Antara Soaherto dan Pinnochet : Kesamaan Mengerikan Dua Jenderal Penjagal

Masih ingat diktator Chili Jendral Augusto Pinnochet? Diktator bernama lengkap Augusto Jose Ramon Pinnochet Ugarte ini sempat menjadi headline media masaa internasional saat beberapa kali menghindar dari tuduhan atas kejahatan kemanusiaan  semasa ia berkuasa dulu. Setelah melarikan diri dari Chili ketika kekuasaan dan pamornya memudar, ia ditangkap di Spanyol di tahan di Inggris dan dikembalikan ke Chili pada Maret 2000. Di Chili, ia diadili sebagai penjahat kemanusiaan. Namun dengan alasan usia dan kesehatan,  sidangnya tidak dilanjutkan dan ia hanya dikenai tahanan rumah. Kasusnya juga semapt menjadi kontroversi sebab diktator itu justru mendapat dukungan ”moral” dari pemerintah AS dan Inggris. Dua Negara Barat yang kerap sesumbar soal penegakan HAM itu malah mendukung rezim berdarah Pinnochet. Bahkan eks Perdana Menteri Inggris Margareth Thatcher, si wanita besi yangh mempelopori era privatisasi badan-badan layanan publik di era gobalisasi ini, memberikan ucapan termakasih kepada Pinnochet yang dianggapnya membawa Chili ke arah yang lebih demokratis (gila !!!!!)

 

Jendaral penjagal itu sama sekali tidak tersentuh hukum. Kepulangannya dari Inggris (yang membebaskannya dari tuduhan kejahatan atas kemanusiaan karena alasan usia dan kesehatan) ke Chli disambut bagaikan pahlawan dengan iringan upacara dan band militer yang menyabutnya. Pinnochet yang dikabarkan sakit keras sehingga harus berada di atas kursi roda membuat kejutan saat kepulangannya itu. Bak seorang penipu ulung Pinnochet bangkit dari kursi roda, melambaikan tongkatnya di atas kepala dan kemudian bergegas merangkul jendarl-jendral pendukungnya yang menunggu di Bandara. Pinnochet yang kabarnya sakit keras dan dibebaskan dari tuduhan kejahatan atas kemanusiaan itu ternyata sehat dan bugar. Hingga akhir hayatnya pada 11 Desember 2006, Pinnochet tak sekalipun tersentuh hukum. The Butcher General, sang jendar penjagal mengukuhkan dirinya dari seorang diktator yang punya impunitas  menjadi The Untouchable Man !!!

 

Tidakah kita melihat persamaan Pinnochet dan Jendar Besar Soeharto?

Dari kemarin siang sampai detik ini televisi tak henti-hentinya menayangkan berita kematian Sang Jenderal. Sesekali sambil diiringi lagu Gugur Bunga gubahan Ismail Marzuki yang menghanyutkan itu, profil Sang Jendaral berulan kali ditayangkan. Membawa kita kembali pada masa kekuasaan Sang Jenderal saat ia berkuasa dulu. Sebagai dari kita mungkin terhanyut pada romantisme masa silam dan bisa jadi beberapa dari kita berujar dalam hati ”hidup emang lebih enak pas zaman pak Harto duku”. Setetalah teromabang-ambing antara hujatan penentangnya dan dukungan loyalis-loyalisnya, hari ini kembali menjadi pahlawan. Sebuah upacara militer disipkan untuk menghantrakan jenazah beliau, tembakan salvo diletupkan berkali-kali, iringan lagu syahdu mengiringi sang jendaral ke tempat peristirahatan terakhirnya. Sepert Pinnochet, di akhir hayatnya Soeharto merengkuh kembali pengakuan ”pahlawan” dari bangsanya, seperti Pinnochet, Soeharto menjadi The Untouchable !!!

 

Kalau ditelisik lebih jauh masih banyak persamaan antara dua Jendaral besar ini :

Pertama, keduanya adalah serdadu matra darat. Keduanya memperoleh pangkat tertinggi dalam karir kemiliteran. Soaharto bahkan dianugrahi gelar Jenderal Besar (bintang lima) bersama Panglima Soedirman dan AH Nasutionyang konon dalam sejarah dunia kemiliteran hanya pernah diberikan pada Pemimpin Pasukan Sekutu Jendral  Dwight Eisenhower.

 

Kedua, dua jenderal ini merebutmerasih posisi penguasa dengan jalan yang kontroversial. Pinnochet melakukan kudeta terhadap Presiden Salvador Allende, pemimpin yang sah hasil PEMILU yang demokratis. Kudeta sangat berdarah yang dilancarkan pada 11 September 1973 membawa Pinnochet pada posisi Presiden yang dikukuhkan pada 27 Jun 1974. Pinnochet yang membawa pasukannya menggempur istana presiden (La Moneda Palace), menghujaninya dengan bom (setidaknya 17 bom dijatuhkan dari udara) dari pesawat tempur dan berujung pada kematian Allende. Sebuah sumber sejarah militer menyebutkan bahwa sebenarnya Allende memeinta dilakukan gencatan senjata selama lima menit tapi nasib berkata lain, tangan dingin sang Jenderal menghantraklan Allende -presiden sah hasil PEMILU-menju kematian.

 

Semantara Soeharto bisa dibilang memperoleh kekuasaan lewat sebuah kudeta diam-diam (Silent Coup) lewat intrik politik dan konspirasi intelejen tingkat tinggi. Setidaknya itu yang dapat kita simpulkan dari berbagai sumber, yang lambat laun makin terkuak kebenarannya (Seperti indikasi keterlibatan CIA). Setelah dipercaya oleh Soekarno (presiden yang berkuasa saat itu) untuk memulihkan kemanan pasca G30S (yang juga masih diselubung misteri), Soeharto semakin mendesak posisi Soekarno. Puncaknya adalah peristiwa Surat Perintah Sebelas Maret yang sampai saat ini masih menjadi misteri. Dan dengan kematian Soahrto bisa jadi peristwa oenting ini akan menjadi mister terbesar sejarah kontemporer bangsa Indonesia. Soharto kemudian menjadi Pejabat Presiden sejak tahun 1967 dan terpilih lagi dalam PEMILU tahun 1971. Tebalnya selubung bkabut misteri perstiwa peralihan kekuasaan dari Soekarno ke Soahrto inilah yang membuat saya menyuebut langkah Soahrto sebagai sebuah kudeta diam-diam.

 

Ketiga, kedua Jendral ini menggulingkan pemerintahan yang dipimpin oleh seorang Presiden yang beparadigma progresif dan kebijakan-kebijakan yang populis serta cenderung ”kiri”. Salvador Allende bisa dibilang merupakan Kepala Negara berparadigma Marxist pertama yang terpilih secara demokratis lewat PEMILU (bukan lewat revolusi). Allenede yang berasal dari The Popular Unity sebuah partai aliansi kekuatan-kekuatan kiri dan progresif Chili menjadi presiden pada PEMILU tahun 1970. Sebagai seorang Marxist, arah kebijakan ekonomi-poltik Allende dapat ditebak bertiup ke arah mana. Sejak Allende berkuasa, pemerintah mengambil alih kepemilikan tambang tembaga dan perusahaan-perusahaan asing lainnya (nasionalisasi). Tahun 1971 dengan persetujuan bulat dari Kongres, Allende melakukan nasionalisasi penuh perusahaan tambang milik perusahaan Amerika Serikat, Kennecot and Annaconda.  Allende juga melakukan redistribusi lahan dengan land reform, Lahan yang sebelumnya hanya dikuasai segelintir orang saja segera didistribusikan kepada penghuni yang bekerja dan menggarap.

 

Sementara Sokarno, sejak tahun 1959 semakin mantap memposisikan dirisebagai pemimpin Negara dunia ketiga melawan hegemoni negara-negara kapitalis imperials, dan didalam negeri semakin mengokohkan diri sebagai pemimpin kharismatik berwawasan progresif. Pada masa kekuasaannya perusahaan-perusahaan asing milik Kerajaan Belanda di nasionalisasi untuk kepentingan rakyat. Sokarno juga melakuan revolusi total dalam sistem penguasaan tanah di Indonesia dengan mengesahkan Peraturan dasar pokok-poko Agraria (UU No 5 Tahun 1960) dan Undang-undang Land Reform (UU No 56 tahun 1960). Soekarno juga mengkampanyekan perlawanan terhadap kekuatan imperalis mulai dari mencerca negara-negara maju dan bantuannya lewat slogannya Go to hell with your aid, sampai kampanye perebutan kembali Papua Barat dari tangan Belanda, bahkan ia pun menggelar konfrontasi langsung dengan Negara Federasi Malaya yang dianggapnya sisa kekuatan feodal dan imperialis di kawasan Asia Tenggara.

 

Keempat, dalam upayanya merebut, menjalankan dan mempertahankan kekuasananya dua jenderal ini mendapatkan asistensi dari Amerika Serikat. Indonesia era 60an yang dipimpin Soekarno dan Chili era 70an yang dipimpin Allende tentu menjadi momok yang menakutkan bagi hegemoni Amerika Serikat dalam Perang Dingin dengan Uni Soviet. Dua Negara yang dimpimpin oleh politisi berparadigma kiri yang kebijakan ekonomi-politik nya tidak hanya mengancam eksistensi AS di perang Dingin tapi juga nberpengaruh terhadap kepentingan ekonomi AS. Allende dan Sokarno adalah dua pemimpin yang mempunyai track record ne-nasionalisasi perusahaan-perusahaan asing. Keduanya juga memiliki sikap tegas terhadap bantuan luar negeri (baca : Hutang) yang merupakan saran negara-negara imperialis mempertahankan hegemoninya di Negara-negara berkembang. Sikap populis kedua pemimpin ini tentu membuat AS berang dan sudah menjadi rahasia umum AS akan campaur tangan bila terdapat kepentingan-kepentingannya yang terancam. Pinnochet misalnya, sebagai oposan Allende ia mendapatkan support penuh dari CIA. Amerika serikat bahkan menajalankan politik lura negeri yang penuh ambivalensi pada Chili. Disatu sisi AS mmbekukan hubngan diplomatik dengan Chili, terutama sejak Allende menasionalisasi Kenneot&Annaconda. Tapi disis lain AS meningkatkan bantuan bagi militer Chili, elemen yang potensial melawan Allende.

 

Di Indonesia membuktikan keterlibatan CIA dalam peristiwa G30S sebagai bagaian dari silent coup Soeharto atas Soekarno sama sulitnya dengan mencari jarum dalam tumpukan jerami. Tetapi bila mengacu pada prinsip dasar teori konspirasi : siapa yang diuntungkan atas suatu peritiwa ? Maka bagi AS peristiwa G30S adalah peristiwa yang cukup menguntungkan kepentingan globalnya saat mereka harus menghadapi situasi politik Indonesia dekade 60an (Angkasa, 2007). AS yang dibuat ”panas” oleh Soekarno yang semakain dikhawatirkan merapat ke blok komunis itu tentu berharap agar Soekarno dan PKI segera dienyahkan. Apalgai jika melihat bahwa di kawasan Asia Tenggara, AS sudah mengalami kekalahan dengan berdirinya Republik sosialis Vietnam dimana AS kalah telak dari tentara merah Vietkong. Dari buku yang diterbitkan oleh DEPLU AS berjudul ”Foreign Relations of The US 1964-1968: Indonesia, Malaysia, Siangpore, Philphines” kita dapat mengira-ngira sejauh mana keterlibatan AS lewat telik sandinya (CIA) dalam peristiwa G30S. Dari buku itu pula konon kta dapat mendukga bahwa Marshall Green memerntahkan untuk dilakukan operasi klandestein unutk memfitnah dan menghabisi PKI. Salah satu indikasinya adalah perintah Green pada Robert J Marteens, Sekretatis Kedubes AS, untuk membuat daftar tokoh-tokoh PKI dan yang diduga terlibat PKI untuk kemudian diserahkan pada kelompok anti komunis di Indonesia untuk dimanfaatkan. Green juga dikabarkan meminta Washington menyeberluaskan proaganda anti komunis di Indonesia lewat siaran radi Voice of America, Radio Jakarta, dan Indo Press. Green jjga menyerahkan bantuan ribuan dollar Amerika Serikat pada Kesatuan Aksi Pengganjangan Gestapu guna mendukung kampanye anti komunis yang sistematis (Angkasa,2007). Soeharto bisa jadi merupakan ”our local army friends” yang diucapkan oleh Menhan AS saat itu George Mc Namarra pada Pejabat Kedubes AS George Bell.

 

Kelima, keterlibatan Amerika Serikat dalam dua kudeta yang dilancarkan dua jendral di dua negara bebeda itu semakin jelas terlihat seteleh mereka berkuasa dan mulai mengarahkan kendali perekonomian. Setakh berkuasa Pinnochet mendapatkan asistensi ekonomi dari sarjana sarjana ekonomi berhaluan neo-klasik lulusan Universitas Chicago yang kelak dikenal dengan sebutan The Chicago Boys. Berkat asistensi mereka-lah Pinnochet mantap membawa Chili pada rel Neo Liberalisme dan Sistem Pasar Bebas. Kebalikan dari Allende yang melakukan Nasionalisasi, Pinnochet justri gemar mem-privatisasi sektor-sektor publik yang sebelumnya dikuasai negara. Ia juga melakukan deregulasi perdagangan, menghapuskan ketentuan upah mnimum dan membubarkan serikat-serikat pekerja.

 

Tidak jauh bebeda dengan Pinnochet, Soeharto mendapatkan asistensi ekonomi juga dari ekonom-ekonomi lulusan AS yang kelak dikenal dengan sindikasi mafia Berleley (sebagain besar merupakan lulusan Berkeley). Maka dapat ditebak dibawa kearah mana perekonomian saat Soeharto berkuasa. Sejak awal kekuasaanya dimulai bahkan indkasi itu sudah tercium. Seolah sudah jauh direncanakan, Soharto yang saat itu masih belum resmi menjadi Presiden RI (saat itu ia masih berstatus Penjabat Persiden hingga Pemilu digelar)segera mengsahkan UU Penanaman Modal Asing (UU No 1 Tahun 1967), menyusul kemudian UU Pertambangan (UU no 11 tahun 1967). Dua peraturan inilah yang menjadi awal dari liberliasasi Indonesia dan menjadi awal berdatangannya korporasi asing yang mengeruk kekeyaan alam yang seharusnya dikuasai negara untuk sebesar-besar kemamuran rakyta. Tidak lama setelah dua peraturan ini dibentuk, Pemerintah mulai mengadakan pertemuan-pertemuan dengan Freeport Mc Moran terkat dengan rencana eksplorasi tambang di tanah Papua. Padahal saat itu Papua belum ”resmi” menjadi bagain dari RI (PPERA baru dilaksanakan tahun 1970). Soharto juga membawa Indonesia kembali pada skema-skema bantuan dan hutang lura negeri dari lembaga donor macam IMF dan World Bank, seperti yang dikatakan Sadli (salah seorang sindikat Mafia Berkeley) : Soeharto benar-benar membawa Indonesia kembali ke Barat.

 

Persamaan terakhir antara kedua jenderal itu adalah fobia belebihan pada kelompok komunis dan oposisi.  Segera setelah berkuasa Pinnoceht memburu mereka yang dianggap komunis dan menghabisi mereka tanpa ampun. Satu bulan setelah kudeta, rejim Pinnochet setidaknya telah membunuh lebih dari 40.000 tahanan yang ditembak di Stadion Nasional Chili yang kini menjadi monumen bisu saksi kebenmgisan sang Jenderal (Peristiwa yang terjadi pada Oktober 1973 ini kemudian dikenal sebagai Caravan of Death). Ratusan ribu orang hilang selama Pinnochet berkuasa, rejim tangan besi yang dijalankannya meninggalkan bekas luka mendalam hingga saat ini.

 

Soharto tidak jauh berbeda dengan Pinnochet, bebekal perntah memulihkan kemanan dan SUPERSEMAR dia seolah leluasa memerintahkan massa untuk melakukan pengganyangan terhadap orang-orang komunis atau mereka yang dicurigai komunis. Tanpa proses peradilan jutaan  orang dieksekusi mati mediao 65-66. Ribuan orang kemudian ditahan di Pulau Buru selama puluhan tahun tanpa melalui proses peradilan yang adil. Selama 32 tahun, Soeharto melukis kekuasaannya dengan warna darah.

 

Oya…tahukah anda? Kabarnya Pinnochet sangat terinpisrasi oleh Soeharto, hingga konon nama sandi operasi kudeta Allende diberi nama Operasi Jakarta. Percaya atau tidak bisa jadi kesamaan-kesamaan ini bukan Cuma kebetulan……who knows?

3 Comments Add yours

  1. Setelah kepergian soeharto..Pertanyaanya, akankah kebenaran sejarah akan terkuak mlalui pengadilan entah itu kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme dan isu pelanggaran HAM… Sepertinya, semakin terkubur dlm sejarah…

    Like

  2. akankah kebenaran terkuak? Saatnya bangsa ini memulai belajar untuk jujur dan berani mengatakan kebenaran..mari mulai dari diri kita !!!! Salam dan Tabik–Tak ada rekosiliasi tanpa pengungkapan kebenaran—

    Like

  3. Sejarah adalah hal yang harus terus digali dan dicari kebenaran hakiki beserta fakta dan data yang akurat, jadi sebaiknya kita telaah oleh masing-masing individu dulu terhadap data-data sementara yang baru kita dapat, sementara ini saksi mata (korban-korban soeharto ) yang masih hidup. KITA atau PEMERINTAH yang harus tegas atas penguak-kan saksi-saksi sejarah ini? Data sementara yang saya dapat jelas bahwa soeharto tidak lebih dari seorang dalang yang dimaintaince oleh CIA!!!!—Ganyang kroni2 dan isme2nya yang menjadikan negara kita terpuruk ini——

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s