Korban ke-GOBLOK-an (Oknum) Polisi

Konon di Indonesia ini cuma ada tiga Polisi yang baik. Pertama, Alm. Jendral Hoegeng, beliau adalah mantan KAPOLRI di tahun 60-70an. Salah satu keteladanan beliau adalah kebiasaanya untuk masuk kantor lebih pagi dari bawahan-bawahannya, untuk apa? Konon beliau tidak segan menjadi polisi lalu lintas pada waktu pagi hari saat bawahannya belum tiba di tempat tugas. Seorang Jenderal, dengan empat bintang di pundak, tak segan mengatur lalu lintas? Luar biasa. bandingkan dengan kondisi sekarang. Polisi lalu lintas baru “benar-benar bertugas” saat pejabat lewat.

“Polisi” baik yang kedua dan ketiga? Tidak lain adalah Polisi Tidur dan Patung Polisi…hehehe, kenapa? Karena mereka gak usil dan bekerja tanpa pamrih…^^
Ini cuma anekdot, bukan bermaksud menghina institusi POLRI, hanya saja saya sedang sangat kesal dengan lembaga kepolisian ini.

Sebuah berita yang saya simak pagi tadi membuat hati ini panas. Maman, korban salah tangkap dalam kasus pembunuhan “Asrori” akhirnya dibebaskan, tepatnya penahanannya ditangguhkan. Maman bukan satu-satunya korban salah tangkap. Adalah Imam Hambali alias Kemat dan David yang juga “didakwa” membunuh “Asrori”. Usut punya usut, hasil foresnik DNA menunjukan bahwa “Asrori” yang ditemukan di kebun tebu di Jombang itu ternyata salah satu korban Ryan alias Very Idham Heryansyah, sang jagal asal Jombang. Celakanya David dan Kemat sudah mendapatkan vonis, sehingga status meerka kini adalah terpidana.

Kasus salah tangkap ini bukan yang pertama kali terjadi di Indonesia. Dulu pernah ada kasus “Sengkon dan Karta” yang mengalami nasib serupa. Kenapa kasus salah tangkap ini bisa terjadi? Dulu sebelum KUHAP (Kitab-undang-undang Hukum Acara Pidana) disahkan, penegak hukum masih menggunakan peraturan warisan kolonial. Adalah HIR yang dibuat pada masa pemerintahan kolonial dulu yang dijadikan salah satu pedoman bagi penegak hukum. Dalam HIR (kalo tidak salah) ada satu pasal yang mengatur tentang alat bukti yang dapat digunakan di pengadilan, salah satunya adalah “Pengakuan”. Maka pada masa itu diupayakan agar proses investigasi membuahkan pengakuan si pelaku. Tak ayal segala cara dilakukan agar si “pelaku” mengakui perbuatannya. Segala cara yang saya maksud adalah penyiksaan, penistaan, intimidasi, dan bentuk-bentuk kekerasan lainnya.

Dengan berlakunya KUHAP (meski hukum pidana-nya masih warisan kolonial), serta semakin berkembangnya kesadaran HAM, seharusnya aparat penegak hukum, utamanya polisi dapat menyesuaikan dengan perkembangan terkini. Hukum pidana adalah hukum yang harus diterapkan secara hati-hati, sebab memiliki aspek yang dapat menegasikan hak asasi manusia. Oleh karena itu kasus salah tangkap “David dan Kemat” menjadi pertanyaan beasr bagi kita? Kenapa dua orang yang tak bersalah itu bisa diajukan ke pengadilan dan didakwa sebagai pembunuh?

Kuat dugaan “David dan Kemat” adalah korban dari intimidasi dan penganiayaan polisi yang dipaksa mengakui perbuatan yang tidak mereka lakukan. Kepada media massa, mereka mengakui bahwa pada saat proses verbaal mereka diintimidasi, disiksa hingga babak belur untuk mengakui sebagai pembunuh “Asrori”. Saat rekonstruksi-pun mereka sudah diarahkan oleh (oknum) Polisi-polisi GOBLOK itu untuk melakukan apa yang mereka perintahkan, sehingga terlihat seolah-olah mereka (David dan Kemat)-lah pelaku “Asrori”.

Kini kebenaran terkuak. David dan Kemat ternyata korban kebodohan polisi yang tak becus melakukan investigasi. Ironisnya meski kebenaran sudah tak terbantahkan, mereka masih mendekam di penjara sebagai pesakitan. Sistem hukum kita yang kelewat formalistis dan kaku membuat David dan Kemat harus merasakan dulu “hotel prodeo” hingga MA membuat penetapan. Ketua MA (waktu itu Bagir Manan) sudah menyatakan bahwa kasus ini akan mendapatkan prioritas utama.

Pemerintah, dalam hal ini KAPOLRI, juga harus bertindak tegas kepada bawahan2anya yang melakukan tindakan yang tidak profesional dan keji ini. Pelaku penganiayaan dan rekayasa investigasi “David dan Kemat” harus dipecat dari keanggotaan kepolisian, dan di proses secara hukum. Hhhhhh…bayangkan jika anda yang mengalami peristiwa ini. Tak berdaya menghadapai “preman2 berseragam” ini, kemudian mengakui perbuatan yang tak pernah kita lakukan kemudian menderita karena itu…..DASAR POLISI GOBLOK!!!!!

PS: saya jadi curiga, jangan-jangan polisi yang menyidik kasus “Asrori” ini, bisa di terima di “kepolisisn” lewat “jalur belakang”, sudah bukan rahasia lagi, penerimaan di akademi kepolisian atau sekolah-sekolah bintara sarat dengan kolusi…..

PS (lagi) : Saya pernah punya pengalaman unik. Sekali waktu saya mengatar seorang supir yang menemukan “anak hilang”. Saya ajak dia ke kentor polisi terdekat. Petugas disana bukannya proaktif atas laporan ini (saya membayangkan dia langsung menyalakan jaringan radio kepolisian, melaporkan ada anak hilang, mengidentifikasi si anak hilang, atau mendatangkan psikolog anak untuk menenangkan si anak hilang). Dia justru bertanya kepada saya: “Diapain ya  Mas” ? HAH????? Dasar GOBLOK !!!!!

3 Comments Add yours

  1. yudi purnomo says:

    Oknum….he..he.. masih ada polisi yang baik….

    Like

  2. mmmpfhhf… tentu menjadi pengalaman terburuk bagi sang anak tentang kantor polisi ya,,,? wakakak.. btw, kabar tuh anak gimana ya?

    Like

  3. can kus says:

    investigasinya pake dukun, jadi salah tangkap

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s