merasa telah nyaman dengan capaian yang mereka dapatkan, mereka yang dengan kesadaran palsu mengaggap telah mencapai puncak kebenaran adalah orang-orang yang telah mengkhianati kebenaran. Bukankah Tuhan (yang sering mereka anggap sebagai kebenaran absolut itu) sudah berpesan : ”apakah kamu tidak berfikir?” atau dalam redaksi yang lebih tegas : ”apakah tidak kau gunakan akalmu?” Bukankah itu berarti mereka telah mengkhianati Tuhan mereka sendiri?

Kebenaran adalah sintesa dari kebenaran-kebenaran lain yang saling me-negasi-kan. Semua bergerak dalam keteraturan ritmik dialektika : thesa – anti thesa – sinthesa. Saat ini suatu kebenaran bisa jadi memiliki validitas sebagai sebuah ”kebenaran”, tetapi sintesa kebenaran itu, seiring dengan berjalannya waktu, akan berubah menjadi tesis baru. Sintesa-sitesa yang dihasilkan dari proses dialektika pada akhirnya menjadi tesis-tesis baru yang harus di-dialektika-kan agar keseimbangan tetap terjaga.

Kebenaran adalah kenisbian. Semua tergantung pada konteksnya. Tidak ada kebenaran yang dapat bertahan dalam penjara ruang dan waktu. Perubahan dalam dimensi ruang dan waktu mau tidak mau membuat nilai sebuah kebenaran menjadi berbeda ketika ia berada dalam kondisi yang lama. Hari ini sebuah nilai disebut kebenaran tetapi esok hari bisa jadi ia berubah, ia tidak lagi menjadi kebenaran. Tidak boleh ada ”kebenaran” yang di-ajeg-kan (baik itu melalui pembakuan dalam sistem oleh mereka yang mengklaim sebagai ”penguasa” kebenaran)  karena hal itu akan memenjarakan kita pada tradisi dan konservatisme, sementara dunia terus berubah karena ia terus bergerak sementara kebenaran yang sudah kadung di-ajeg-kan itu selamanya akan tetap kokoh bertahan setidaknya sampai muncul mereka yang dengan berani mendekonstruksi itu semua, meski terkadang mereka harus menjadi martir atas tindakannya itu.

Ada tanggungjawab yang besar ketika kita mengetahui sesuatu. Tak hanya libido keingintahuan yang terpuaskan. Pengetahuan baru yang kita dapatkan (apapun itu) akan melahirkan konsekuensi. Semakin banyak yang anda ketahui semakin banyak pula konsekuensi sebagaimana semakin besarnya tanggung jawab yang harus kita emban. Bagi mereka yang mencari ”kebenaran” karena niat yang tulus, pencapaian-pencapaian yang mereka dapatkan bukanlah keberhasilan tetapi munculnya tanggung jawab baru, lahirnya konsekuensi baru karena pengetahuan yang mereka dapatkan itu.

Semakin dalam anda mencari kebenaran bersiaplah untuk menerima beban yang semakin berat, itu jika anda memang tulus mencarinya sebab tidak sedikit yang mencari kebenaran sekedar untuk mendapatkan pengakuan semu dari orang lain. Setiap kebenaran yang kita temukan, setiap pengetahuan yang kita dapatkan membutuhkan pembuktian. Anda yang tulus mencari kebenaran mau tidak mau harus menjadi seorang idealis. Idealis pada kebenaran yang anda dapatkan, idealis dengan keyakinan yang anda miliki. Karenanya Anda yang tulus mencari kebenaran harus siap diasingkan, anda harus siap dianggap aneh sehingga tidak jarang anda pun harus rela ditinggalkan oleh orang-orang yang dekat dengan anda, orang-orang yang dengan setulus hati anda cintai….

Post script …

Beban ini semakin berat, entah sampai kapan aku sanggup mengatasinya

Semakin lama kurenungkan semakin aku tenggelam dalam pertanyaan membingungkan : kenapa semua ini kulakukan? Apakah karena eloknya Prajna Paramita, yang kecantikannya memikatku semakin dalam dan membiarkanku tenggelam menuju lautan pengetahuan untuk mencari seonggok mutiara kebenaran? Ataukah semata untuk mendapatkan riuh rendah-nya sorak sorai dan pengakuan dari orang-orang disekitarku, orang-orang yang kelak memandangku dengan takjub dan penuh hormat?

Seharusnya pencarian ini tidak kulakukan jika yang kudapatkan hanyalah sebuah teka-teki yang membuatku terperosok semakin dalam mencari petunjuk baru, sebuah teka-teki baru. Jika yang kudapatkan didepan sana hanyalah sebuah beban, konsekuensi dan tanggung jawab, kenapa semua ini (masih) kulakukan?


Hhhh…. semkin lama kurenungkan, semakin aku terjebak dalam kebingungan…
Sebenarnya apa yang sedang kucari?

Tyan

-Tenggelam di Laut Gnostisisme-

One Comment Add yours

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s