Perempuan-perempuan Bumi Manusia (bagian 1)

Sekilas tentang Pram

Sudah lama saya ingin menulis tentang Novel legendaris karya Pram (Pramoedya Ananta Toer), Bumi manusia. Tetralogi luar biasa karya sastrawan unik yang menyebut dirinya sebagai seorang Pram-is alih alih sebagai seorang komunis seperti yang disangka kebanyakan orang. Ya Pram memang unik. Kalau kata Sobron Aidit (sastrawan adik ketua CC PKI DN Aidit, sekarang tinggal di Belanda) Pram adalah sastrawan tanpa panglima. Sebagian orang pasti mengaitkan PKI dengan dirinya, mengingat saat masa jaya PKI dulu Pram memang tergabung dengan LEKRA (Lembaga Kebudayaan Rakyat) sebuah organsasi underbouw PKI di bidang kesusasteraan. LEKRA yang mengagung-agungkan realisme sosialis itu sempat bersitegang dengan kelompok Mnifest Kebudayaan (Manikebu), kelompok sastrawan lain dari kubu sebelah “kanan” dan Pram terlibat dalam perseturuan itu. Bahkan dalam sebuh kesempatan  jauh setelah konflik di pertengahan 60an itu, Pram dan Taufiq Ismail (salah seorang tokoh Manikebu) terlihat masih beradu urat syaraf dalam sebuah diskusi sastra yang mempertemukan mereka dalam sebuah forum di UI awal tahun 2000 silam.

 

Meski kental warna kiri-nya, Pram tidak pernah merasa menjadi bagian dari struktur hierarki dan komando  PKI meski ia termasuk orang yang di-Buru-kan pasca dibubarkanya PKI. Setidaknya itu yang bisa kita simpulkan jika  kita merefresh ingatan kita saat Pram menerima Ramon Magsaysay award beberapa tahun lalu. Meski sudah diingatkan oreh Wartheim ,seorang sastrawan kiri asal Belanda, bahwa hadiah itu berasal dari donasi negara dan group-group kapitalis-imperialis, Pram tetap melenggang kangkung menerima penghargaan tersebut. Atau jika kita membuka kembali lembaran sejarah saat Pram dikabarkan menolak merevisi naskah pidato pembukaan dalam sebuah kongres LEKRA di Bali medio 60an, meski perintah revisi itu berasal dari DN Aidit sang Ketua CC PKI sendiri. Kekeuh-nya Pram ini sempat membuat Nyoto, seorang anggota Politbiro, kalang kabut sebab keras kepala-nya Pram ini bisa membuat sang ketua marah besar. Yah itulah Pram dengan gaya-nya yang khas, dengan karakter-nya yang unik, yang karya-karanya harusnya sudah lebih dari cukup untuk menghantarkannya meraih anugrah Nobel jika saja pemerintah mau mendukungnya secara politis untuk meraih penghargaan bergengsi tersebut.

 

Bumi Manusia adalah magnum opus, karya besar Pram yang ditulis saat ia berada di Pulau Buru bersama ribuan orang lainnya yang dituduh menjadi anggota partai terlarang (PKI) pasca dijatuhkannya Soekarno oleh Jend Soeharto dalam sebuah silent coup (kudeta diam-diam). Dalam pembuangnnya itu, sebagaimana diceritakan oleh Hersri Setiawan dalam Memor Pulau Buru, Pram dan ribuan orang lain yang di-Buru-kan itu mengalami tindakan-tindakan yang sangat tidak manusiawi. Mulai dari tempat tinggal yang jauh dari layak,  fasilitas kesehatan dan sanitasi yang buruk, kerja paksa,  hingga siksaan siksaan yang datang bertubi-tubi bila para interniran itu dianggap melanggar aturan yang kadang dibuat-buat oleh para serdadu penjaga. Pram bahkan mengalami degradasi kemampuan mendengarnya, karena pukulan popor senapan serdadu yang menjaganya di Pulau Buru. Perlakuan tidak manusiawi ini mendapat kecaman dari dunia internasional, bahkan Pram sendiri mendapatkan dukungan khusus yang datang dari sastarawan dunia. Hingga akhirnya pemerintah memperlunak perlakukan terhadap para tahanan Buru. Meski tidak banyak kondisi yang berubah, pasca mengalirnya kecaman itu Pram mulai mendapatkan perlakuan yang layak sebagai seoarang sastrawan. Pram diberikan fasilitas khusus berupa mesin tik dan alat tulis untuk menuangkan darah kata kesusateraan-nya. Dari mesin tik itulah Pram menelurkan karya-karya sastra cemerlang. Meski terkadang kedunguan sedadu yang tidak mengerti estetika dan keindahan sastra kerap kali membuat karya-karya cemerlang Pram raib begitu saja . Seperti naskah Panggil Aku Kartini Saja yang dibakar begitu saja oleh serdadu-serdadu dungu itu. Hal ini tentu sangat disayangkan, sebab faktor usia membuat Pram tidak mampu lagi mengingat secara utuh keseluruhan naskah tersebut, sehingga reproduksi karya itu sulit sekali dilakukan. Maka jadilah buku Panggil aku kartini saja hanya bisa kita baca jilid satu-nya saja dari tiga jilid yang dibuat Pram. Untungnya naskah Bumi Manusia luput dari kedunguan-kedungan seradadu itu, meski setelah pertama kali diterbitkan di awal 80an, tertalogi Bumi Manusia (yang juga dikenal sebagai tetralogi Pulau Buru) sempat dinyatakan dilarang beradar oleh Kejaksaan Agung. Beberapa buku yang beredar dipasaran ditarik kembali untuk dimusnahkan dengan alasan Tetralogi Bumi Manusia mengandung ajaran-ajaran komunis. Sebuah tuduhan tidak berdasar yang tidak pernah mamapu dibuktikan oleh para adhyaksa penegak hukum itu. Kondisi ini membuat tetralogi ini diedarkan secara indie, dipasarkan dari mulut ke mulut, beredar di bawah tanah sebagaimana pembacanya yang sebagian besar adalah aktivis-aktivis pro demkokrasi yang juga melakukan gerakan-gerakan bawah tanah menntang rezim militeristik Orde Baru.

 

Dulu jangan harap bisa membaca apalagi mengedarkan buku-buku Pram, anda bisa dtuduh subversive, mengancam ideology negara, bisa –bisa anda dibui karena dianggap anggtota partai terlarang. Untungnya kini anda tidak perlu takut membaca buku-buku Pram. Anda juga tidak perlu susah payah mencari buku-buku beliau. Hari gini gak mungkin anda di tangkap dan dituduh subversive karena membaca dan mengedarkan Bumi Manusia. Gak mungkin anda di bui cuma karena menulis resensi karya Pram di sebuah kolom Koran nasional, kecuali dalam resensi itu anda menyisipkan pesan implicit “Dasar S*Y dungu masa turunun harga kedele aja gak bisa, ngakunya Doktor Pertanian mana buktinya? , dasar Bull***t!!!!” hehe…. (lawan mode : on)

 

 

In memoriam :

Pramoedya Ananta Toer (wafat sehari menjelang perayaan hari buruh tahun 2006). Sayang sekali saya baru belakangan ini “mengenal” beliau (terimkasih atas kesedian saudari “L” yang meminjamkan saya tetralogi Bumi Manusia cetakan tahun 84, edisi  perdana alias edisi terlarang….hehehe). Ingin rasanya bertemu Pram, mendengar cerita dan pengalamannya serta membantunya menyelesaikan karya mulia sebuah enslikopedi tentang bangsa yang dicintainya, Enslikopedia Indonesia.

 

–bersambung–

2 Comments Add yours

  1. aku tunggu lanjutannya lhoh

    Like

  2. hohoemang situ mau tau apa dari tulisan sayatenang ajah….saya gak akan "memarginalkan" perempuan hehesebnarnya udah ada lanjutannya, cuman belum berani posting, harus disensor dulu (nyat ada yang marah hehe)

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s