Tentang Bekerja dan Pekerjaan

“Work in a socialist society is a right and duty

 and a source of pride for every citizen”

(article 44, The Constitution of the Republic Socialist of Cuba)

 Dalam salah satu episode dari film serial FIDEL terdapat sebuah fragmen menarik yang menggambarkan percakapan antara Che Guevara, Fidel Castro dan pemimpin gerilyawan lainnya setelah mereka berhasil menaklukan rezim Fulgencio Batista dan mulai menata pemerintahan seteleh mendeklarasikan revolusi yang mereka gelorakan sebagai sebuah revolusi sosialis.

 Che yang diberi kewarganegaraan Kuba dan kedudukan sebagai menteri peradagangan Kuba pasca kemenangan gemilang kaum gerilyawan, mengkritik arah kebijakan Castro dalam membangun tatanan Negara Sosialis. Che mengecam pola pendidikan Marxisme yang diajarkan kepada rakyat Kuba yang dianggapnya malah membuat rakyat enggan bekerja, petani enggan menggarap tanahnya, dan pedagang yang enggan menghidupkan pasar menjalankan roda perekonomian. Keengganan tersebut disebabkan paradigma keliru tentang konsep Negara Sosialis. Rakyat merasa tidak perlu lagi bersusah payah bekerja , membanting tulang, memeras keringat sebab toh dalam pandangan mereka pemerintah Sosialis pasti akan memenuhi semua kebutuhan-kebutuhan mereka. Apa perlunya bekerja jika semua kebutuhan sudah ada jatahnya, apa pentingnya bekerja jika dengan berdiam diri saja kebutuhan dasar mereka sudah dipenuhi oleh pemerintahan sosialis.

 Che menganggap yang seharusnya dilakukan oleh pemerintahan Sosialis pimpinan Castro adalah melakukan revolusi kebudayaan dan pola pikr sebelum berlanjut ke revolusi sistem ekonomi. Dengan adanya revolusi budaya Che berharap rakyat akan memahami peran sertanya dalam membangun  negara sosialis, rakyat memahami betapa pentingnya peran serta mereka dalam menjalankan roda perekonomian sosialis dengan bekerja. Membuat rakyat menyadari bahwa ada kebanggaan dalam melakukan pekerjaan.

 Dalam tinjauan dilosofisnya Marx memandang pekerjaan sebagai pernyataan diri manusia melalui objektivikasi. Ini berarti, dengan bekerja manusia akan mengolah alam semesta dengan cara mengubah objek-objek alamiah tersebut menjadi bentuk baru. Bentuk yang semula hanya ada dalam benak si pekerja diobjektivasikan menjadi wujud baru yang nyata, seperti sebatang pohon yang dirubah menjadi sebuah perahu. Dengan kata lain pekerjaan adalah sebuah aktivitas yang dengannya manusia memberikan nilai tambah pada suatu benda atau kegiatan. Dan dari konsep nilai tambah inilah Marx mengkoonsepsikan gagasan-gagasannya tentang keterasingan (alienasi) kelas pekerja dalam sistem kapitalis yang dihisap nilai tambah-yang dihasilkannya. karena kepemilikan faktor produksi berada ditangan segelintir orang saja. Keuntungan didapatkan oleh mereka yang tidak bekerja, oleh mereka yang jumlahnya lebih sedikit, mereka yang memiliki kuasa atas faktor-faktor produksi.

Labor est etiam ipse voluptas (Kerja itu sendiri adalah sebuah kenikmatan)….benarkah?

Beberapa hari ini saya kembali (sebab ini bukan pertama kalinya) memikirkan tentang apa yang akan saya lakukan setelah saya lulus dari kampus nantinya. Untuk kesekian kalinya saya saya berfiir “mau jadi apa gw setelah lulus”. Pertanyaan yang terus menghantui diri saya, bahkan dalam kesendirian pertanyaan ini mampu membuat saya diam, menangis.

Ada sesuatu yang mengganjal dalam diri saya saat membicarakan pekerjaan dan bekerja. Di satu sisi saya harus mengakui bahwa untuk menopang kehidupan saya kelak plus mimpi-mimpi besar yang entah kenapa terus berputar-putar di batok kepala 500-an cc ini, saya harus memiliki kemapanan finansial. Dan untuk mencapai kondisi itu mau tidak mau saya harus memiliki pekerjaan, yang dengannya saya bisa mendulang rupiah, setidaknya untuk biaya bertahan hidup. Namun disisi lain banyak hal yang membuat saya menjadi takut.

Saya khawatir bekerja akan membuat saya menjadi orang yang mudah melakukan apologi-apologi yang mungkin tanpa saya sadari akan mengurangi takaran idealisme yang saya yakini. Sebagian orang mungkin tidak ada masalah jika harus bekerja di perusahaan-perusahaan multinasional pertambangan yang mengeruk kekayaan alam dari perut bumi Nusantara secara tidak adil (melalui rekayasa kontrak karya misalnya), yang aktivitasnya membunuh secara sistematis masyarakat adat dan secara perlahan menghancurkan peradaban dan sistem kehidupan mereka. Sebagian orang mungkin tidak memiliki masalah jika harus menjadi profesional meski untuk itu ia harus menanggalkan dahulu nuraninya sebab nurani seorang profesional (terutama dalam disiplin ilmu yang saya geluti) ditentukan dari berapa besar rupiah yang telah disepakati dengan klien yang “menyewa” jasanya.

Memikirkan apa yang akan saya kerjakan kelak membuat saya khawatir. Membuat saya takut. Membuat saya ingin menangis sejadi-jadinya.

Sungguh saya khawatir menjadi seperti apa yang dikatakan oleh Julien Benda sebagai La Trashion des Clercs, sebagai seorang pengkhianat inteklektual. Atau dalam bahasa yang lebih sarkastis a la Soe Hok Gie : Pelacur intelektual, sebagaimana yang ia  ditujukan pada intelektual-intelektual kampus UI yang merapat pada kekuasaan sesaat setelah runtuhnya Soekarno. Memikirkan ini membuat saya khawatir….

Di satu sisi saya ingn selamanya menjadi seorang yang merdeka, menjadi seorang idealis. Namun disisi lain saya dibenturkan dengan kebutuhan-kebutuhan pragmatis.

Sungguh saya takut, jika suatu saat saya semakin mudah melakukan apologi-apologi saat terjadi perbenturan itu.

Saya takut kelak saya tidak akan melihat diri saya lagi saat menatap cermin.

Saya takut jika kelak saya akan melihat sosok yang berbeda disana. Sungguh !

“work was like a stick. It had two ends. When you worked for the knowing you gave them quality, when you worked for a fool you simply gave him eye wash”

(Alexander Solzhenitsyn, One day in the live of Ivan Denisovich)

151207, 03 : 06wib

Tyan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s