Ironi Tentara Perdamaian

 Kemarin saya mendapati sebuah statsiun televisi menampilkan program seputar informasi dunia kemiliteran. Acara yang menampilkan teknologi militer terkini, profil pasukan, serta segambreng kemegahan-kemegahan militer lainnya yang hingga kini -setelah runtuhnya rezim militer ORBA- masih tetap digandrungi banyak orang. Agaknya konstruksi Rezim ORBA bahwa tentara adalah “manusia sempurna” masih tetap bercokol di benak banyak orang di negeri ini. Konstruksi yang membuat gadis-gadis di masa ORBA lebih tertarik pada pria berpotongan lango : Dada bidang, perut datar, badan tegak, plus kepala plontos. Kebetulan profil pasukan yang ditampilkan adalah profil Pasukan Garuda yang kesekian (entah yang keberapa, saya tidak terlalu tertarik dengan gosip soal tentara). yang membuat saya tercengang adalah tagline pasukan tersebut : PASUKAN GARUDA MENJAGA PERDAMAIAN. HAH?????? dalam hati saya bertanya-tanya bagaimana mungkin tentara menjadi penjaga perdamaian? sungguh ironis, apakah perdamaian bisa diwujudkan oleh orang-orang yang lebih terlatih menarik pucuk senapan ketimbang menarik akal sehat dalam kergaman yang demokratis. Mungkinkah perdamaian diwujudkan oleh mereka yang lebih menerima keseragaman komando ketimbang pluralisme yang berwarna? hhhh….ironi ini membuat saya tertawa sekaligus sedih. Saya mentertawakan mereka yang dengan bangganya menyanyikan yel korps dan berseru tentang tugas mulia menjaga perdamaian tanpa tahu sebenarnya merekalah (plus perwira-perira dan politisi biadab) yang justru membuat dunia zonder kedamaian. Disisi lain saya juga menangis…entahlah apakah doktrin “si vis pacem para bellum” (siapa yang ingin kedamaian maka ia harus siap berperang) itu memang benar adanya…apakah harga kedamaian sebegitu mahalnya sehingga kita harus mengorbankan kedamaian orang lain yang mungkin memiliki gagasan  berbeda dengan mainstream…lantas memeranginya atas nama perdamaian?hhhhh Muak melihat tanyangan TV itu saya beranjak ke kamar adik saya…dan apa yang saya temukan? Adik bungsu saya sedang asyik mengotak-atik tuts komputernya memainkan game yang baru diinstalnya, sekilas saya melihat judulnya : Call of Duty 4 ;  a modern warfare…….GILA!!!! bahkan sampai ke dunia permaina  digital-pun tentara masih berkuasa. Ahhhhh..sudahlah memikirkan ini membuat saya muak…. tiba-tiba saya teringat fragmen dalam sebuah episode sinetron fiksi anak-anak waktu bulan puasa silam : “Setelah mengoprasikan mesin waktu-nya Pak haji dan zidan terdampar di masa empu gandring. mereka berdua bertemu dengan sang empu yang sedang berteriak : Keris ini aku ciptakan untuk PERDAMAIAN ! lantas dengan polosnya zidan menyahut : “berarti kerisnya gak boleh di pake dong?”…sang empu heran dengan celotehan anak ini, lalu di jawab dengan ketus “Ya boleh….” katanya “Pokoknya keris ini aku ciptakan untuk perdamaian…PER-DA-MAI-AN” katanya berteriak sambil menegaskan. Zidan dan pak haji kembali ke masa depan, sementara sang empu yang berharap kerisnya menciptakan perdamaian justru tewas dibunuh oleh seorang begal yang menusukan “keris perdamaian” sang empu, tepat ke jantungnya…keris perdamaian telah memulai tragedi yang memilukan di tanah jawa ini sebuah episode balas dendam yang penuh darah dan intrik…semua berasal dari impian sang empu yang berharap menciptakan PERDAMAIAN dari sebilah keris….PERDAMAIAN !!!” Hhhhhhhh ironis……

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s