Hati-hati, ini terlalu “kiri” !

Seperti biasa setiap hari selasa saya menyempatkan berdiskusi dan berkonsultasi dengan dosen pembimbing skripsi. Selain berdiskusi soal tema skripsi yang saya angkat biasanya kami juga membincangkan masalah lain yang terkait. Diskusi ini penting selain untuk mempertajam analisa, meperbaiki kesalahan, juga memprediksi bagaimana tanggapan penguji pada saat sidang kelak. Karenannya bahasan-bahasan yang bisa menjadi “kotak pandora”, bahasan yang keluar dari tema sentral penulisan skripsi dan dapat menjadi celah bagi penguji tak luput dari revisi dan evaluasi.

 
Tak ada yang istimewa, anda yang pernah menulis skripsi pasti mengalami juga proses ini. Namun ada satu nasihat yang agak mengusik saya dari perbincangan siang tadi. Beliau memberikan “warning sign” terhadap satu sub bab dalam skripsi saya  yang mengulas tentang konsepsi negara dalam sudut pandang marxist. Pemabahasan ini saya letakan bersamaan dengan pendekatan teori liberal tentang negara yang saya rasa penting untuk menjadi pijakan awal analisa tentang penguasaan negara atas sumber daya alam dan faktor produksi (penguasaan berarti penguasaan publik, bukan “pemilikan privat” oleh subjek hukum Negara). Dosen saya kira-kira berkata begini: “hati-hati sama yang ini, beberapa dosen di sini sensitif sama hal ini, ntar disangka kiri kamu”. HAH ?? Dalam hati saya sangat terkejut mendengar pernyataan ini.
 
Dosen “sensitif” yang dimaksud tentu bukan pembimbing saya, yang saya rasa sangat toleran dengan perbedaan, termasuk dengan kajian-kajian yang nyerempet ke “kiri”. Toh hal itu saya gunakan dalam kerangka akademis, sebagai salah satu pisau analisa yang saya gunakan dalam pembahasan. Sambil bercanda dia menyinggung satu dosen yang saat itu kebetulan juga ada di ruang sebelah. Lalu tersadarlah saya, rupanya “dia” yang dimaksud…ya, ya mungkin “dia” sensitif dengan tema ini sebab kalau tak salah “beliau” adalah seorang eks- aktivis organisasi kemahasiswaan (bermebel-embel islam) yang dulu (tahun 1965)  pernah punya sejarah buruk dengan kelompok “kiri”. 
 
Sebenarnya saya tak terlalu kaget, sebab ini bukan pertama kalinya saya di sembur dengan peringatan “hati-hati ini kiri !”. Dua tahun yang lalu saat masih di BEM UI saya membantu teman2 merancang sebuah kegiatan kaderisasi dengan format baru. Saya membantu dengan memformulasikan silabus materi hingga menyusun konsep acara. Saat disampaikan ke birokrat kampus (sebagai syarat formal) saya tersentak sebab Pak “L” yang lulusan S2 Sejarah UI itu mencoret beberapa acara dalam proposal dan berkata “ini saya coret, ini kiri, saya tau itu” HAH ???? Saya tak habis fikir, materi tentang gerakan sosial dan ekonomi-politik kolonialisme dianggapnya (disusupi) ide “kiri”. Sebagai seorang akademisi saya rasa beliau tak cukup bijak, terlebih saat itu beliau belum membaca silabus yang kami buat. Akhirnya acara itu diselenggarakan secara “bawah tanahh” selain karena dianggap “kiri” oleh birokrat kampus, toh mereka juga urung membantu pendanaan.  
 
Diskusi siang tadi berakhir dengan satu renungan dalam batin saya. Sebegitu benci-kah “beliau” dengan gagasan “kiri”, sampai dosen saya perlu memberikan “warning sign”. Saya keluar ruang dengan percakapan batin: “udahlah biar aja disangka kiri, lagian gw pake juga buat perbandingan aja kok”,  “tapi ngeri juga, kalo beliau iseng jatohin gw pas sidang gara-gara ini bisa mati gw”. Percakapan batin itu terhenti sebab tepat di depan ruangan jurusan, saya bertemu muka dengan “beliau” yang baru tiba di kampus……”Selamat siang pak !” sekedar basa-basi kuucapkan salam padanya lalu diam-diam dalam harti aku tertawa HAHAHAHA ! 
 
 
 
 

9 Comments Add yours

  1. Iman Septian says:

    Begitulah orang-orang yang dibesarkan dalam nuansa pancasila. Kanan nggak, kiri nggak, tapi selalu ditakut-takuti dengan segala hal yang ekstrim kanan-kiri. Apa mereka nggak nyadar bahwa di dunia yang semakin 'relatif' ini, dikotomi kanan-kiri udah semakin usang. Tapi itu juga relatif sih. He2..

    Like

  2. begitulah bung, emang dasar orang-orang pada parno aja kali ya..hehe. jadi inget bukunya Amartya Sen "kekerasan dan ilusi tentang identitas", harusnya tak perlu sempit memiliah "kanan" atau "kiri", toh pada leve; tertentu kita punya persamaan indentitas…

    Like

  3. kanan? kiri? seperti marka jalan gitu?ah, jadi ga' bisa ngambil keduanya donk, hehe :)tulisannya keren bung!salam.

    Like

  4. Kiri..kanan…kulihat saja banyak pohoh..eh orang yang parno lalala…huahahahathx bung Xesax….mudah-mudahan kita tak berfikir sesempit merekasalam

    Like

  5. rizky argama says:

    kalo "beliau" yg lo maksud sama dgn yg gw pikir ("beliau" yg biasa itu lho), maka ga perlu khawatir krn kabarnya doi jg berusaha "mnjatuhkan" gw pas sidang, tapi (alhamdulillah) ga brhasil… tapi klo "beliau"-nya lain, ya mesti waspada jg lah bos… tapi, gw pikir, tulisan, sepanjang bermutu dan murni akademis, pasti akan selalu dihargai… masalah mungkin bisa muncul pas presentasi krn emosi lo bakal dipancing… ya jgn terpancing…kiri kek, kanan kek, atas bawah dpn blakang, mentok, yg penting lo bikin yg terbaik… mencari kesempurnaan, tapi jgn pernah brharap bisa mencapainya… waktu ga banyak lagi, jadi, buruan!!! huehehehehe………………

    Like

  6. panggil esa saja bung, dua x itu sudah tidak relevan dengan praktik hidup saya.tetap, tulisannya keren! keep writing! hehe..salam bung..

    Like

  7. Aslkm.Wr.Wb.secara idealis: hajar terus bleh, wong cuma kajian akademis, dalam kampus kita punya kebebasan akademis Bro.secara pragmatis: kalo Dosen yg bersangkutan jadi penguji ya harus hati2, biar nanti pas sidang ente ndak dihabisi, maklum kita ini kan dah di penghujung masa kuliah Bro.secara realistis: terserah Tyan mau ambil jalan yg mana?….. He.3x

    Like

  8. sepakat! buruan… tapi juga jangan gegabah! Ditungguin nanti di depan ruang sidangnya ya… Kalau perlu pake "sesajenan" dulu… uhuuk… habis itu? kita kembali berkonkrit ria, bermulia ria… amiiin!

    Like

  9. Reza Ikhwan says:

    cuma dua kata, "hajar bleh!!!" wong ning kampus kok….tinggal kalo ditanya, ya dijawab 🙂

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s