Inspirasi Perpustakaan MABULIR

Adalah Dauzan Farouq, seorang veteran tinggal di Yogyakarta yang hingga akhir hayatnya di tahun 2007 lalu tetap berjuang untuk Rakyat. Kali ini tidak dengan senjata seperti yang dilakukanya pada masa revolusi dulu, tetapi dengan buku yang digunakannya untuk membentuk sebuah “reading society” sebuah masyarakat membaca. Baginya perang belum usai, “saat ini terjadi perang pemikiran” ujarnya dalam suatu kesempatan.
Maka dengan modal tabungan haji miliknya, Beliau membangun sebuah perpusatakaan publik yang dikelola secara unik. Jika pada perpusatkan “konvensional”  masyarakatlah yang mengunjungi perpusatakaan, maka perpusatkaan milik Mbah Dauzan Faruoq ini justru “mengunjungi” masyarakat. Si Mbah dengan bersepeda mengantarkan buku-buku koleksi perpusatakaan yang dimilikinya langsung kepada masyarakat: tukang ojek, anak-anak, ibu rumah tangga, pedagang kaki lima dsb. Si Mbah berpesan agar buku yang dipinjamkannya digilir ke yang lain jika sudah selesai dibaca. Oleh karena itu perpusatakaannya dikenal di Yogya dengan sebutan perpusatakaan Mabulir (Majalah Buku Bergilir).
Si Mbah berkata bahwa buku-buku di perpusatakaannya akan bermanfaat jika dibaca oleh masyarakat, ketimbang dijadikan “pajangan” di rak buku. Perjuangan si Mbah ini menggugah saya dan beberapa kawan (KAB/Confront!) untuk mendirikan perpustakaan sejenis di Depok. Selain mencoba mebangun “reading society” seperti yang Mbah Dauzan impikan, kami merasa pendekatan MABULIR juga bisa dijadikan sarana pemberdayaan komunitas. Namun apa daya, harapan itu terbentur banyak kendala. Meski saat ini belum berdiri, saya yakin kelak perpustakaan “mabulir” juga dapat kami bangun di Depok.
Lantas saya jadi terfikir, kenapa saya tidak menggunakan “ruang publik” ini sebagai “perpusataakan mabulir virtual”. Di kamar saya bertumpuk buku-buku, makalah, jurnal, majalah belum lagi koleksi film “bermutu” yang saya koleksi. Kebanyakan film dokumenter, film-film indie, film “politik” dll beberapa didapat dengan cara legal, adapula yang dibeli dari lapak bajakan (say no to copy rights, say yes to copy left and right to copy hehehe). Kalau mengingat apa yang dilakukan Mbah Dauzan, rasanya sayang sekali membiarkan buku-buku dan kepingan dvd  itu berdebu dan bertumpuk tak karuan. Seperti kata Mbah Dauzan, tentunya buku-buku (dan media pembelajaran lainya) itu akan lebih bermanfaat jika bisa dibaca dan digunakan oleh orang lain. Seperti  tagline Linux UBUNTU: Pass it On ! Share it to Everyone !
“ruang publik virtual” ini saya rasa bisa menjadi alternatif sebelum “ruang publik real”-nya berdiri. Dalam kolom ulasan saya akan mengulas beberapa buku dan film yang saya miliki. Jika anda berminat untuk meminjamnya bisa mengontak saya via web ini. Mudah-mudahan dalam waktu dekat saya bisa mengulas  buku atau film karya sendiri hehe….(doakan)
PS: Semoga Allah menerima amal baik Dauzan Farouk, Pahlawan Literasi Indonesia, wafat 6 Oktober 2007

16 Comments Add yours

  1. iya beliau memang luar biasa, mungkin mba mau membantu kami membuat perpusataakan yang sama di depok (sekitaran kampus UI)? buat kawan2 yang tertarik bisa kontak via web inisalam dan tabik

    Like

  2. Iman Septian says:

    Semoga Allah menerima niatan dan amal baik lo juga..Thanks for sharing.*Ayo kita tumbangkan komersialisasi ilmu dlm bentuk copyright*

    Like

  3. Iman Septian says:

    Semoga Allah menerima niatan dan amal baik lo juga..Thanks for sharing.*Ayo kita tumbangkan komersialisasi ilmu dlm bentuk copyright*

    Like

  4. Andi Sandhi says:

    gw tertarik tuk berkontribusi.caranya gmn?

    Like

  5. kawan bisa memulai di lingkungan terdekat (tempat kerja, kuliah etc) dengan mengumpulkan buku, atau majalah, atau bacaan lain yang kiranya mau disumbangkan ke perpusatakaan kita (Diharapkan bukan buku bekas pelajaran sekolahan), nanti kita kontak2an..okeh. Kalau punya "link" untuk membantu fasilitas lebih diharapkan. saat ini sudah ada yang mau menyumbang rak buku, sayangnya kita belum punya cukup dana untuk menyewa sebuah tempat (kita pernah mengajukan permohonan ke pemkot depok, cuma begitu birokrasi sialan cuma bisa janji mulu). Karena perpusatakan ini akan banyak melibatkan volunteer diharapkan kawan juga bisa mengajak rekan yang lain untuk bertikar gagasan tentang ide ini lalu kita sama-sama kerja….contact gw di yus_rahmanov@yahoo.co.id atw (021)-92588699, buat yang lain di tunggu ya…salam dan tabik

    Like

  6. Mbah Dauzan sering ke rumah saya lho dulu…jadi inget waktu di jogja…:) Ayo Yan, kita mulai beramal…hehehe

    Like

  7. bung shofwan dari jauh juga bantu kita dong….KONKRET nih kita hehehe…

    Like

  8. lulu sunman says:

    gw pernah liat liputan mbah dauzan di tipi. innalillahi wa innailaihi raji'un..waghfrirlana walahu.gw jadi inget buku gw neh. hehehehehehehehe

    Like

  9. sumpah lu. udah gw titipi ke Arieska tu buku, sama dia malah di telantarkan, jadinya gw ambil lagi…kita beresin lah transaksi pinjam meminjam ini hehe…(serius gw, apa gw anterin aja?atau di titip ke siapa gitu, yang lebih dipercaya tentunya hehe)

    Like

  10. mari bakar lagi gagasan kita dalam wujud nyata kepedulian atas pendidikan bagi rakyat Indonesia!!!!!!!!AYO!

    Like

  11. Tanpa judulTanpa nama pengarangTanpa biaya promosiTak pernah protes masalah hak ciptaTulisan ini boleh di sebarluaskanTulisan ini boleh jadi milik semua orang

    Like

  12. ummu fathia says:

    koleksi bukunya apa sudah terwujud?

    Like

  13. ini maksudnya perpustakaan kelilingnya ya? kita sudah mengumpulkan cukup banyak buku sejak kurang lebih enam bulan yg lalu, bahkan sudah ada yang menjanjikan memberi kita rak buku. Alhamdulillah sekarng sudah ada dua organisasi (berdomisili di depok) yang mau bergabung dalam proyek bersama perpusatakaan keliling. Jika lancar mudah2an bisa sgr dieksekusi…mungkin mb?ibu bisa membantu kita-kita juga?salam

    Like

  14. meski bgt, masih belum cukup banyak untuk memabngun sebuah "perpustakaan yang layak". Itu juga belum kita sortir, mana buku2 yang informatif yang bisa diberikan kepada target perpustakaan keliling kita (gak mungkin kan ngasih buku kuliahan sama abang tukang ojek misalnya, tanpa bermaksud merendahkan). Jadi bantuan teman2 sangat kita butuhkan….

    Like

  15. mari bergerak bung Tyan Rahman, hehe..

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s