Setelah Lima Tahun

Prolog : Lahirnya Kesadaran

“Seorang ilmuwan bisa menjadi turun nilainya jika tidak terlibat secara aktif dalam kehidupan publik atau hanya menutup diri di dalam laboratorium sebagaimana seekor belatung, melarikan diri dan menjauh dari kehidupan dan hiruk pikuk politik zamannya… Ilmu tidak boleh menjadi kesenangan untuk diri sendiri. Orang-orang yang memiliki nasib baik untuk terjun dalam pencarian ilmu pertama-tama harus menempatkan pengetahuannya demi kepentingan kemanusiaan…Bekerjalah demi kemanusiaan !”

(Karl Marx Sebagaimana disampaikan pada Paul Lafargue)

 

Sudah hampir lima tahun sejak aku disadarkan bahwa ada tanggungjawab sosial seorang terpelajar kepada masyarakatnya. Sudah cukup lama pula sejak aku disadarkan bahwa kemalangan yang menimpa sebagian besar warga dunia adalah produk pemikiran dari kelompok-kelompok terpelajar yang elit ini; kelaparan, kemiskinan, pengangguran, kesenjangan ekonomi, eksploitasi, pengabaian dsb adalah akibat langsung dari produk-produk pemikiran kaum terpelajar yang berselingkuh dan menghamba pada kekuasaan yang korup, serakah, dan despotik. Kelompok terpelajar yang menanggalkan kecendekiaan (juga kemanusiaannya) demi segepok uang. Mungkin judul monolog yang kudengar di TIM tempo hari itu ada benarnya : “Dalam perkara duit,  Agama semua orang sama…”,  ya maling, ya penipu, ya pemeras juga pejabat-pejabat korup, pemimpin-pemimpin zalim dan ilmuwan tanpa hati itu akan menemukan sebuah titik persamaan yang membuat mereka akur : DUIT !

 

Sudah hampir lima tahun sejak aku mulai disadarkan betapa aspek ekonomi-politik juga  menjadi sangat penting dan turut berkontribusi pada kemalangan-kemalangan tersebut. Sampai akhirnya belum lama ini aku mulai mencoba mempelajari dan memahami (kembali) materialisme historis, kesadaran tentang pentingnya aspek ekonomi-politik ini semakin mengkristal dalam diriku (Setelah sekian lama akhirnya ia bangkit kembali….)

 

Sejak terbitnya sejarah, manusia selalu dihadapkan pada masalah bagaimana memenuhi kebutuhan alamiahnya, atau dalam bahasa Marx dorongan konstant-nya : seks dan kebutuhan mempertahankan hidup (makan). Aspek yang sangat berbau ekonomi ini yakni kebutuhan untuk melakukan produksi dalam rangka pemenuhan kebutuhan alamiah itu membuat manusia berfikir dan lambat laun menemukan cara (moda) produksi yang terus berkembang seiring dengan waktu.

Berawal dari berburu makanan (food gathering) dalam sebuah komunitas masyarakat yang komunlistik hingga ditemukannya cara bercocok tanam (food ressourcing) yang mengawali lahirnya peradaban modern. Sejak ditemukannya cara bercocok tanam yang konon ditemukan oleh  perempuan (….mungkin ini menjelaskan mengapa masyarakat pra sejarah sangat menghormati (bahkan memuja) perempuan yang dianggap sebagai simbol kesuburan dan kesejahteraan yang memberi mereka kehidupan…) manusia mulai mengenal surplus produksi yang dengannya manusia mulai menyadari pentingnya menguasai faktor-faktor produksi sebagai penunjang kehidupan mereka.

Kebutuhan manusia kini berkembang dari sekedar kebutuhan alamiah menuju kebutuhan yang lebih kompleks :kebutuhan untuk menguasai sesuatu (benda maupun manusia yang menjadi faktor2 produksi). Dimensi kekuasaan yang lahir dari adanya surplus produksi ini kelak melahirkan beragam organisasi sosial dimana didalamnya dapat kita temukan dominasi, feodalisme, perbudakan, dan eksploitasi. Bahkan faktor dimensi kekuasaan  inilah yang membuat roda sejarah berputar! Berputarnya roda sejarah tidak lain merupakan kontradiksi antara kekuatan-kekuatan produksi dengan organisasi sosial yang hidup. 

Kebutuhan alamiah sebagai sebuah kondisi objektif telah memunculkan sebuah moda produksi, selanjutnya moda produksi membentuk organisasi sosial, dan secara langsung turut membentuk watak manusia dalam moda produksi yang kapitalistik misalnya, manusia termotivasi untuk terus mengakumulasi kapital, terus tunduk pada keserakahan

Kesadaran ini menginspirasi diriku : dengan sepenuh kesadaran aku memilih ilmu ekonomi sebagai disiplin yang akan kutekuni setelah lulus SMA pada tahun 2002. Sayangnya dua kali seleksi penerimaan mahasiswa baru yang kuikuti rupanya tidak cukup menjadi syarat agar aku dapat kuliah di fakultas ekonomi. Meski aku pernah kuliah di sebuah sekolah kedinasan yang sangat berbau ekonomi dan keuangan entah kenapa disana aku merasa tidak mendapatkan oase yang dapat menghilangkan dahaga keingintahuanku (di sekolah2 kedinasan itu aku tidak merasakan adanya spirit ilmuwan baik itu dalam diri mahasiswa maupun dosen-dosennya mengingat semua yang ada disana sejatinya adalah birokat dan calan-calon birokrat). Juga seolah ada tarikan kuat dalam diriku (mungkinkah ini yang disebut suara hati ?) yang kerap mengatakan bahwa bersekolah disini (yang berarti kelak menjadi PNS) bukanlah jalan hidup yang seharusnya kutempuh.

 

Meski di kesempatan kedua seleksi penerimaan mahasiswa baru itu-pun aku gagal menembus passing grade yang disyaratkan untuk kuliah di ilmu ekonomi, aku tetap bersyukur sebab akhirnya aku bisa mendalami ilmu yang setidaknya sesuai dengan nama yang kusandang : Yustisia ! akhirnya aku mendalami ilmu hukum (buah jatuh tidak jauh dari pohonnya, pada akhirnya aku mendalami juga ilmu yang dulu dipelajari ayah).

Tentunya memilih ilmu hukum bukan tanpa kesadaran, bukan semata yang penting lolos SPMB, yang penting kuliah di UI. Sudah hampir lima tahun sejak aku disadarkan bahwa setelah ekonomi maka hukum adalah determinan yang penting yang punya pengaruh dalam kehidupan manusia. Sampai akhirnya kupelajari ilmu hukum dan aku semakin menyadari bahwa hukum tidak lebih dari sekedar produk politik, hukum adalah refleksi dari kepentingan kelas yang secara ekonomi-politik (lagi-lagi ekonomi) berkuasa. Empat tahun mendalami ilmu hukum (yang aku yakini masih jauh dari cukup) aku semakin yakin bahwa hukum tidak bergerak dalam ruang hampa dimana asumsi mengenai hukum adalah objektif, hukum diatas segalanya, bahwa hukum adalah netral sama sekali tidak berlaku. Justru semakin aku mempelajarinya semakin aku sadar betapa hukum tidak pernah terlepas dari kepentingan-kepentingan. Kesadaran ini kembali mempertemukanku dengan minat yang mulai aku gemari sejak SMU : ekonomi-politik !

 

Hukum yang tidak lain merupakan gambaran interaksi sosial dalam masyarakat aktual justru semakin memberikan gambaran padaku betapa kekuatan ekonomi kapitalis yang berkuasa menancapkan kuku-kukunya dengan membuat seperangkat kebijakan dan produk hukum yang mengunci kapitalisme dalam teks-teks hukum (perundang-undangan) yang di negeri ini kadung dianggap “suci”, netral dan objektif oleh masyarakat yang justiciocratis-positivistik……(jika ada kesempatan bertemu ingin kuucapkan terimakasih pada Prof Satjipto Rahardjo, Stephan Gill dan dosen2 serta pemikir2 hukum kritis-progresif lainnya, mereka yang telah memberiku “api”)

 

Sayangnya aku menuntut ilmu ditempat yang tidak memiliki orientasi yang jelas. Aku masih bertanya-tanya sebenarnya apa yang kupelajari di kampus? Ilmu hukum-kah (sebagaimana nama resmi program kuliah yang ditawarkan bagi peserta program S1) atau praktisi hukum? Apa yang sebenarnya dipelajari di kampus, knowledge-kah atau practice? Bukan maksudku mendikotomikan antara keduanya hanya saja aku merasa proporsi keduanya sangat tidak seimbang. Kajian hukum sebagai ilmu (yang menurutku jauh lebih penting sebab berbicara filsafat dan ideologi serta sangat dekat dengan tema seputar keadilan) tidak sebanyak kajian hukum dalam praktek : membuat kontrak perjanjian, beracara di pengadilan, berdiplomasi, menyelesaikan perkara dll. Pada akhirnya kampus hanya menghasilkan jurist (ahli hukum) yang hanya mahir dalam praktek, ahli hukum yang tidak ambil pusing pada ideologi di balik hukum dan produk hukum yang dihasilkan.

 

Kampus mencetak jurist-jurist yang pragmatis ! Entah aku harus sedih atau marah ketika seorang teman dengan santainya berkata “biarlah jadi babu klien yang penting gw kaya” ketika aku berdiskusi soal ahli hukum yang acuh pada ideologi dibalik hukum, ketika aku katakan padanya tentang perlunya ahli hukum memperhatikan kepentingan kekuasaan dibalik produk hukum, tidak semata-mata menggunakannya dalam praktek lantas dibayar oleh klien dan menghasilkan uang….(Why so many people can talk so much about their “dream”..?.)

“Dalam Perkara Duit, Agama Semua Orang Sama”

Kapitalisme telah menjadikan hasrat terhadap uang dan materi menjadi motif utama manusia dan itulah yang sekarang kita alami. Dalam hal ini kukira nujum Marx dalam Kritik terhadap ekonomi dan filsafat ada benarnya “…moda produksi dalam kehidupan material ini mengkondisikan proses kehidupan sosial, politik, dan intelektual pada umumnya. Bukanlah kesadaran manusia yang menentukan kondisi sosial masyarakat, tetapi sebaliknya, kondisi sosial masyarakatlah yang menentukan kesadarannya…”

 

Saat ini uang benar-benar membelenggu kita semua, moda produksi bernama kapitalisme telah menjadikannya tuhan bagi banyak orang. Untuk Perkara duit, Agama semua orang sama. Entah kenapa uang dan materi dijadikan ukuran kesuksesan seseorang, semakin banyak uang yang anda peroleh untuk dibelanjakan kelak, semakin paripurna anda sebagai manusia, andapun menjadi pahlawan bagi negara anda (sebab anda telah berkontribusi pada meningkatnya Gross Domestic Product yang dijadikan ukuran pertumbuhan perekonomian negara anda).

 

Maka setelah lulus berlomba-lombalah para sarjana untuk bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional (MNC’s) pertambangan tanpa memperhatikan kejahatan yang mereka (MNC’s) lakukan  pada lingkungan dan masyarakat lokal, semua orang berebut posisi di law firm terkemuka meski dia dibayar untuk memberikan pembelaan pada pejabat korup dan tentara pelangar HAM. Sementara secuil sarjana eks- aktivis memanfaatkan jaringan yang dimilikinya untuk kepentingan2 pragmatis, menjadi broker politik, bahkan menjadi penjilat kekuasaan. Semua dilakukan untuk satu kata : UANG ! Untuk Perkara Duit, Agama semua orang sama…

 

Kampus pun mengkompatibelkan dirinya dengan pasar. Kampus tidak lagi menjadi tempat sakral dimana ilmu pengetahuan, seni, dan kebudayaan disemai dan dikembangkan. Kampus kini tak lebih dari pabrik pencetak buruh-buruh terdidik, robot-robot penjaring uang. Kegusaran Freire tentang pendidikan yang mereproduksi status quo kini terbukti di Indonesia. Kampus yang semakin mahal (karena moda produksi kapitalisme menghendaki demikian) hanya dapat dijagkau oleh secuil orang yang punya kelebihan finansial saja. Mereka yang lulus dari kampus-pun tidak lebih dari sekedar robot penghasil uang dilapangan pekerjaan kelak. Tidak ada tranformasi sosial yang terjadi, proses pendidikan hanya mereproduksi (kembali) struktur masyarakat yang kadung tersekat-sekat dalam kelas2 sosial sejak zaman kolonial dan feodal dulu.

 

Kampus tidak lagi menjadi tempat menghasilkan orang-orang terpelajar…

Eligo ergo Sum : Aku memilih maka aku ada…

Aku memilih maka aku ada. Sudah sejak lima tahun sejak munculnya kesadaran itu. Perlahan tapi pasti aku mulai yakin dengan langkah yang kupilih, sebuah langkah yang kurasa jarang diambil oleh orang-orang kebanyakan, sebuah langkah yang tidak menjanjikan kegelimpangan material bahkan tidak jarang membawa malapetaka bagi mereka yang memilihnya.

 

Tetapi kadang keragu-raguan muncul, kekhawatiran kerap kali datang menghampiri. Kini -setelah lima tahun berselang- keraguan dan kekhawatiran itu semakin menghantui diriku. Saat kedua orang tua yang sangat kucintai mulai mempertanyakan apa yang hendak kulakukan setelah lulus kelak. Setiap pertanyaan itu datang, aku tidak bisa berkata-kata….

 

Sungguh Aku tidak ingin menyalahkan mereka jika mereka masih beranggapan bahwa ukuran kesuksesan adalah berapa banyak materi yang didapatkan (yang mungkin akan kudapatkan jika aku bekerja di sebuah law firm tekemuka, menjadi staff dalam lingkar kekuasaan,  atau mengabdikan diri pada sebuah korporasi global perusak lingkungan).

Aku telah memilih, tetapi rasanya sulit mengatakannya pada mereka….

 

Ayah, ibu jika kalian berdua memberiku kesempatan menuntut ilmu agar aku menjadi seorang terpelajar, maka inilah aku : seorang terpelajar yang sudah memilih….

 

Ayah, Ibu maafkan anakmu yang keras kepala ini….

Kali ini aku kembali membuat pilihan, kuharap kelak kalian akan mengerti seperti empat tahun lalu saat kuputuskan memilih untuk berhenti dari ikatan dinas, saat itu dengan kelapangan jiwa kalian memberiku izin meski dengan semburat kekecewaan diwajah…

 

 

Segenap cinta untukmu ayah, guru terbaik dalam hidupku, orang yang telah membuatku menjadi seorang yang “keras kepala”

Tidak lupa sembah dan cinta untuk ibu, orang yang telah memberiku kehidupan dengan cinta dan kasih sayangnya yang tulus, orang yang dengan cintanya selalu mencoba untuk memahami anak-anaknya. Ibu, aku ingin kau tau bahwa engaku  adalah orang yang paling ingin kubuat bahagia…

terimakasih ibu,  kata saja tidak akan cukup menggambarkan betapa aku sangat mencintaimu

sekali lagi maafkanlah  ke-keras kepala-an anakmu ini, orang yang seringkali membuat kalian kecewa dan sedih…

Epilog

Entah apakah aku akan sanggup bertahan.

Akankah aku tetap bertahan hingga sejarah akan mencatat bahwa aku ada dalam deretan mereka yang memilih, mereka yang melawan ?

Sebentuk kekhawatiran baru muncul dalam diriku. Apakah aku akan jatuh. Akan kah aku menjadi orang yang justru mengkhinati kata-katanya sendiri?

 

Setelah lima tahun berselang kini aku mulai belajar. Membuktikan kata rupanya jauh lebih berat ketimbang mengatakannya dalam forum-forum diskusi. Membuktikan kata jauh lebih berat ketimbang menuliskannya dalam lembar-lembar propaganda. Setelah lima tahun saatnya kesadaran bermetamorfosa…..saatnya membuktikan kata  !!!!

 

Pada akhirnya aku semakin berempati pada Soe Hok Gie, pada keinginannya yang menggebu untuk mati muda. Dalam dunia yang penuh dengan hipokrasi ini mati muda adalah anugrah, sebab berumur panjang berarti semakin lama berhadapan dengan hipokrasi. Mati muda bukan berarti keengganan untuk berhadapan dengan hipokrasi dan melawannya, hanya saja kita ini cuma manusia yang memiliki batas, yang memiliki segudang kelemahan….

 

Andai aku punya kekuatan, ingin rasanya kuhentikan putaran bumi ini sehingga semuanya berakhir, sehingga samsara sirna sebagaimana sirnanya bumi beserta manusia-manusianya yang serakah dan hipokrit !

 

Tuhan Jika Kau punya Cinta berilah aku sedikit saja kekuatan (kumohon !)

 

Tyan, 2-3 Juli 2007

-…jauh di dalam aku menjerit, menangis…-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s